Note#2: Travelling : Menjejak Bumi Allah yang Lain

Siapa yang suka travelling?

Saya suka. Banget.

Baru tau kalau suka itu pas sudah nikah dengan suami. Soalnya kalau dulu travelling keluarga seperti rutinitas, selalu sambil libur lebaran, sambil mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur -kampung halaman ayah dan mamah.

Travelling keluarga dilakukan diantara perjalanan dari Bandung, Pekalongan dan Pasuruan. Pernah lanjut ke Malang, lain tahun lanjut ke Bali. Saya tinggal mengikuti agenda yang disiapkan orang tua.

Setelah menikah, suami sempat bertanya, apakah saya mempunyai tempat yang diinginkan untuk dikunjungi? Maklum, masih pengantin baru, masa taaruf. Saya menduga apa akan diajak honeymoon kemana ya, hehe.. Bercanda. Saya cukup faham,  saat kami berdua menikah dahulu, kami masih sama-sama berstatus mahasiswa S1. Kejar setoran menyelesaikan tugas akhir. Boro-boro memikirkan bulan madu. Budget masih terbatas pula.

Tapi saya ingat sekali jawaban saya: ingin sekali ke Mekkah. Ingin merasakan pertama kali naik pesawat itu ya ke Mekkah. Bukan kemana-mana.

Suami pun dulu mengangguk setuju. Kami berdua punya mimpi yang sama. Maka kami sepakat membuka tabungan haji. Seru rasanya mengingat masa itu, pasangan muda menikah dini dengan mimpi yang besar. 

Tapi Allah yang Maha Besar mampu berbuat apapun. Alhamdulillah di tahun ke 5 pernikahan, kami ditakdirkan berangkat haji reguler dengan menitipkan dua orang balita pada orang tua saya yang Alhamdulillah sudah berhaji sejak dulu dan sangat mendukung kami untuk berangkat. 

“Anak itu amanah Allah. Titipkan saja sama Allah. Kalian yang khusyu ibadah di sana. Doa yang banyak untuk anak-anak. Tenang saja jangan banyak pikiran, insya Allah mamah jaga” duh, mamahku yang super solihah selalu memberi banyak ilmu dan contoh bagi anaknya ini

Maka tahun 2007 kami berdua sama-sama pertama kali naik pesawat dan sama-sama menuju Mekkah. Betapa banyak air mata yang mengalir deras menggambarkan keharuan yang sangat atas rindu yang terpendam lama.

Mekkah Madinah, kami datang.

Menjejak tapak-tapak Nabiyullah tercinta. Dan sungguh, itu adalah perjalanan yang sangat ingin kami ulangi lagi kelak. Sebagai perjalanan umroh tentunya. Karena berhaji adalah kewajiban satu kali seumur hidup. Selayaknya kita merasa cukup dengan itu dan mendahulukan saudara lain yang belum berkesempatan berhaji.

Setelah haji itu alhamdulillah kami bisa berkesempatan menjejak bumi Allah yang lain : Malaysia, Singapura bahkan 11 negara di Eropa dan juga dataran Cina. Tapi semua perjalanan itu tidak ada yang membuat candu layaknya ke tanah haram.

Alhamdulillah tahun 2011 Allah izinkan saya dan suami kembali untuk berumroh di penghujung ramadhan sambil itikaf di masjid Nabawi Madinah dan berlebaran di sana. 10 hari penuh itikaf di masjid, tidak ada tidur di hotel. Anak-anak lagi-lagi dititipkan di kakek neneknya. 

Ya Allah semoga kelak saya pun bisa mencontoh jejak ayah mamah yang selalu mendukung anaknya untuk bisa beribadah. Mohon maaf merepotkan selalu ya ayah, mamah…

Alhamdulillah orang tua saya juga diberi kecukupan rezeki hingga bisa berulang kali umroh pada beberapa kesempatan. Maka mereka sangat berbahagia jika ada anaknya yang mau berangkat ke tanah suci dengan hasil tabungan sendiri. Mata mamah selalu berkaca-kaca setiap mendengar kabar bahagia dari kami.

Tahun 2013 kami diizinkan kembali ke tanah suci pada bulan Ramadhan. Kali ini itikafnya di masjidil haram. Sungguh nikmat tak terkira. Subhanallah wal hamdulillah

Lalu kemudian tahun 2015 selepas melahirkan, saya mulai merasakan lagi kerinduan pada tanah suci dan sangat ingin bisa diundang kembali ke sana, tetapi tentu saja dengan anak kami yang 4 (empat) orang, serta ayah dan mamah yang bertugas di luar negeri, membuat saya tidak memiliki tempat lagi yang bisa dititipi anak #eh

Maka mimpi berangkat umroh haruslah membawa satu pasukan yang mana tentunya akan membongkar celengan amat dalam sampai ke dasar.

Pada suatu waktu, mata saya tertahan pada postingan facebook seorang teman yang menshare album perjalanan umroh sebuah keluarga lengkap dengan balita ala backpacker, alias umroh mandiri tidak menggunakan jasa travel alias lebih hemat sodara-sodaraaa !!

Maka saya langsung mencari kontak personnya untuk mendapatkan informasi terkait mekanisme dan rencana keberangkatan. Saya berdoa kuat-kuat agar Allah izinkan rindu ini akan segera kembali berlabuh.

Bersambung..

#note2#ODOPfor99days

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s