sebelum anak pesantren #kiki barkiah

​Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak

Sebelum Engkau Kirimkan Mereka Ke Pesantren (bagian 1)
Ummi: “Aa banyak sms yang masuk ke ummi dan bertanya bagaimana cara mendidik Aa sehingga bisa jadi hafidz al-quran di usia muda. Ummi bingung jawabnya, ummi bilang aja kalo metode mah saya gak tau tanya Aa Ali langsung aja. Saya mah bagian menanam benih, motivator dan seksi murojaah yang membuka quran saat Aa Ali mau setoran. Umminya sendiri gak hafal 30 juz Al-Quran”

Aa Ali: “Yeeee ummi, justru yang penting motivasi itu mi. Itu yang bikin Aa bertahan kalo lagi sudah mau menyerah karena emang berat banget. Kadang pengen pulang dan berhenti aja tapi Aa mikir Aa gak mau jadi pecundang, masa pulang gak bawa hafalan 30 juz. Kadang liat temen kabur dari pesantren, Aa ikutan mikir ‘apa kabur aja ya?’ Tapi Aa inget lagi motivasi ummi. Lagian kan Aa sendiri yang pengen jadi hafidz, Aa sendiri yang milih ke pesantren, masa Aa sendiri yang nyerah dan pulang?”
Saya jadi merenung, ternyata tugas utama seorang guru adalah inspirator murid-muridnya. Terkadang memberi inspitasi tak berarti sang guru harus telah mampu melakukan semuanya untuk memberi teladan. Namun bagaimana sang guru dapat mematik semangat di hati muridnya sehingga ia sendiri yang akan mencari jalan untuk terus menyalakan api kebermanfaatannya.
Dari semua proses mendampingi ananda sebagai seksi murojaah, motivator dan pengingat jadwal, kenangan terindah mengajar hafalan Aa Ali adalah saat hari-hari pertama saya menikah dengan ayahnya. Saat itu usia Ali 3.5 tahun. Kami membawa Ali menaiki kereta mini di Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Bandung. Teringat suara kecil yang mengikuti bunyi ‘naaaas’ saat saya membacakan surat An-naas. Setelah itu hari-hari kami di Kota Batam saat sudah berkumpul utuh sebagai keluarga bersama sang ayah, kami lewati dimana kegiatan tahfidz dan membaca buku menjadi bagian dari kehidupan kami.
Terlalu mimpi rasanya saat itu berharap memiliki seorang anak yang bisa menghafal Al-Quran 30 juz, meski cita-cita itu terpatri dalam hati kami salah satunya didorong oleh doa dan titipan cita-cita dari sang mertua agar kelak cucu-cucu beliau menjadi seorang hafidz quran. Yang kami fokuskan saat itu bukan berlomba-lomba dalam menambah banyaknya hafalan. Yang kami fokuskan saat ia berusia 4 atau 5 tahun adalah mengantarkan hatinya untuk tunduk pada perintah Allah dan Rasulullah SAW. Yang kami fokuskan saat itu adalah membangun konstruksi berfikir ananda agar islam menjadi jalan hidup yang ia pilih dan agar biografi manusia-manusia terbaik menjadi contoh teladan yang diadopsi sebagai nilai hidupnya. Maka mempelajari sirah menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dalam kehidupan kami sambil terus menambah sedikit demi sedikit hafalan Al-Qurannya. Waktu yang kami luangkan untuk membangun fondasi akidah baik melalui kisah teladan, keteladan dan penggalian hikmah rasanya lebih banyak kami lakukan dibanding waktu yang digunakan untuk menghafal Al-quran itu sendiri.
Ketika kami hijrah sekeluarga ke Amerika, rasa haus mempelajari agama semakin terasa. Terlebih sekolah di negara sekuler sama sekali tidak memberikan pelajaran agama. Sebagai seorang anak pembelajar, Ali merasa tidak puas belajar agama dengan sekedar kurikulum sunday school. Akhirnya dengan beragai kemudahan akses internet kami banyak memanfaatkan waktu untuk belajar dari para ulama melalui internet. Rasa ingin tahu Ali betul-betul terpuaskan saat ia mengikuti berbagai kuliah Syeikh Yasir Qodhi yang direkam melalui youtube. Sehingga kegemarannya mempelajari sirah mengantarkannya untuk mencintai pelajaran tafsir, latar belakang turunnya ayat serta berbagai pengetahuan hadist. Setelah pandangan hidupnya mulai terbentuk, kami semakin gencar untuk mematik semangatnya menjadi seorang hafidz quran. Kami perlihatkan contoh-contoh anak yang lebih dulu menyelesaikan hafalan Al-Qurannya dengan harapan hatinya semakin membara untuk menjadikan Hafidz Quran sebagai cita-citanya. Kami hantarkan ia agar mengetahui keutamaan-keutamaan menghafal Al-Quran. Sebagai seorang anak piatu yang ditinggal meninggal sang ibu sejak bayi, mempersembahkan jubah keagungan untuk sang bunda menjadi motivasi terbesar baginya untuk mau menghafal Al-Quran. Ketika ia mulai malas, saya sering mengingatkan ia pada sosok sang ibu kandung yang telah tiada.
Di usia 10 tahun, murid homeschooling kami ini telah menuliskan cita-citanya. Satu diantaranya ia memilih menjadi hafidz Quran, bahkan menuliskan di usia berapa ia ingin pertama  kali menyelesaikan 30 juz hafalan qurannya. Sejak hari itu kami merancang rencana bersama. Berapa banyak hafalan yang ingin ia selesaikan setiap harinya. Upaya untuk terus menjaga semangatnya adalah pekerjaan yang paling utama. Sementara masalah metode menjadi kemudahan yang Allah karuniakan setelah hamba berazam meraih cita-citanya. Ketika seorang anak telah berazam meraih cita-cita, ia akan mengerahkan semua potensi untuk meraih cita-citanya. Saat seorang hamba telah terlihat kegigihannya untuk menolong agama Allah, Allah akan turunkan berbagai kemudahan untuknya.
Setelah Ali membulatkan tekad untuk berhenti dari semua kegiatan belajar di homeschooling agar bisa fokus menyelesaikan hafalan quran, ia sepakat untuk memilih pesantren sebagai sarana belajarnya. Dari pesantren Al-Hikmah Bogor saya juga semakin belajar bahwa yang terpenting bukanlah metode atau sistem menghafal. Melainkan motivasi yang ditumbuhkan di hati para santri serta lingkungan yang kondusif untuk mengompori anak-anak mendobrak kapasitas dirinya untuk meraih cita-cita mereka. Kesamaan metode pendidikan di pesantren tidak akan memberikan kesamaan jaminan hasil. Terbukti dengan adanya variasi kecepatan belajar diantara siswa-siswanya. Secara alamiah seleksi alam pun terjadi. Menurut cerita Ali ada juga yang kemudian berguguran tidak sampai selesai. Ada siswa yang memiliki kecepatan tinggi, ada juga yang lebih lambat dari siswa pada umumnya. Namun Ali bercerita betapa anak-anak yang memiliki motivasi internal akan memiliki semangat yang berbeda dengan mereka yanh masuk karena keinginan orang tuanya.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa ternyata tugas terberat bagi orang tua dalam mengantarkan anak-anak menjadi para penjaga Al-Quran adalah menyemai benih cita-cita dan menjaga keistiqomahan tekad dengan terus memotivasi mereka. Andai saya sendiri telah menyelesaikan tahfidz 30 juz Al-Quran, mungkin pekerjaan ini lebih terasa ringan untuk dijalani.
Bersambung……
Makasar, Sulawesi Selatan

Dari seorang ibu yang berharap melahirkan dan mencetak para ahlul quran.

Kiki Barkiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s