belajar sambil bermain, haruskah?

​Bunda, diantara ‘shopping list’ kita tentang cara, teknik, atau bahkan ruh/filosofi mengasuh anak-anak, barangkali tulisan Bunda Eki ini dapat dibaca untuk jadi bahan wawasan tentang “Apakah Belajar Sambil Bermain?”… selanjutnya, tentu saja keputusan menerima/tidak, eksekusi/abaikan, ada ditangan setiap orangtua🙂
===================
Belajar Sambil Bermain, Haruskah?
Posted on Oktober 29, 2016 by Bunda Eki Listyarini
Sudah hampir satu tahun, saya menghentikan aktivitas blogging Bukan Cuma Bermain. Bahkan, saya juga menghentikan produksi paket belajar “Edutivity Pack”, produk satu-satunya dari blog saya tersebut. Saya hentikan bukan karena saya tak ingin berkarya. Membuat materi dan alat belajar untuk anak bahkan, lebih saya sukai dibandingkan hari-hari di laboratorium ketika saya meneliti membran di masa saya kuliah dahulu. Saya berhenti sejenak karena ada hal yang perlu direnungkan kembali dalam kaidah pendidikan anak yang saya yakini selama ini (dimana saya menyakininya tanpa ilmu #istigfar). Tergugah oleh tulisan “Bukan untuk Bermain, Aku Diciptakan!” saya mencoba merenungi kembali, tentunya dengan segala keterbatasan saya, metode dalam pendidikan anak: belajar sambil bermain.
Belajar sambil bermain merupakan metode yang sangat akrab di dunia pendidikan anak. Kurikulum dan pengajaran didesain secara menyenangkan sehingga membuat anak belajar tanpa merasa belajar. Jika dunia anak ialah dunia bermain, tentu lah metode ini menjadi sangat logis, apalagi ketika didukung dengan sejumlah data ilmiah tentang perkembangan anak. Dalam metode belajar sambil bermain, menyenangkan ialah kuncinya. Semua aspek belajar pun dibuat secara menyenangkan bahkan, hingga saya temukan sampai menyentuh pengajaran membaca dan menghafal al Quran.
Tidak ada yang saya rasa keliru dengan metode ini hingga saya membaca artikel tersebut di atas. Hingga, saya merasa sangat perlu merenungkan kembali…. Apakah metode belajar sambil bermain memang bermanfaat? Apakah metode ini harus saya aplikasikan kepada putri saya ketika saya membuat aktivitas belajar untuknya di rumah? Apakah saya harus mempertimbangkan metode ini sebagai faktor yang akan mendorong saya mendaftarkan putri saya di sebuah paud/tk/sekolah? Ketika saya menggunakan metode ini pada karya-karya kecil saya di Bukan Cuma Bermain, apakah saya sudah mempunyai hujjah yang benar? Jangan-jangan, saya hanya mengikuti riuhnya arus, tanpa menelaah terlebih dahulu (#istigfar).
Saya memahami bahwa bermain dan bergerak ialah kebutuhan anak. Ibarat orang dewasa bekerja, begitulah bermain bagi anak-anak. Bermain menyenangkan bagi anak-anak dan mengandung begitu banyak manfaat. Namun, ketika belajar disandingkan dengan bermain dengan tujuan agar anak belajar dengan senang hati, apakah memang benar harus demikian?
Saya mencoba menggali kembali metode ini dengan berdiskusi bersama teman-teman dan membaca buku. Hingga suatu ketika, saya menemukan sebuah artikel berjudul, “Making Play Work for Education” oleh Weisenberg, et al (co-author: Prof. Hirsh-Pasek). Meminjam terminologi yang digunakan pada artikel tersebut, belajar sambil bermain dapat dikatakan sebagai guided play. Guided play tercetus karena pendidik menyadari besarnya manfaat yang diperoleh anak melalui permainan bebas (free-play) namun, di saat yang sama anak memiliki keterbatasan potensi untuk menyerap pengetahuan, jika anak hanya melakukan permainan bebas tanpa adanya pendampingan guru maupun orangtua.
Guided play ialah kombinasi antara adult-initiated dan child directed; situasi dimana orangtua maupun guru mendesain lingkungan belajar melalui permainan namun, anak memegang kontrol permainan dan bagaimana ia ingin bereksplorasi. Jadi, ada lingkungan belajar yang sengaja didesain secara menyenangkan. Ya, seperti halnya belajar sambil bermain. Disebutkan bahwa guided play ini memiliki pendekatan yang serupa dengan pendekatan Montessori, Regio-Emilia, Tools of the Mind atau Community of Learners (saya tidak mengenal metode-metode tersebut kecuali Montessori). Guided play, menurut penulis, merupakan metode pedagogis terbaik untuk menggabungkan bermain ke dalam kurikulum anak usia dini tanpa menghilangkan tujuan pendidikan yang ingin diraih, sehingga anak dapat menikmati belajar. Menarik bukan konsepnya? Ya, saya sendiri mengakui bahwa saya tertarik dengan metode Montessori di awal-awal usia putri saya, hingga saya membeli buku-buku panduan maupun kurikulumnya (buku-buku itu masih ada di lemari buku saya hingga kini).
Namun, ada yang saya cermati baru-baru ini…
Mungkin, tidak ada yang keliru dengan belajar sambil bermain ketika kita melihatnya hanya dalam perspektif alat. Apalagi, jika alat itu hanya digunakan pada ilmu-ilmu dunia maupun ilmu-ilmu umum, dimana penggunaannya tidak diatur dalam syariat atau bahkan, ada yang diperbolehkan berdasarkan nash. Namun, mungkin kita (ed: saya) terlupa bahwa, pendidikan anak dalam Islam bukan hanya melibatkan alat, namun yang lebih penting, melibatkan urutan atau prioritas serta adab.
Dr. Aisha Hamdan dalam bukunya “Nurturing Eeman in Children” mengatakan bahwa berdasarkan hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wassalaam mengenai kewajiban menuntut ilmu, pendidikan iman menjadi hal yang paling prioritas dalam pendidikan anak. Hal ini terkait dengan al Quran, sebagai ilmu yang utama, hadits, sirah dan ilmu-ilmu fardhu ‘ain lainnya. Anak harus tumbuh dengan pengetahuan, pola berpikir, dan juga perspektif Islami. Dan hal ini dibangun dengan pengajaran al Quran, hadits, sirah dan adab pertama kali pada anak. Hal ini bukan berarti anak tidak boleh mempelajari selain ilmu-ilmu di luar syariat namun, ada prioritas. Dan sesungguhnya begitu lah para generasi salaf memberikan teladan.
Sejak kapan anak siap untuk mempelajari al Quran? Dalam buku “Prophetic Parenting“, karangan Dr. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid, beliau menjelaskan berdasarkan suatu riwayat bahwa anak bisa dipersiapkan mempelajari al Quran sejak usia tiga tahun, meskipun itu termasuk yang jarang terjadi dalam masyarakat. Ya, tiga tahun, begitu dini… Riwayat ini membuat saya kemudian berpikir, sekaligus khawatir. Bagaimana saya telah mempersiapkan anak saya kelak untuk mempelajari al Quran? Sesuatu yang paling prioritas dalam hidupnya. Bagaimana saya mempersiapkan imannya untuk menghafal dan menelaah serta mengamalkan al Quran dalam hari-harinya? Jika sejauh ini pengajaran yang saya berikan selalu dalam konteks bermain-main yang menyenangkan. Padahal, al Quran ialah qowlan tsaqiilan.
Kita pun sudah sangat mengenali hadits Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wassalaam tentang pengajaran beliau shalallaahu ‘alayhi wassalaam kepada Ibnu Abbas radhiallaahu’anhu (hadits arba’in nawawiyah ke-19). Ketika mengingati hadits ini, pertanyaan yang sama kembali muncul. Bagaimana saya telah mempersiapkan anak saya kelak untuk menerima pengajaran hadits ini? Bagaimana saya mempersiapkan imannya untuk memahami hadits ini? Jika sejauh ini pengajaran yang saya berikan selalu dalam konteks bermain-main yang menyenangkan.
Belum lagi dalam perihal adab… Islam memberikan tuntunan berupa adab dalam beraktivitas agar aktivitas itu bernilai keberkahan. Ketika belajar dilakukan dalam konteks bermain, atau sambil bermain, saya melihat adanya potensi dimana anak maupun guru dapat lalai terhadap adab. Suatu ketika, saya pernah melihat foto seseorang di lini sosial media sedang mengajarkan hadits kepada anaknya dimana anak tsb dalam kondisi sambil bermain-main bongkar-pasang. Saya tidak bermaksud menjustifikasi, ini hanya salah satu contoh yang kebetulan saya temui (sungguh diri sendiri pun sangaaattt banyak cacatnya #istigfar). Yang menjadi aneh bagi saya ialah, pada detik saya melihat foto tersebut untuk pertama kalinya, saya tidak melihat kejanggalan. Sama sekali terasa tidak ada yang janggal atau keliru. Anak belajar sambil bermain ialah hal yang begitu umum. Setelah merenungi, baru lah saya sadar… Benarkah secara adab anak mempelajari hadits sambil bermain? Betapa sesuatu yang bertentangan dengan adab dapat menjadi sesuatu yang lumrah ketika belajar harus dibuat secara menyenangkan. Padahal, tidaklah para generasi salaf membuka kitab dalam keadaan bersungguh-sungguh siap belajar serta sangat menjaga adab terhadap gurunya. Karena dalam adab belajar, bukan sebanyak apa ilmu yang memenuhi kepala namun, keberkahan ilmunya.
Sungguh, beberapa hal di atas lah yang saya khawatirkan… Bagaimana metode belajar sambil bermain membuka celah yang membuat kita (ed: saya) bisa lalai dari mempersiapkan anak untuk mempelajari yang pokok sebelum yang cabang, atau mempersiapkan anak untuk mengamalkan adab sebelum menuntut ilmu.
Maka, atas dasar apakah kita (ed: saya) menggunakan metode ini? Padahal, di artikel ilmiah yang saya kutip sebelumnya, jelas disebutkan bahwa bukti-bukti ilmiah yang meneliti manfaat jangka panjang dari metode belajar sambil bermain masih sangat terbatas. Mengapa saya menggunakan argumentasi dari hasil observasi yang belum nyata manfaat jangka panjangnya? Padahal, ada keteladanan yang terbukti berhasil dan tak berbilang masa.
Atas dasar apakah kita (ed: saya) menggunakan metode ini? Agar anak-anak mencintai ilmu kah karena ia bebas bereksplorasi? Sungguh, patut saya berkaca, sudahkah saya menanamkan motivasi, atau sekadar mengandalkan alat semata?
Atas dasar apakah kita (ed: saya) menggunakan metode ini? Bukankah kebaikan itu sejatinya ialah dengan pembiasaan. Jika anak tidak dibiasakan dengan situasi belajar yang sesuai dengan adab sedari dini, lalu kapankah itu akan dimulai?
Dan, atas dasar apakah kita (ed: saya) menggunakan metode ini? Agar kreatifitas tumbuh subur kah dalam diri anak-anak? Maka, patutlah saya mengingat bahwa kreatifitas bukan lah tujuan pendidikan. Teringat saya pada nasehat ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya “Segenggam Iman Anak Kita“, bahwa tidak ada kewajiban bagi kita, orangtua, untuk menumbuhkan kreatifitas (siapa yang mewajiban?). Jika pun kita menginginkan anak tumbuh menjadi pribadi kreatif, kreatifitas itu harus ditumbuhkan di atas tauhid dan akhlak mulia (kembali, ada prioritas).
Atas sebab-sebab inilah, saya memutuskan untuk menggunakan metode “tradisional” bagi pendidikan putri saya. Dimana belajar ialah belajar, dan bermain ialah bermain. Saya teringat kembali tulisan ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya “Positive Parenting” mengenai tradisi keilmuan yang hilang, dimana anak-anak yang berusia 7 atau 8 tahun sudah siap mengkaji fiqih dasar seusai belajar al Quran di rumah guru-guru mereka. Dimanakah anak-anak kita berada saat ini? Adakah mereka mengkaji al Quran maupun fiqih? Atau, ketika anak-anak bermain bebas tanpa kita, orangtua, merasa kuatir anak melakukan sesuatu yang tiada berguna. Padahal, pakar perkembangan anak dan peneliti pun telah sepakat bahwa permainan bebas merupakan permainan yang paling baik dalam mengasah kemampuan bahasa, sosial, kreatifitas, imajinasi, dan pengendalian diri.
Meskipun saya tidak setuju dengan Prof. Hirsh-Pasek ketika merekomendasikan guided-play alias belajar sambil bermain, beliau menyarankan tiga hal yang bermanfaat bagi kita. Di dalam bukunya “Einstein Never Used Flashcards“, beliau menyarankan bahwa orangtua sangat sangat sangat perlu untuk:

#1 merenungkan;

#2 menolak;

#3 memfokuskan ulang;

terhadap berbagai rekomendasi pendidikan dan pengasuhan untuk anak-anak kita.

Apa sejatinya arah dan visi-misi pendidikan anak-anak kita?

Adakah kita tenggelam dalam riuhnya arus informasi dan kehilangan arah?

Mempercayai sejumlah data ilmiah yang bahkan tidak jarang telah dibumbui mitos?

Atau kah kita ingin berdiri tegak di tengah riak tingginya arus dengan hujjah yang benar?

Mari sejenak renungkan….
“Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:

Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.

Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.

Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.
Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.

Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.

Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,

Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,

Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.

Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.

Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.”
~ Nasihat Imam Syafi’i rahimahullaah
Surabaya, 29 Oktober 2016

Catatan kecil seorang ibu yang tengah mencari format pendidikan bagi putra-putrinya

https://ourlittlenotes.wordpress.com/2016/10/29/belajar-sambil-bermain-haruskah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s