adab menuntut ilmu #1 matrikulasiIIP2

​ADAB MENUNTUT ILMU
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
ADAB MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah

perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu

menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu,

sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa

 yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu

tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa

yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang

sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang

paling didahulukan sebelum ILMU
ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin

mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut

ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri

dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri

dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu

itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab

menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?
*Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan*
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik,

sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari

Ibunya
ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk

Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke

dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu

itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling

awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu

ilmu sedang disampaikan.
d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang,

membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua

runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu

disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar

mudah untuk diamalkan.
ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati,

menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha

Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau

menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan

memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru

berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru

mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu

mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang

disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta

ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh

disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan

kita.
ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk

buku ketika sedang kita pelajari.
b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

1. Seruni 

kemarin sudah dijelaskan ya kalo semua materi matrikulasi boleh dishare di note fb atau blog masing2? Jadi ga perlu izin lagi ya?

Nuhun.

Jawab : Terimakasih Teh Tsara yang telah membantu saya menjawab.

Teh Seruni, pada prinsipnya Materi matrikulasi ini bukan rahasia, boleh disampaikan kepada public, dengan catatan materi matrikulasi ini harus disampaikan secara berututan dan dibawah bimbingan fasilitator.

Akan lebih bijak jika dalam penyampaiannya diracik menggunakan Bahasa teh Seruni sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari.

-Tim Fasilitator Matrikulasi (TFM)-

2. Dewi Mulyati 

Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk

buku ketika sedang kita pelajari.

❓jadi apakah kta tdk dperkenankan mencatatat hah hal penting dibuku catatan kita?

Jazakillah sebelumya t ai
Jawab :

Terimakasih teh Seruni dan teh Silvilia, telah membantu memberikan jawaban.

Tambahan dari TFM: 

Teh Dewi, maksud dari pernyataan : “Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.”

Misal : saat membaca buku, apalagi Al-Qur’an, kita meletakkannya dilantai dan sejajar dengan kaki kita, atau membaca Al-Qur’an dengan tangan kiri. Itu termasuk tidak beradab terhadap sumber ilmu, apalagi Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu.

 
3. Ijin bertanya.. saya rachmi sri kurnia damayanti biasa dipanggil maya.. 

Materi minggu ini sdh selesai kah? Hatur nuhun.. 

Jawab : iya itu materinya, selanjutnya diskusi santai sambal menunggu NHW.
4.  Risa : ❓Jika kita misalnya ingin menyampaikan sebuah ilmu, kita lupa itu kata siapa, hanya ingat “pernah” membaca artikelnya saja misal, apakah baiknya kita sampai kan dg kejujuran bahwa sumbernya “lupa lagi” atau lebih baik jangan disampaikan ?.

Jawab : 

Terimakasih Teh Tsara, telah membantu memberikan penjelasan.

Ini Jawaban Bu Septi, mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan disini :

Ini prinsipnya literasi media

a. Ada berita /info yang  menarik dan baik ➡ cari sumbernya darimana ➡dapat sumber, cantumkan ➡ share
b. Ada info/berita menarik ➡ tidak ketemu sumbernya ➡ simpan unt diri kita, tidak perlu disebar.
Pendapat saya: Kalau kita ingin merasa aman dan tenteram, dijauhkan dari perbuatan fitnah, tidak ada tawar menawar lagi, kalua tidak tau sumber yang jelas, “Jangan disebarkan”. cmiiw

5.Lintang : 🙋🏼 saya mau tanya
tidak ada di materi di atas, tapi berhubung berkaitan ttg adab ilmu, mungkin bisa menjawab.
ada salah satu adab menuntut ilmu adalah “mendatangi guru/sumber ilmu”
nah seringkali untuk kepraktisan dan efisiensi, kita mengadakan kajian online lain, sebutlah kulwap (kuliah whatsapp). bagaimana bila kita meminta seorang alim/berilmu untuk mengisi kulwap di sebuah grup, apakah ini bertentangan dengan adab “mendatangi guru” tsb? yang mana seharusnya kita yang mendatangi guru, bukan guru yang mendatangi (grup chat) kita.
Jawab :

Teh Lintang yang baik, pernyataan : ada salah satu adab menuntut ilmu adalah “mendatangi guru/sumber ilmu” tidak tertulis dimateri, dan the Lintang tidak menyebutkan sumber dari pernyataan tersebut. Maka alangkah bijaknya bila teteh menyebutkan sumbernya dan meminta /mencari penjelasan dari sumber tersebut

Terkait Kulwap yang sering diadakan oleh grup WA IIP Bandung, maupun grup-grup yang lain, menurut teh Lintang sendiri apakah itu dipersalahkan?
Mengutip materi diatas, bagian adab terhadap guru disebutkan bahwa : kita harus senantiasa mencari keridhoan sang guru. Selama sang guru merasa ridho kita mengundang beliau ke majelis ilmu seperti di IIP ini, (da kalo gak ridho mah, gak akan datang/ngasih kulwap, ya…) insyaAllah tidak melanggar adab.
Bahkan sekarang banyak master-master ilmu (contohnya Bu Septi dan keluarga, dan banyak lagi master-master yang lain) yang bersedia memberikan ilmunya dengan cuma-cuma (gratisan), demi mencari sebuah keberkahan ilmu, mengamalkannya dengan cara menyampaikan kepada (banyak) orang. Dan ini termasuk ilmu yang bermanfaat (bekal kita di kehidupan akhirat nanti).
-TFM-
6. Lestari Rachmania: Punten mau usul, untuk materi selanjutnya, nicehomework, atau info penting lain dr fasil terkait program yg _harus_ diketahui oleh peserta, Bolehkah dikasih tanda “#materimatrikulasi” (misal untuk materi), supaya mudah di search kl sudah tenggelam.

Punten nyelang diskusi, haturnuhun.. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 😚😚😚
Jawab : Teh Lestari yang rajin… Saran saya, emailkan chat, untuk bisa dibaca lain waktu dan chat bisa dibersihkan (clear Chat) agar tidak membebani. Sekaligus menjawab pertanyaan teh Millantina. cmiiw
7. Farah Fatihah: ❔mau bertanya 

Yang dimaksud dengan memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari itu bagai mana? ✅

Jawab : Jawabannya sama dengan jawaban teh Dewi ya…

Tambahan sedikit, meletakkan buku pada tempatnya, mencegah kerusakan, rutin membersihkan (mencegah buku tersebut penuh dengan debu, misal), khusus dengan Al-Qur’an kita harus meletakkannya paling atas.
Pernah ada media yang menyebarkan gambar dimana rak buku, dijadikan tangga dan perosotan (diantara tangga tersebut diselipkan buku-buku) dan Astagfirulloh… banyak yg berkomentar bahwa hal itu adalah ide kreatif, padahal melanggar adab terhadap sumber ilmu.
-TFM- 
8. M Jaya MA IIP: â

“mohon penjelasan adab berilmu di zaman elektronika,dunia maya. Dimana ilmu skrg ini serba praktis dan mudah dicari one stop searching…mau cari ttg apapun mudah in one button. Sering kali fakta ilmu vs hoax berkeliaran, benar salah seolah beti. Kadang kendala kita mencari kebenaran sumber dan guru itu banyak, diantaranya guru yg sdh profesional dgn jam kesibukan tkt tinggi menyebabkan kita susah berkomunikasi langsung dgn sumber ilmu. Adakah sisi2 penambahan adab di zaman skrg ini? Mengingat juga hadits rasulSAW : “didiklah anak2mu sesuai zaman nya”. Hal ini mjd penting buat saya dalam memberikan contoh buat anak2 sy
Jawab :
Berikut saya lampirkan artikel dari Bu Septi, yang mungkin telah menjadi viral dibeberapa grup WA (media)
 ⁠⁠⁠💖 LITERASI MEDIA

By: Septi Peni Wulandani
Apa sebenarnya literasi media itu? Istilah literasi media mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya literasi media tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian literasi media, McCannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002).
Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan literasi media sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Salah satu definisi yang popular menyatakan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan isi pesan media. Dari definisi itu dipahami bahwa fokus utamanya berkaitan dengan isi pesan media.
Untuk memahami definisi literasi media lebih mendalam sebaiknya dipahami pula bahwa terdapat tujuh elemen utama di dalamnya. Elemen utama di dalam literasi media adalah sebagai berikut:

1) Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat

2) Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa

3) Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media

4) Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri

5) Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media. (Silverblatt, 1995)
Dulu jaman saya kuliah, susaaaaah banget unt dpt informasi, harus datang ke perpustakaan kota dan propinsi. Tapi sekarang di era digital anak2 dan kita kebanjiran informasi. Era broadcast semarak muncul dimana2 didasari satu hal baik yaitu ingin berbagi.

Nah bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tsb?

1. Tidak semua berita baik itu benar, prinsip ini yg harus dipegang pertama kali

2. Telurusi unsur kebenarannya sebelum kita menyebarkan hal baik tersebut

3. Pastikan dari sumber yang terpercaya (mulai dari buku, orang yg lsg mengalami, media kredibel)

4. Hindari kalimat copas dari grup sebelah, krn ini scr implisit “bukan saya yg bertanggung jawab atas kebenaran berita ini, saya hanya menyebar saja”

5. Kuasai materi skeptikal thinking dengan baik di era banjirnya informasi ini

6. Apabila kita ingin share hasil resume sebuah grup, mohon tuntas, jangan ada bagian yang dipotong, krn resume merupakan gambaran hasil dari sebuah diskusi. Dan jangan lupa ijin dengan penulis resume tersebut.

7. Apabila ingin mereview sebuah diskusi di group sebaiknya kita kemas dg pola pemikiran dan gaya bahasa kita, tdk hanya sekedar copas hasil diskusi. Jangan lupa cantumkan sumber dengan jelas : nama group dan nama pemateri/narasumber
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni Wulandani/

Twitter : @septipw

FB : Septi peni wulandani

Email : septipeni@gmail.com
9. Nia Agustini : ? bagaimana tips supaya tdk bosan mempelajari suatu ilmu sampai tuntas/selesai

Contohnya baca buku

Terimakasih

Jawab :

Terimakasih Teh Lia, telah membantu memberikan penjelasan.

Pertanyaannya, kenapa teh Nia merasa bosan saat mempelajari ilmu?

Pendapat saya, mungkin karena rasa ingin tahu teteh terhadap sesuatu yang teteh pelajari saran saya : kumpulkan banyak pertanyaan dari ilmu yang ingin teteh ketahui, missal kata kuncinya “Adab”

6 W 1 H

1. What : apakah arti adab itu? Apakah manfaat kita mempelajari adab?

2. Where : dimana saja kah saya bisa menemukan pengetahuan tentang adab?

3. Dst silahkan dikumpulkan pertanyaannya.

Dengan itu, intellectual curiosity kita akan meningkat, insyaAllah… cmiiw

-TFM-
10. Nurul Aini Irawati : ❓bagaimana adab jika kita ingin mengutip kata2 seorang guru, namun kita ubah dg kalimat lain yg makna nya sama

Jawab :

Siti Ulfah Az-zahra Izin jawab, sependek yg saya pahami, hal tsb sama halnya dengan saat kita membuat sebuah tulisan lalu kita membuat sitiran dari suatu sumber. Kita diperbolehkan mengubah redaksional namun maknanya harus tetap sesuai dgn sumber & menyantumkan sumber tsb 🙏

Sudah dijawab dengan baik oleh teh Ulfah, terimakasih ya…
11. Dwi Arini: ❓mau tanya, banyak sekali yg suka posting ilmu atau artikel di medsos atau share di group. Bagaimana cara mengetahui apakah ilmu atau artikel tsb benar atau hanya hoax ? Misalnya postingan mengenai kandungan bahan berbahaya di dalam makanan yg dng jelas menunjuk merek dagang tertentu.
Jawab :

Silvilia : ❓ Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Paham Sumber ilmu itu apakah orang yg menulis info tsb? Apakah Berarti juga orang tsb harus memiliki latar belakang keilmuan yg sesuai? Sedangkan info dr media online itu kan bebas dan luas, setiap orang berhak menyampaikan info yg mereka punya. 
Terima kasih teh Syivilia, atas jawabannya keren sekali.
12.🙋🏻Tsara

❓teh, bagaimana caranya membedakan sikap “merasa” lebih paham dan ingin membantu diskusi sesuai dgn ilmu yg dimiliki?

Jawab: 

🙋_mira jawab

Merasa itu adalah perasaan sendiri yg meyakini. Meyakini diri sdh paling paham. Tp selama kepahaman seseorang disalurkan dgn cara yg baik dan sopan dalam membantu menjawab pertanyaan teman, tentunya teman2 yg bertanya yg wajib merasa gelas kosong, artinya sikap menerima ilmu dari siapapun yg bisa menjelaskan ketidak mengertian kita. Demikian jawaban sy skaligus membuka diskusi dr teteh2 seperjuangan ☺

Tsara : Mungkin kl merasa paling benar, sdh tdk mau menerima pendapat orang lain ya teh?
Keren sekali jawabannya ya… saya senang karena banyak teman-teman yang cerdas disini, sangat membantu sekali.

13. 🙋 rika

❓apakah yg berhak menjawab pertanyaan dr peserta “kaitan dgn materi” hanya fasil saja atw yg lain boleh berpendpat ?

Jawab : teh Rika, sudah dijalaskan dengan baik oleh teh ulfah ya…

terimakasih teh Ulfah, atas penjelasannya…
Siti Ulfah Az-zahra 
”°BAGAIMANA PROSES BERLANGSUNGNYA PERKULIAHAN DI KELAS INI?
a. Kelas akan memiliki 1 ketua kelas, 1 sekretaris , dan  1 koordinator mingguan (koordinator mingguan akan dipilih setiap minggu)
b. Tugas *ketua kelas* adalah membuat secret group Facebook dan menerima permintaan bergabung dari peserta dan fasilitator kelas ini. Serta membuka thread untuk perkenalan masing-masing peserta.
c. Tugas *koordinator mingguan* adalah membuat thread untuk pengumpulan NHW di minggu tersebut. Kemudian merekapnya dalam sebuah dokumen yang dapat disimpan dan diakses bersama di grup Facebook.
d. Tugas *sekretaris* adalah membuat resume materi dan diskusi dalam bentuk dokumen supaya dapat disimpan dan diakses bersama di grup Facebook.
e. Ketua kelas, sekretaris dan koordinator mingguan berkolaborasi membantu peserta yang kesulitan dalam pengumpulan tugas.
f. Program akan berjalan  selama 8 kali kuliah online via WhatsApp
*g. Materi akan diposting setiap Senin pagi oleh fasilitator, setelah itu peserta bisa memulai diskusi kapanpun, interaktif dengan sesama peserta.
Fasilitator akan hadir jam 20.00 – 21.00 WIB untuk berdiskusi langsung dengan peserta.*
h. Pada Selasa pagi,  akan diberikan *Nice Homework (NHW)* yang harus dikerjakan peserta dengan batas waktu yang telah ditentukan.
i. Peserta yang sudah lulus, berhak mengikuti tahapan belajar selanjutnya dan berhak mengikuti berbagai aktivitas yang diselenggarakan di setiap kota, khusus untuk member Ibu Profesional

_kelas Matrikulasi batch #2 IIP Bandung_

Liat poin g teh, sesama member bisa diskusi saling menjawab
15. ❓🙋🏼 Arti- tanya

Pertanyaannya sama dengan teh Farah, apakah ada kata yg terlewat? Memperlakukan … ilmu dalam bentuk buku dst

Jawab :

Sepertinya sudah jelas jawabannya ya…
16. Nur Elah: ❓🙋🏼 ELah 

~ Dalam dunia OL tdk menyebarkan sumber ilmu yg di awali kalimat “kopas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana~

Apakah yg hrus dicantumkan itu nama penulisnya atau nama grupnya??

Jawab : Teh Elah, tentu nama penulisnya, dan alangkah lebih baik kita sebutkan juga seperti aturan referrensi saat skripsi, ataupun karya imiah yang lainnya

Nama, buku, halaman (acara apa), penerbit.

-TFM-

Jawaban teh Lintang juga keren banget… terimakasih ya teh lintang…

Lintang IIP Bdg: sepemahaman saya, kalo ada nama penulisnya cantumkan penulisnya.

tapi kalo mmg tulisan itu dibuat oleh tim redaksi yang terdiri dari beberapa orang, bisa sebutkan nama lembaga/wasilahnya, atau link-nya kalau mmg dari website.

maksudnya kita ga menghilangkan “credit” si penulis dan juga ga lepas tangan atas kebenaran tulisan yang kita sebar.
17. Farah Fatihah: 🙋 farah 

Klo di materi, “adab terhadap guru” poin b.. Apa berlaku juga dalam diskusi?

Jawab : tentu berlaku teh Farah, tapi dengan beberapa penyesuaian. Missal kalua offline, mendengarkan, online membaca dan menunggu, kalua offline berbicara, online menulis. Dan sebagainya… terjemahkan sendiri ya… cmiiw 

-TFM

Jawaban teh Iis juga keren, terimakasih ya…

Iis – jawab

Kalau menurut saya teh farah pion b berlaku dalam hal diskusi juga, karna jangan lupa kita harus jadi pendengar yang baik, kemudian ketika sudah teman diskusi sudah selesai bicara baru kita utarakan pemahaman kita….
18. Sonia Siti Sondari : 🙋 sonia

Teh, bagaimana jika bc itu berupa tausiah yg bersumber quran dan hadist namun tidak tercantum siapa penulisnya. Apakah boleh di ikut di share dgn tujuan saling menasihati?

Jawab :

Terima kasih teh Ulfah atas jawabannya, keren banget…

Siti Ulfah Az-zahra : 🙋 jawab – ulfah

Setau saya jika isinya hanya hadits atau ayat Qur’an tanpa ada penjelasannya rasanya cukup dgn HR. (Hadits Riwayat) atau (QS.) Qur’an Surat.

Lain halnya jika disertai penjelasan mengenai makna hadits atau ayat Qur’an tsb, tentu harus dituliskan siapa penulisnya
Sonia Siti Sondari IIP Matrikulasi: Nah itu dia teh, kita sering temui tulisan2 nasihat yg tentu ditulis dgn gaya bahasa di penulis namun dikuatkan dengan penjelasan alquran atau hadits misalnya, tulisan itu baik, namun seringkali tdk dicantumkan siapa penulis asalnya. Melanggar adab kah jika kita meng-share tulisan2 tsb.
Penjelasannya, sama dengan pertanyaan teh Risa ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s