mindfulness parenting

​🌞🌸Resume KullWap Mindfulness Parenting IIP [Institut Ibu Profesional] Bandung🌸🌞
↪Tgl. 9 Oktober 2016↩

MINDFULNESS PARENTING: MENGASUH ANAK DENGAN KETERAMPILAN MENGELOLA EMOSI-EMOSI NEGATIF

Nara Sumber: Pak Supriyatno [Penulis, praktisi kesehatan jiwa, pekerja sosial]
Moderator: Ai Santiani
Notulen: Nurul Muhsinah 
💫 Pendahuluan
Mohon menjawab pertanyaan2 di bawah ini:
1. Apakah pernah mendengar tentang Mindfulness Parenting?

2. Apa yang Anda ketahui tentang parenting secara umum?

3. Mengapa Anda tertarik ikut kulwap ini? Apa yang Anda harapkan dari kulwap  ini?

4. Apakah problem pengasuhan yang Anda alami saat ini?

– 4a. Anda frustasi dalam mengasuh anak karena kejadian seperti marah atau memukul anak sering terulang lagi.

– 4b. Anda frustasi menerapkan ilmu2 pengasuhan yang sudah Anda dapatkan dan berakhir dengan kemarahan pada anak.

– 4c.  Anda menghakimi atau mengutuk diri sendiri, dan merasa gagal sebagai ibu.
Sebutkan problem pengasuhan Anda yang lainnya _______
Yang dilakukan banyak orang tua adalah mencari cara-cara bagaimana memperlakukan anak. Harus begini dan begitu. Gak boleh begini dan begitu, seolah masalah ada pada diri anak. Intinya, fokus bagaimana MENGUBAH anak.

Tetapi tidak banyak orang tua yang menjalani cara MINDFULNESS PARENTING, dimana fokus utamanya adalah orang tua. Kesulitan-kesulitan emosional atau trauma orang tua adalah faktor utama banyak orang tua sulit menerapkan pengasuhan yang baik pada anak. Contoh, kemarahan yang tak terkendali membuat orang tua sering menyesal apa yang telah dilakukan pada anak, tetapi kejadian yang sama berulang kembali. Hasilnya, orang tua membenci dirinya sendiri dan memberi label negatif semacam ‘Saya ibu yang buruk bagi anak-anak.’

Lihatlah cerita berikut dari salah satu orang tua yang menerapkan mindfulness parenting.
“Seminggu ini saya mulai lega dalam pengasuhan. Biasanya pagi-pagi saya sudah merasa terbebani duluan….leher tegang tiap hari khawatir berantem lagi sama anak saya yang masih 3 tahunan. Tersiksalah pokoknya. Mungkin anak saya sadar, saya tidak enjoy dengan dia. Maklumlah awalnya saya berkarir, kini jadi IRT. Kalau lagi sama anak saya, saya tidak hadir sepenuhnya dalam jiwa saya. Mikirkan kerjaan, ini itu…tak terhubung dengan diri sendiri.
Sekarang dua kali sudah saat anak saya menangis, saya mindfulness dan tidak merasakan lagi kalau suara tangisan dia itu adalah gangguan. Biasanya saya stres dan tidak bisa menahan diri untuk…..(tidak bisa diucapkan dengan kata-kata). Sekarang, saya sukses (masya Allah alhamdulillah) keluarkan emosi anak, dan berkata, “lewatilah nak prosesnya…kau akan lebih kuat…bunda ikhlas dan sabar menemanimu,” sambil tersenyum dalam hati. Umpan balik yang saya dapat adalah saya juga lebih bahagia. Biasanya ngajak saya maiiinnn terus sampe kerjaan saya tidak selesai (ini pemicu sy stres). Sekarang anak saya mengembangkan dirinya sendiri (mungkin karena dia tahu saya menerima dia apa adanya). Dia mau main sendiri, lebih punya pemakluman terhadap saya. Tidak marah-marah lagi,dll. Komunikasi kami sekarang sehat. Tapi mindfulnya tetap harus ditingkatkan karena saya sadar sangat mudah terusik jika ada gangguan. ”
Banyak orang tua menghakimi dirinya sendiri untuk apa yang mereka nilai sebagai kegagalan mengasuh anak dengan benar atau untuk kesulitan-kesulitan yang terjadi pada anak mereka. Di Mindfulness Academy, orang tua akan belajar menjadi lebih hadir dengan semua pengalaman mereka – baik positif dan negatif, mengenali, dan menerimanya. Ketika kita dapat mengenali reaksi-reaksi kita dalam pengasuhan dan menerima reaksi-reaksi tersebut sebagaimana adanya, kita dapat bersikap lebih ramah dan mengasihi pada diri kita sendiri dan anak-anak kita. Sebaliknya, ketika kita dapat menerima situasi kita dan melihatnya lebih jernih, kita akan lebih mampu membuat perubahan.
Kami mengamati bagaimana sebuah situasi penuh tekanan dalam antara orang tua dan anak dapat menciptakan interaksi yang sangat emosional, mungkin Anda memukul atau mencubit anak dan setelahnnya menyesal. Karakter khusus dari interaksi ini cepat, otomatis, dan sering dengan reaksi kemarahan termasuk meningkatnya konflik antara orang tua dan anak. Banyak orang tua menjabarkan interaksi ini sebagai “hilang kendali” dengan anak dan setelahnya merasa menyesal dan malu karena tidak mampu mengendalikan diri mereka dan telah berindak dengan cara yang buruk pada anak mereka. 
Sudah jelas di sini emosi orang tua terpicu oleh sesuatu saat interaksi dengan anak. Orang tua bereaksi dengan cepat, otomatis, dan dengan emosi yang kuat. Hal ini kemudian menyebabkan anak marah dan sakit hati, yang selanjutnya meningkatkan emosi-emosi negatif yang kuat.
Di Mindfulness Parenting, orang tua belajar mempraktikkan teknik mindfulness parenting pada diri mereka sendiri dan dalam pengalaman pengasuhan anak-anak mereka.

🌟Tanya Jawab Kulwap MA IIP🌟

💥9 Oktober 2016💥
👋🇦

Alhamdulillah sy tdk pernah mengalami problem pengasuhan sebelumnya. Tapi sekarang ini smenjak punya anak ABG dan mulai baligh (laki2) banyak kekhawatiran sy mengenai lingkungan diluar sana yg menginfluence perkembangan anak sy. Bgmn pola parenting yg baik utk anak sy di fase spt ini? Shg sy tidak berasa khawatir berlebihan. Dan meyakinkan sy bhw pola yg sdh sy terapkan slama ini akan terus meluruskan dia.

📌🎯 Jawaban:
Saya mau balik tanya ke ibu, kalau ibu sudah merasa benar dalam mengasuh anak dan tidak ada problem pengasuhan, mengapa harus khawatir dengan pengaruh luar? Apakah  ibu tahu jika anak ibu punya kepercayaan diri dan memegang prinsip? Jika ada kualitas itu, ibu gak perlu khawatir karena anak ibu sudah punya pondasi yang kuat. 

Maka di sini yang perlu diberi perhatian justru ibu yang mungkin khawatir berlebihan. Ibu harus menangani kecemasan ini supaya mampu memberi kepercayaan pada anak. Kadang akan membantu menenangkan diri kita jika kita berkaca pada pengalaman diri kita sendiri bagaimana kita dulu melewati masa remaja kita, mencari cara2, berbuat salah dan belajar dari kesalahan dan kita bisa survive hingga saat ini.
🎈🎈🎈
👋🇧
Saya masih satu rumah dg mertua, ktka anak kdua rewel, beliau ikut2 an memarahi, dan karena tdk trma, kadang sya jg akhirny ikut memarahi…bgmn sya hrs bersikap, baik ke mertua atw ke anak2?
📌🎯 Jawaban:
Masalah yang dihadapi mbak yaitu ketidakmampuan mengendalikan emosi marah sehingga reaksinya autopilot parenting, bereaksi marah, membentak, mencubit, atau memukul, tanpa bisa dikendalikan. 

Terlepas apakah Anda punya problem trauma masa kecil, setidaknya 3 keterampilan berikut harus dimiliki agar tidak lagi melakukan autopilot parennting:

1. Body scan. Tujuannya utk mengenali kemunculan stres lebih awal melalui sensasi2 tubuh.

2. Beginner’s Mind. Tujuannyan orang tua mampu melepaskan label2 dan penilaian2 terhadap anak. Contoh: kalau orang tua melabeli anak dgn “sulit,” orang tua akan memandang anaknya selalu menyulitkan. Menjadikan orang tua tidak melihat anak dari sisi lain. Tidak melihat kualitas lain dari anak.

3. Pause. Ini keterampilan untuk berhenti sejenak setelah merasakan akan munculnya stres yg dibaca melalui sensasi2 tubuh. 

4. Menerapkan teknik pernapasan utk menenangkan diri. Bukan menahan marah. Tapi melepaskan kemarahan sehingga tidak disimpan di tubuh.

5. Setelah orang tua tenang, dia kemudian merespon. Pengetahuan parenting yg pernah didapat dapat diterapkan jika orang tua sdh terampil menangani dirinya sendiri.
Kalau sudah mampu merespon anak dgn lebih tenang dan tidak ada kemarahan, mertua pasti lebih percaya pada Anda dalam menangani anak.
🎈🎈🎈

👋🇨

Sy mau bertanya, bgm mengatasi trauma pengasuhan masa lalu, saat ini sy juga masih serumah dgn orgtua dmana ada nenek saya jg di dlmnya…pola asuh yg berbeda yg sering membuat sy stress sendiri dan tdk jarang mmbuat sy emosi…bgm mengatasinya pak..terimakasih
📌🎯Jawaban:
Pola asuh yang berbeda ( ayah, ibu, orang tua, nenek) akan membingungkan anak, mana yang akan dia ambil sebagai contoh. Kasihan anaknya dengan kondisi ini. 
Jika suami juga memberi perhatian besar kepada pengasuhan anak, ada baiknya Anda dan suami tinggal terpisah dengan orang tua dan nenek sehingga anak mendapatkan satu contoh pengasuhan buat bekal dia nanti dewasa. Logikanya: Anda saja trauma dengan gaya pengasuhan orang tua, demikian juga yg akan dialami anak Anda. Mohon maaf saran saya tidak melihat informasi lebih lengkap dari situasi Anda. 

🎈🎈🎈

👋🇩
Problemnya masih dari saya pribadi. Belum dapat maksimal mendidik anak karena bekerja. Tapi terkadang bingung dengan penerapan yang berujung anak rewel. Mungkin saya kurang sabar.
Pertanyaan:
1. Bagaimana sikap orangtua kalau anak usia 2,5 tahun sedang rewel karna hal yang tidak ingin dilakukannya dan membuat orangtua kesal? Apakah didiamkan saja (ini yang selama ini saya lakukan), dituruti kemauannya, atau bagaimana? Pertanyaan klise, tapi saya takut anak trauma atau dia sakit  hatinya karena saya marah/kecewa.

2. Kalau ustad sendiri, bagaimana pola pengasuhan ke anak perempuan? Terutama saat usianya 2.5th. kaitannya dengan peran ayah saat anak usia ini.

📌🎯 Jawaban:

1. Di Mindfulness Parenting ada peserta yang punya peran ganda: sebagai IRT dan wanita bekerja. Ditambah tidak ada dukungan dari suami karena LDR. Awalnya sama seperti kasus ibu2 yg autopilot parenting, ketika stres menghadapi anak, dia marah atau pukul anak. 
Namun setelah mengikuti MP dengan formula yang saya jelaskan kepada🇧, dia mampu bereaksi terhadap situasi stres dalam pengasuhan. 
Dari pengalaman peserta ini, tidak masalah untuk para ibu yang punya peran ganda di keluarga. Tetapi tentu saja lebih menantang dibandingkan ibu2 yang full IRT.
2. Anak saya besar2. Perempuan,18thn dan 15 thn. Dulu saya belum tahu ada metoda pengasuhan dengan mindfulness. Pada anak pertama, ya saya dulu juga melakukan autopilot parenting. Namun pada anak kedua, saya tidak melakukannya lagi. Problem saya waktu itu perfeksionis. Alhamdulillah saat ini tidak ada masalah pada anak2 saya. 

🎈🎈🎈
👋🇪

Masalah saya saat ini adalah kemarahan pada orangtua saya karena ada sifat2 beliau yg tidak saya sukai tetapi menjadi sifat saya saat ini (kadang berguna, tapi seringkali membuat saya membenci diri sendiri). Sifat2 ini mempengaruhi pola pengasuhan saat saya kecil. Saya tidak ingin pola ini berulang pada anak saya. Kemarahan ini juga menghasilkan sikap negatif yang semakin sering muncul karena saya masih tinggal bersama orangtua (beberapa kali saya lihat orangtua berusaha menerapkan pola pengasuhan saat saya kecil kepada anak saya).

Bagaimana saya mengatasi masalah ini? Beberapa kali saya coba afirmasi diri tapi belum berhasil. Saya tidak ingin menjadi contoh negatif untuk anak saya.

📌🎯 Jawaban:

Kasusnya hampir sama dengan 🇨. Karena itu saran saya, jika memungkinkan tidak satu rumah dengan orang tua karena anak bisa trauma seperti yang Anda alami. 
Pemakaian afirmasi bagus. Saya juga memberikan keterampilan ini di pelatihan MP untuk melengkapi pelajaran ttg self-compassion atau perlakuan kasih sayang pada diri sendiri. Pada kasus Anda, afirmasi tidak berhasil karena Anda belum berhasil mengatasi kemarahan dlm diri. Dan lebih menantang karena ada campur tangan orang tua. Salah satu sumber kemarahan Anda mungkin adanya penghakiman orang tua. Karena itu, kemampuan menangani emosi2 penting sekali dlm situasi yang Anda hadapi. Anda bisa jadi inspirasi anak dan orang tua dlm menghadapi stres yang terjadi. 

🎈🎈🎈

👋🇫

Problem yg dihadapi:

✅Anak saya yg no1- 3 agak tertutup k saya jg k ayahnya. jarang cerita pdhal dah kami pancing.

Yg ke 1&3 krn perempuan kdg suka ngobrol ttg teman2nya,kuliahnya,gurunya tp anak yg k2 (lk2),dia tertutup.seringnya hrs dimotivasi

✅.saya masih cari formula dlm memperbaiki komunikasi saya dg mereka.krn ketika saya berusaha mbelai dan memeluk anak yg k 1dan k 3 mereka sering menghindar.tp Alhamdulillah anak yg sulung mulai mau dipeluk krn skrg dah jauh kuliah di unisba.jd ketika jauh mgkn dia merasa kangen ibunya 😇

📌🎯 Jawaban:

Setiap orang tua problem pengasuhannya sama: tidak terampil mengelola emosi2, terutama kemarahan. Keterampilan ini yang dilatih dalam pelatihan MP. 
Masa pengasuhan anak 1-3 sdh lewat. Jika ibu masih menyimpan penyesalan, ibu harus mampu menerima masa lalu. Di pelatihan diajarkan teknik acceptance, utk menangani masa lalu. Pertama2, tentu saja komunikasi harus dimulai dari orang tua. Orang tua membuka diri. Minta minta maaf saya anak 1-3 bahwa Anda pernah melakukan kesalahan mengasuh karena blm tahu ilmu pengasuhan. Lalu pelajari personaliti si anak. Anak yang jarang bicara bukan berarti menolak bicara. Bisa saja dia seorang introvert. Bisa pula anak merasa tidak nyaman dengan orang tuanya krn memori masa kecilnya. Karena itu tugas orng tua adalah menbuat anak percaya bahwa sekarang orang tuanya asik untuk diajak bicara. Merasa nyaman. Tidak dihakimi. Dibanding2kan. Dll. Maka, empati pada perasaan anak2 diperlukan agar mampu menahan diri dari tindakan yang akan menjauhkan anak dgn orang tua.

🎈🎈🎈

👋🇬

Status : belum nikah 

Boleh to the point ke masalah boleh ya mas 🙏

– bagaimana cara mengatasi kemarahan yg tdk meninggalkan bekas ? 

– bagaimana cara berdamai dgn masa lalu terkait trauma yg kdang kita ga sadar kemarahan itu tersimpan d alam bawah sadar ? 

– bagaimana teknik hadir penuh sadar utuh dlm setiap melakukan kegiatan ? Karena sudah terbiasa pikirannya bercabang kmnmn ? 

📌🎯 Jawaban:

Nah, ada baiknya memang, sebelum menikah diberesin dulu sampah2 emosi masa lalu supaya gak dibawa2 saat sudah berkeluarga🙂
1. Kemarahan yang tidak meninggalkan bekas itu kemarahan yang terkendali. Marah yang datang dari ketenangan dan kejernihan pikiran. Bukan marah dengan mengeluarkan kata2 kasar, atau dengan tindakan fisik, yang membuat anak takut. 
2. Kita gak damai dengan masa lalu karena kita belum mampu menerima masa lalu. Belum mampu menerima karena kita masih masih menyimpan kemarahan2 masa lalu. Maka, langkah pertama adalah menguras sampah2 kemarahan2 masa lalu dulu. 
3. Di pelatihan ada teknik Beginners mind. Teknik ini dapat digunakan agar kita mampu hadir secara utuh karena. Juga dilatih teknik mindfulness duduk memerhatikan sensasi2 tubuh, pernapasan, pikiran2, dan emosi2. Teknik mindfulness ini bisa digunakan utk menangani trauma masa lalu.

🎈🎈🎈

👋🇭

Sering saya temui sebagian ibu pernah marah pada anak2nya saat ada sesuatu yg tdk pas dihati ibu, dan itu seperti sdh ‘turun temurun’.

misal : dulu saya sering dimarahi ibu saya dan saya sekrang marah juga pada anak…

bagaimanakah cara memutus mata rantai kemarahan yg sering kita alami saat kita kecil?? spya tdk berulang di saat kita mengasuh anak kita.

karena sering kita jumpai anak2 dimarahi oleh ibunya, tpi sebenarnya ibu tidak rela anaknya dimarahi orang lain, bahkan jika yg marah itu adalah suaminya sendiri.

📌🎯 Jawaban:
Ini masalah yang tidak banyak diketahui oleh para orang tua: ada pengaruh pola pengasuhan masa lalu yang orang tua gunakan kembali saat mengasuh anak2nya, seperti yang terjadi pada kasus Anda. Mengenali dan menyadarinya pengaruh ini penting agar orang tua bisa memutus siklusnya. Karena itu sesi 5 pelatihan MP dikhusukan untuk menangani pengaruh pola asuh masa lalu ini.

🎈🎈🎈
👋🇮
Problem pengasuhan:

Sering frustasi dalam mengasuh anak yang berakhir dengan kemarahan apalagi kalo sedang ada masalah dengan suami😁.. trus rasanya semakin banyak ilmu parenting yang didapatkan semakin bingung mengaplikasikan dalam pengasuhan ke anak2 krn tidak bisa dipungkiri juga kalo pola pengasuhan orang tua juga sangat berpengaruh dalam pola pengasuhan saya ke anak2 trus paling sering menghakimi sendiri &merasa gagal sebagai ibu jika tidak bisa mengendalikan diri dalam menyelesaikan masalah yang ada (misalnya pertengkaran anak2 dll).

📌🎯 Jawaban:

Formula untuk menangani stres saat pengasuhan, mohon membaca jawaban saya untuk 🇧.

Sama seperti kasus 🇬tentang pengaruh pola asuh masa lalu, mohon dibaca jawaban saya untuk 🇬 ya🙂.

🎈🎈🎈

👋🇯

Apa pengaruh yg akan muncul d kemudian hari, dalam bentuk perilaku pada anak yg mengalami pelecehan saat kecil?

📌🎯 Jawaban: 

Satu problem yang akan muncul bila orang tua punya pengalaman pelecehan saat kecil adalah orang tua akan over protektif pada anak, terutama pada anak perempuan. Ini adalah salah satu bentuk empati pada anak yang justru menciptakan kecemasan berlebihan pada anak. Jika orang tua menanamkan keyakinan seperti “laki2 tidak bisa dipercaya,” anak juga akan memiliki keyakinan seperti itu. Hal yg terburuk bisa saja terjadi: anak takut menikah.

Maka, penting sekali orang tua yg punya sejarah pelecehan menyembuhkan dirinya.

🎈🎈🎈
👋🇰

1. Apakah pernah mendengar tentang Mindfulness Parenting?

>Pernah

2. Apa yang Anda ketahui tentang parenting secara umum? 

> Pola pengasuhan pada anak

3. Mengapa Anda tertarik ikut kulwap ini? Apa yang Anda harapkan dari kulwap  ini?

> Belum bisa mengelola emosi dengan baik (apalagi ketika hamil seperti sekarang), harapannya bisa paham mindfulness Parenting dan bisa menerapkannya

4. Apakah problem pengasuhan yang Anda alami saat ini?

– 4a. Anda frustasi dalam mengasuh anak karena kejadian seperti marah atau memukul anak sering terulang lagi.

>>> Marahnya sebatas menaikkan nada bicara, kadang sambil uring2an sendiri

– 4c.  Anda menghakimi atau mengutuk diri sendiri, dan merasa gagal sebagai ibu.

>>> Iya, walaupun hanya menghakimi dalam hati. Tapi beberapa waktu lalu suami mengatakannya (pada dirinya sendiri), dan saya semakin merasa bersalah

—Sebutkan problem pengasuhan Anda yang lainnya….

Saat ini kami serumah dg orangtua, sehingga ada cara pengasuhan yg berbeda.

📌🎯 Jawaban: 

Saya melihat Anda cenderung memendam kemarahan. Apalagi ditambah masih tinggal bersama orang tua yang ikut campur dalam pengasuhan anak. Saya kurang informasi sejauh mana campur tangan orang tua Anda. Tetapi jawaban saya sama seperti yang lain jika menyangkut kesulitan dalam mengendalikan kemarahan. Baca juga ya jawaban2 saya ke teman2 lain🙂.

🎈🎈🎈
👋🇱

Sy merasa bersalah dg pola pengasuhan sy di masalalu dg anak pertama sy yg berumur 15th, bahkan hubungan hati kami rasanya tdk begitu dkt,  sepertinya tdk ada rasa rindu dr anak sy pd sy,  padahal dia di pesantren, sy ingin memperbaikinya apa yg hrs sy lakukan
📌🎯 Jawaban:

Kasus ibu mirip dengan🇫. Maka untuk jawabannya, mohon Anda baca jawaban saya untuk🇫. Selalu ada waktu bu untuk memperbaiki hubungan yang rusak dengan anak. Mulailah dulu dari orang tua utk mengambil inisiatif memperbaiki hubungan. Rasa penyesalannya harus ditangani supaya ibu dapat merespon sikap anak bukan dgn sensitifitas yang berlebihan. 
Agar tidak mengulangi gaya pengasuhan ke anak kedua, dua hal harus ibu pelajari:

1. Ilmu2 parenting untuk menangani perilaku anak

2. Keterampilan mindfulness parenting untuk menangani stres dalam pengasuhan atau manajemen emosi dalam mengasuh anak. 
🎈🎈🎈
👋🇲
Pertanyaan:

1. Apakah melalui mindfulness parenting kita dpt terlepas dari trauma pengasuhan masa lalu? Bagaimana teknisnya

2. Jika orgtua sudah terlanjur memukul atau marah pd anak, bagaimana cara menyembuhkan trauma tersebut pd anak usia 0-3 tahun?

📌🎯Jawaban:

1. Tentu saja bisa karena di pelatihan MP orang tua belajar menangani emosi2 negatif, terutama kemarahan, yang diakibatkan oleh trauma masa lalu. Tekniknya, mohon membaca jawaban saya untuk🇧. Di samping teknik2 lain yg saya berikan seperti acceptance, afirmasi positif, inner inner child healing, self compassion, dll.
2. Di sesi 6 pelatihan peserta diberikan cara untuk memperbaiki hubungan yg rusak dengan anak supaya tidak meninggalkan trauma. Tapi pada intinya: orang tua harus mampu merubah autopilot parenting menjadi merespon pada anak dgn penjelasan2 yg sudah saya berikan kepada teman2 IIP yg lain. Bila orang tua tidak lagi lepas kendali, orang tua harus mendatangi anak, minta maaf, berempati, mendengarkan jawaban anak, dan barulah membuat semacam kesepatakan bersama dengan anak agar hal yang terjadi tidak terulang lagi.

🎈🎈🎈

👋🇳

Bagaimana cara agar frustasi menerapkan ilmu2 pengasuhan anak tidak menjadi problem mengutuk diri sendiri dan merasa gagal menjadi ibu?
📌🎯 Jawaban:
Inti jawabannya saya seperti jawaban untuk 🇧. Tambahan dari saya, satu problem ini tapi terjadi di semua orang tua yg mengalami kesulitan mengasuh anak adalah trauma masa kecil yg dialami di pengasuhan yang belum ditangani. Timbunan kemarahan2 masa lalu yang mudah terpicu oleh situasi stres dalam pengasuhan yang harus ditangani. Dengan latihan2 yg ada di MP, orang tua bisa menangani kesulitan2 emosional dlm pengasuhan.

🎈🎈🎈
👋🇴
Bagaimana caranya agar lingkungan dapat memahami perbedaan dalam mengasuh anak?
📌🎯 Jawaban:
Untuk permasalahan emosional dalam pengasuhan, keterampilan yg harus dimiliki seperti di jawaban saya untuk 🇧. Meluncur ya ke sana🙂
Lingkungan, yang Anda maksud lingkungan itu orang tua, mertua atau tetangga? Kalau yg dimaksud adalah orang tua atau mertua dan masih tinggal bersama, sekali lagi saya sarankan, jika memungkinkan tinggal terpisah dengan mereka. Ini harus diusahakan agar pola pengasuhan lama tidak terulang kembali dan Anda bisa memakai cara2 baru yang lebih baik.
Kita sulit berharap orang lain berubah. Kalau kita tidak punya kekuatan atas mereka, tinggal terpisah adalah pilihan yang baik. Ini juga untuk meminimalkan konflik dgn orang lain yang akan memberi efek buruk pada anak.

🎈🎈🎈

👋🇵

Saat ini kami serumah dg orangtua, asisten rumah tangga, sehingga ada cara pengasuhan yg berbeda.

Pertanyaan:

Bagaimana mensinergikan aneka macam ilmu parenting dg realita yg di alami kami?
📌🎯 Jawaban:

Jawabannya akan lebih mudah jika: tidak tinggal bersama orang tua atau ada orang tua tetapi tidak ikut campur dalam pengasuhan anak Anda.

Kalau ada orang tua yg ikut campur dlm pengasuhan, mensinergikannya menuntut kemauan orang tua bekerja sama dengan Anda. Nah, kondisi ini yang sering sulit dicapai. Orang tua biasanya egois, merasa dirinya sudah benar dalam mendidik anak. Dan mereka tidak menyadari gaya pengasuhan mereka dulu membuat anak2 terluka. Pertanyaan saya: mungkinkah ada jalan untuk hidup terpisah dengan orang tua?

🎈🎈🎈
👋🇶

Bagaimana agar kakak adik tetap akur dengan jarak usia yg relatif dekat dimana keduanya masih dengan egonya masing-masing? Pertengkaran-pertengkaran mereka yang kemudian akan berujung salah satu atau keduanya nangis seringkali memicu emosi hingga tidak terkendali.
📌🎯 Jawaban:

Coba bereksperimen ini: tanya sama kedua anak Anda apa itu “akur”? Mereka tidak akan bisa jawab karena anak2 belum punya konsep tentang apa itu akur. Orang tua akan frustasi dan marah jika mengharapkan anak2 akur seperti keinginan orang tua. Yang anak2 tahu adalah mereka bermain dan bereksplorasi. Lagi pula anak2 kalau “berantem” mereka akan kembali lagi seperti tidak pernah terjadi apa2. Beda dengan orang dewasa yg merasa sakit hati lalu tidak tegur sapa. Anak2 mungkin tidak punya konsep tentang “berantem” atau “musuhan.” Karena itu mereka dengan cepat bermain bersama lagi. 
Nah, kalau anak gak ada masalah, tapi orang tuanya yang pusing, itu artinya orang tua tidak mampu merespon situasi stres. Orang tua tidak tahu gimana caranya lalu frustasi dan marah. Karena itu, keterampilan mengelola situasi stes dalam pengasuhan diperlukan orang tua. Apa saja? Coba lihat jawaban saya untuk 🇧. 

🎈🎈🎈

👋🇷

Problem pengasuhan:

1. Mengontrol emosi dan dan management waktu antara kewajiban yang lain dan pengasuhan, karena belakangan anak menjadi lbh banyak “cari perhatian” kalau ibunya sedang mengerjakan pekerjaan yg lain

2. Permasalahan anak yg skrg sering tantrum, melempar barang, dan menjerit

3. Anak mulai menduplikasi cara saya dan suami marah 😭

4. Membangun kembali proses hubungan dgn anak, dan memperbaiki cara-cara pengasuhan saya yg salah, semoga tidak membuat anak saya trauma..
📌🎯

Saat Anda hadir sepenuhnya ketika bersama anak, anak pasti tidak akan mencari2 masalah untuk mendapatkan perhatian dari Anda. Meskipun orang tua tidak bilang sedang banyak pikiran, anak tahu bahwa ibunya tidak sepenuhnya hadir utk dia. Anak2 yg menciptakan masalah itu sebenarnya mengatakan pada orang tuanya untuk sepenuhnya hadir untuk anak. Maka jangan salahkan anak jika nakal atau berulah apabila orang tuanya hanya sibuk sendiri meskipun itu hanya di dalam pikirannya saja.
Maka, saran saya adalah hadirlah sepenuhnya saat bersama anak.

🎈🎈🎈

👋🇸

Pada awal kelahiran anak-usia 1 tahun, saya bisa mengasuh anak dengan penuh konsentrasi dan gembira, namun seiring berjalan nya waktu, banyak masalah penyesuaian dengan pasangan yang dihadapi, pekerjaan rumah tangga dan banyak nya komentar dari keluarga dan tetangga soal tumbuh kembang anak saya, menjadi penyebab saya melupakan semangat untuk hadir penuh saat berkomunikasi dengan anak dan memberikan pengasuhan terbaik untuk anak. 

Pikiran saya blank saat bersama anak, tidak terlalu memperlihatkan emosi (datar ) dan saya lebih banyak membiarkan anak saya nonton tv dan laptop, sedangkan saya memilih mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Padahal anak saya keliatan cerdas. Saya tidak ingin menyianyiakan anak saya, tapi sulit untuk memulai hadir penuh untuk anak saya. Dan saya tidak percaya bahwa saya bisa menjadi ibu yang baik untuk anak saya. 

Pertanyaannya: 

Bagaimana caranya ya pak agar saya bisa lebih percaya diri menjadi ibu dan hadir secara penuh saat berkomunikasi dan bermain dengan anak saya?

📌🎯 Jawaban:

Untuk mampu hadir saat bersama anak, keterampilan yang perlu dikuasai:

1. Beginner’s mind dan minsfulness. Latihan ini melatih hadir pada satu aktivitas. Dalam hal ini bersama anak. 

2. Untuk menangani stres dalam pengasuhan harus melatih body scan, pause, teknik bernapas. 

3. Proses mengasuh tentu tidak selalu mulus, karena itu anda perlu melatih diri untuk memperlakukan diri Anda dgn kasih sayang (self-compassion).

4. Hal2 lain juga dipelajari di pelatihan. Seperti acceptance, afirmasi positif, menangani trauma. Dll.

🎈🎈🎈

👋🇹

Sebutkan problem pengasuhan Anda yang lainnya 

-tahapan menerangkan pada anak mengenai divorce dan membuat anak mengerti mengenai permasalahan tp tidak menyalahkan 1pihak

-menyalahkan pola asuh lama orang tua yang dialami dirisendiri

-ilmu mengenai parenting yg kurang penerapan dalam kenyataannya

-masih belum bisa berdamai sepenuhnya dengan masalalu

*Anak usia 4th&2th
📌🎯 Jawaban:

Kalau untuk pertanyaan tentang divorce, saya belum mendalami caranya yg tepat menerangkan pada anak2 yg usianya 2 dan 4 tahun. Saya harap ada sumber lain yang lebih tahu tentang hal ini.
Perceraian tentu saja akan berpengaruh pada diri Anda secara emosional. Trauma, sudah jelas. Karena trauma memengaruhi keadaan jiwa Anda, trauma paska perceraian harus ditangani. Dalam kondisi yg tidak stabil saat ini, Anda jangan terlalu jauh berpikir. Karena nanti Anda gak mampu dan malah akan frustasi. Yg penting rawat diri sendiri dulu supaya bisa menangani anak2 dgn lebih baik.
🌈🌈⛅🌈🌈

💖💞 Pak Supriyatno: 💖💞
Ini cerita bagaimana BM (beginner’s mind) dapat mengatasi autopilot parenting.

Belum ada 1 minggu latihan. Peserta melihat anak dgn BM saat tidur. Besoknya saat anak tantrum, dia gak kepancing emosi. Biasanya langsung autopilot. Dia biarkan anaknya selesai tantrum. Lalu memeluknya. Dia sendiri gak percaya bisa gak kepancing marah:mrgreen:

Kenapa bisa terjadi? Karena saat peserta BM melihat anak, ada empati yang tumbuh dlm dirinya. Empati ini yg melindungi dirinya dari kemarahan. Empati terhadap anak.
❓Mengenai trauma inner child. Langkah2 apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkannya?

🌟 Pak Supriyatno: Langkah pertama tentu saja harus mengenali saat IC muncul. Biasanya kita mengenalinya saat ada emosi2 yg kuat. Misal, ledakan kemarahan, tantrum, ngembek, putus asa, cemburu, merasa diabaikan, dll.

Setelah itu kita berdialog dengan ic kita.

Teman saya ada yg masih tantrum padahal usianya sdh 40an thn haha

Dia tangani Ic yg tantrum sampai 3 hari. Sekarang sdh gak tantrum lagi

❓ Bagaimana cara mengatasi sifat perfeksionis, Pak?

Inilah salah satu sifat saya yang bermata pisau ganda.

🌟Saya duluuuu seorang perfeksionis. Makanya saya juga pernah melakukan kesalahan pada anak pertama. 

Perfeksionis adalah salah satu hal yg harus ditangani dalam mengasuh anak. Perfeksionis dapat menurun ke anak. 

Akar masalah perfeksionis adalah ketakutan. Takut salah.takut tidak benar.takut gak sempurna. Yg pada intinya adalah takut dengan kekurangan pada dirinya. Dan…penerimaan akan kekurangan diri adalah langkah awal utk mengatasinya
❓Saya setuju, Pak. Perfeksionis adalah sifat yang diturunkan. Sifat ini dimiliki Ibu saya, dan menjadi trauma saya. Untuk menghindari konflik, sejak SMA saya berusaha tinggal beda kota dari orangtua.

Pun selama hamil, saya berusaha mengatasi sifat ini. Dengan teknik acceptance dan memberi dominansi pada sifat santai. Alhamdulillah berhasil.

Masalah muncul kembali saat saya harus tinggal serumah dgn orangtua setelah melahirkan karena LDR dengan suami. Kemarahan muncul saat Ibu memulai kembali penghakiman2nya. Saya berusaha untuk acceptance terhadap sifat ibu tapi belum berhasil. Bagaimana teknik acceptance terhadap sifat orang lain, Pak? Apakah saya perlu berbicara langsung dgn ibu saya?

🌟 Masalah ini harus bicara. Gak bisa hanya acceptance. Tapi konsekuensinya akan ada konflik. Tapi ya mau gak mau. Supaya ibu Anda tahu bahwa yg beliau lakukan tidak dapat Anda terima. Jadi harus belajar KOMUNIKASI ASERTIF.
❓Komunikasi asertif apakah diajarkan juga di MP academy, Pak?

🌟 Tidak ada materi komunikasi asertif. Ini keterampilan yg berdiri sendiri.

❓Teknik acceptance bisa dijelaskan pak?

🌟 Acceptance kalau di agama itu ikhlas sebenarnya. Tapi byk yg sulit mempraktikkannya ya hehe…

Acceptance itu harus mampu menerima TANPA SYARAT. Baru deh kita bisa ikhlas…kalau blm bisa menerima masa lalu berarti masih ada penolakan2 yg harus digali…

Penerimaan ini langkah pertama dalam healing trauma.

❓Adakalanya saya menitipkan anak pada neneknya (rutin sebulan sekali) dikarenakan saya harus fisiotheraphy.

Ketika kami bertemu kembali, selalu ada hal baru yang anak-anak tunjukkan (dalam konteks negatif) dan itu diluar pengawasan saya. Bagaimana saya harus mengatasinya? Sedangkan kebiasaan buruk itu sekali saja mereka lihat, sekali saja mereka dengar subhanallah lamaaaaaaa sekali menghilangkannya.

🌟 Titip saja deh sama orang yg bisa dipercaya. Soalnya kebiasaan buruk yg dilihat dan didengar anak akan tercetak di bawah sadar!

Anak menduplikasi apa pengalaman yg dia alami

❓ Anak sy jrg masuk kls tk b, sy tanya ga dijwb alsnny, kalo skolah suka nangis sesenggukan, tp sy brpendpt bhwa dia ga mau sekolah karena kbnykn tmen2nya ditungguin sma emaknya, tp, ktka ditny sma neneknya, dia mnjwb persis sprti anggpn sy, bnyk2 ibu2 yg ngmng knp sih ankny kalo skolah nangis melulu, naaah, kdg sya hny senyum, tp, ktk sdh trlalu bnyk yg brtanya, sya ga bs mnhn prtnyaan balik coba seandainya anak ibu ga ditungguin bgmn reaksinya?, prtanyaanny gmn mnguatkan anak untuk brani dan bgmn cra mnympaikn ke ibu2 agr tdk mnjudge ank sya cengeng?maaf, kbnykn…🙏

🌟 Waduh..ini sama dengan bullying. Ibu2 lucu liatnya tapi buat anak itu traumatis. Tegur secara halus saja..ya mungkin minta maaf sama ibu2 utk jangan mentertawakan anaknya.dll. 

Gurunya juga harusnya beri edukasi ke ibu2 ya🙂
Bilang ke anak “ibu sudah tegur ke ibu2 supaya gak ngejek kamu. Jadi kamu harus coba sekolah lagi.”

❓Bgmn mghilangkan pelabelan negatif dari kita(ibu) pda anak2ny, cntoh anak cengeng, anak rewel, anak manja, dsb?

🌟Dengan teknik BM dan mindfulness kita bisa melepaskan pelabelan pada. Melabeli anak akan menutupi mata kita dari kualitas lain pada diri anak karena fokus kita pada anak hanya pada label yg kita berikan.

Lagi pula anak nanti meyakini dirinya seperti yg dilabeli oleh orang tua. KAMU BODOH…anak percaya bahwa dirinya bodoh..

❓Bagaimana cara menghilangkan tantrum d usia dewasa pak, kadang saya juga suka tetiba kesal dgn alasan yg tdk bs d jelaskan 😭

🌟 Dengan ic healing bisa. Bayangkan kita bicara sama anak kecil saja. Bagaimana kita menangani anak yg pernah diperlakukan kasar.
❓Kl misalkan IC kita pny byk alter (maaf sy tidak tahu istilah yg tepat pak tlg dikoreksi), misalkan ada Si Pemarah, Si Putus Asa, dll. Apakah diajak dialognya harus dituntaskan satu2 atau seperti apa?

🌟 Benar..satu2 harus ditangani

❓Kalo dialog dg IC itu harus kontinyu setiap hari ato pas muncul lintasan2 di pikiran kita?

🌟 Awal2nya harus sering2 komunikasi dgn ic

❓”Saya melihat Anda cenderung memendam kemarahan.”

Betul sekali Pak, saya kesulitan untuk menyampaikan kekesalan yg saya rasakan apalagi jika yg dihadapi orang tua atau saudara. Biasanya yg saya lakukan hanya lebih banyak diam, kadang nangis, dan memikirkan kata2 yg harus sampai kan pd yg bersangkutan. Tapi nyatanya saya tidak bisa menyampaikan nya, dan semua kembali membaik tanpa ada apa pun yg diselesaikan. 
Nah saya ingin mengajarkan kepada anak untuk bisa menyampaikan perasaanny, tp ternyata saya juga belum bisa melakukannya.

Apa yang harus saya lakukan?

🌟 Orang tua dulu yg harus belajar utk mengungkapkan perasaan2 sebelum bisa menularkannya pada anak.
🌈🌈⛅☀🌈🌈

🎉🎉🎆🎆Pelatihan MP4 ini bukan untuk menggantikan pengetahuan cara pengasuhan anak yang sudah Anda dapatkan. Justru, pelatihan ini akan melengkapinya. Pelatihan ini akan memberikan keterampilan mengelola emosi2 negatif yang mengganggu proses mengasuh anak.
Mengapa Anda tidak bisa menerapkan pengetahuan mengasuh anak yang sudah dipelajari dan selalu saja terulang adegan kemarahan atau bahkan kekerasan pada anak Anda? 
1. Anda berada dalam “Doing Mode” (pikiran dipenuhi rencana2 dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dan hampir sedikit atau tidak ada waktu untuk anak; tidak bisa menikmati kebersamaa dengan anak; fisik hadir tapi jiwa Anda tidak hadir bersama anak).

2. Anda memberi label, penilaian, harapan2, atau penghakiman pada anak, dan hal ini menyebabkan cara pandang Anda pada anak menjadi terbatas.

3. Anda tidak mampu menyadari sinyal awal kemunculan stres.

4. Saat mengalami stres, Anda tidak tahu bagaimana caranya menangani diri Anda.

5. Doing Mode menyebabkan Anda sulit membuat batasan pada diri Anda, yang sering menjadi sebab Anda stres.

6. Karena Anda merasa gagal dalam mengasuh anak, Anda cenderung keras pada diri sendiri. Anda menghakimi diri sendiri. Anda tidak empati dengan diri sendiri.

7. Anda menggenggam dan menolak pengalaman2 dalam pengasuhan. 

8. Ada perbedaan pola asuh suami-istri, yang biasanya berasal dari latar belakang perbedaan pola asuh orang tua mereka, dan konflik lainnya dengan pasangan.

9. Anda tidak bisa menyelesaikan saat terjadi konflik dengan anak.

10. Pengalaman2 masa lalu ikut mempengaruhi proses mengasuh anak, seperti trauma masa kecil, kekerasan yang Anda terima dari orang tua.

11. Campur tangan pengasuhan dari orang tua atau mertua.

12. Gangguan personaliti (perfekionisme, harga diri rendah, kecemasan, paranoid)

13. Gangguan mood (depresi, ppd, low mood)

14. Dan ini sangat besar sekali pengaruhnya: kemarahan2 masa lalu yang masih Anda pendam.
Pelatihan online Mindfulness Parenting 4 akan mengajarkan pada Anda keterampilan menangani masalah2 pengasuhan seperti di atas.
Pelatihan online Mindfulness Parenting 4 di grup secret FB Mindfulness Academy 4 dijadwalkan akan berlangsung selama 2 bulan (mulai  November 2016).
Syarat-syarat ikut pelatihan:

– Sedang mengalami problem emosional dalam proses mengasuh anak.

– Bisa mengikuti pelatihan secara online di FB.

– Bersungguh-sungguh melakukan latihan sesuai jadwal selama 2 bulan.

– membayar biaya pelatihan 225ribu. Biaya ditransfer ke BCA no rek 0950610000 an. Supriyatno atau Mandiri 1550001304586 an. Nuri Nurhayati.

– Lakukan konfirmasi bukti transfer.

– Mengisi profil peserta dan latar belakang isu-isu yang mengganggu pengasuhan anak.

– Selanjutnya saya akan add ke grup secret Mindfulness Academy 4.
Info: inbox; WA 08179890981; line id supriyatno17.
➡Info tambahan….

Cara pelaksanaan pelatihannya sbb:

1. Setiap sesi dimulai tiap hari minggu. 

2. Hari sabtu saya posting file pengantarnya.

3. Hari minggu saya posting file2 latihan.

4. Peserta melakukan latihan2 sesuai instruksi. Waktunya terserah pada peserta kapan ada waktu yg tersedia. Setiap orang punya waktu utk latihan berbeda2. Jadi tidak mungkin mengumpulkan dalam satu waktu.

5. Hasil latihan dilaporkan ke saya di bagian komentar. Saya akan berikan tanggapan dan arahan2 

6. Kapanpun peserta dapat melakukan konsultasi di grup. 

7. Jumlah sesi 8. 1 waktunya 1 minggu. Total 8 minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s