Note#1: Suka Membaca Apakah Harus Juga Suka Menulis?

Alhamdulillah awal tahun ini, Rumah Belajar Menulis- Institut Ibu Profesional membuka gelombang baru pendaftaran peserta ODOP for 99days. One Day One Post, komunitas menulis rutin selama 99 hari. Saya langsung menguatkan hati untuk segera mendaftar. Bismillaah.

Saya ingin belajar menulis, bisa konsisten menulis dan menjadikan menulis sebagai kebiasaan baik yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sejak kecil saya sangat suka membaca. Buku-buku petualangan Enid Blyton macam Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu sukses membuat saya ketagihan membaca. Saya seolah berada di dunia lain yang menyenangkan. Masa remaja sayapun dilalui dengan melalap berbagai buku lainnya yang kebanyakan bergenre petualangan.

Saat mulai kuliah, buku Harry Potter mulai terbit masuk ke Indonesia, dan tentunya langsung menyihir saya untuk jatuh cinta dan menanti setiap penerbitan jilid selanjutnya. Daya imajinasi JK.Rowling yang dahsyat benar-benar membuat saya terpukau. Dari mana dia mendapatkan semua ide cemerlang itu? Dengan berbagai tokoh dan tempat dan peristiwa, tetapi teramu apik membius pembacanya. Seketika saya sangat ingin menjadi seorang penulis!!

Sebetulnya saat SMP saya pernah menjuarai lomba karya ilmiah mewakili sekolah. Kemudian karena saya pun rutin berlangganan majalah remaja, maka saya sempat membuat cerpen tentang remaja yang saya tulis di buku tulis, di sela-sela jam sekolah saat guru belum masuk kelas. Beberapa teman sempat membacanya dan meminta saya melanjutkan cerpen-cerpen itu hingga tamat. Maka buku tulis cerpen saya pun beredar di penjuru kelas, tanpa saya berminat sedikitpun untuk mengirimkannya ke redaksi majalah manapun. Saya lebih menikmati karya menulis saya seorang diri, kalaupun ada yang ingin membaca, hanya untuk teman terbatas saya.

Tapi begitu masuk SMU dan kuliah, dengan aktivitas yang semakin padat, saya kehilangan waktu menulis saya. Dan saya pun merasa kehilangan ide menulis. JK. Rowling membuat saya penasaran dengan dunia menulis.

Apakah kesukaan membaca harus dibarengi dengan kesukaan menulis? Setelah berumah tangga dan menjadi ibu dari 4 (empat) orang anak seperti saat ini, saya merasa budaya literasi haruslah dikuasai sejak anak usia sekolah. Menulis jelas membantu kita mengikat makna atas pemahaman kita. Menulis akan menguji secara efektif pemahaman kita akan sesuatu hal. Setelah anak kita membaca sebuah bukui favoritnya, alangkah baiknya jika kita latih dia untuk menuliskan kembali cerita tersebut ala dia. Ini akan mengembangkan kemampuan bahasanya, baik menambah kosakata maupun mengajarkan untuk menyampaikan sesuatu secara runut. Saat saya meminta anak saya untuk menguasai kemampuan dasar ini, maka alangkah baiknya saya sebagai ibunya memberi tauladan lebih dahulu dengan bersemangat juga untuk belajar menulis. Karena membaca dan menulis adalah aktivitas yang seyogianya tidak terpisahkan. Satu sama lainnya saling memperkaya dan melejitkan kemampuan berbahasa kita. Hal yang sangat diperlukan bagi manusia sebagai makhluk sosial.

Maka disinilah saya sekarang, bergabung dalam komunitas pembelajar hebat. Semoga Allah beri kekuatan agar dapat istiqomah menulis. Menjadikan menulis sebagai kebutuhan dasar saya. Selain untuk mengasah kemampuan berbahasa, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menebar manfaat bagi ummat. Menjadi sebaik-baiknya manusia. Aamiin ya Rabba’aalamiin

#note01#ODOPfor99days

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s