trauma

​Bismillahirrahmanirrahim..
Oh ternyata… Luka itu bernama TRAUMA…
Alhamdulillah Malam ini anak pertamaku tidur lelap, bahkan ku temukan ada seutas senyuman dalam tidur nya…
Tidak seperti malam2 kemarin, tengah malam bangun tiba2 menangis dan menjerit jerit lama sekali, begitu menakutkan.. Bahkan saat itu kulihat bukan seperti anakku tapi bagaikan singa yg sedang mengamuk, menakutkan…
Awal nya ku kira dia sedang tepar tantrum.. Tapi Anak ku sudah hampir 5 tahun bicara nya sudah jelas.  Dia sudah bisa menyampaikan apa yang diinginkan nya dengan baik. 
Karena setau saya tantrum terjadi di rentan usia 2-4 thn, disaat anak masih mengalami kesulitan dalam berbahasa verbal dengan baik sehingga sulit bagi orang lain memahami bahasa nya. 
Tapi anakku tidak, dia sudah sangat fasih dalam berbicara.
Lalu ini kenapa?
Anda tau apa yg saya rasakan saat mendengar jeritan dan tangisan nya di malam itu? Terlebih saya masih tinggal bersama mertua..
Saya marah, kesal, takut mengganggu penghuni rumah lain, kepala terasa panas, jantung berdebar kencang, ingin rasa nya membentak, memukul atau menakut nakuti nya agar dia berhanti menangis..
Tapi tidak kulakukan, karena aku tau dari ilmu parenting yang ku pelajari itu tidak boleh.
tapi dorongan marah ini begitu besarrr ada pergolakan logika dan perasaan.. Sesaaak sekali dada ini.
Karena nya yg bisa saya lakukan hanya menangis dan berdo’a dgn suara gemetar  didepan anakku yg sedang “mengamuk”… “Ya Allah berilah bunda sabar yg banyak… Razvan adalah milikmu, tenangkanlah..” Terus kuulang, tapi itu tidak memperbaiki keadaan.. 
Aku menekan nya untuk berhenti menangis untung nya pertahanan sabarku tidak sampai roboh, aku tak samPai membentak atau memukul ny.. 
Akhir nya tangis nya pun terhenti, namuun…
meskipun tangis nya sudah berhenti rewel nya tidak hilang masih terus bersisa sepanjang hari. Rasa kesal serta marah ini pun masih ada.. Masih menggumpal di dada… Kenapa ya Allah?
Aku merasa menjadi ibu yg tidak becus mengurus anak, merasa sangat bersalah, merasa belajar segala teori parenting ini itu tak ada gunanya, merasa tidak percaya diri mengasuh mereka.
Sampai akhir nya, Allah seolah menunjukan jwaban pertanyaanku lewat seorang teman yg sangat bijak memahami dan menerima perasaan dan kegundahanku..
Ternyata akar masalah nya bukan karena ada sesuatu dengan anakku, tapi karena aku, aku ibu nya yang sedang terluka jiwa nya. 
Juga saat ini  aku sedang dalam kondisi tertekan.. lucu nya aku tak menyadari ini.. Aku tidak sadar kalau jiwaku sedak terluka..
Yaa jiwa ku terluka sejak lama bahkan sejak kecil, luka ini bernama TRAUMA..
Selama ini Aku merasa tidak dalam kondisi trauma karena tidak pernah mengalami kekerasan fisik atau emosi berlebihan, apalagi mengalami kekerasan seksual naudzubillah.
Tapi ternyata pengertian trauma itu sangat luas…
Setelah digali ternyata aku trauma karena pernah di bentak, pernah diabaikan perasaan nya, pernah dibandingkan, di labeli negatif, pernah melihat pertengkaran dan lain ny..
Dan semua luka jiwa itu dari kecil menumpuk tidak diobati sampai kini saat aku sudah punya 3 anak, tidak diobati karena aku tidak sadar bahwa jiwa ku sedang terluka.
Ditambah kami masih tinggal bersama orang tua yang memiliki pemahaman berbeda tentang pengasuhan anak.
Sekarang setelah aku sadar dan tau jiwaku terluka, aku mencoba mengikuti pelatihan menyembuhkan trauma, mencoba berdamai dengam masa lalu, dan mencoba memaafkan semua…
Aku ingin memutus mata rantai kekeliruan pengasuhan ini, sakit, sulit itu  pasti tapi dengan pertolongan Allah pasti bisa.. Yang tepenting aku tidak ingin anakku terluka jiwa nya sepertiku.
Ini adalah bagian dari ikhtiarku menjadi ibu yang sabar, karena sabar itu kalimat aktif yang harus diusahakan.
Jadi teringat nasihat Bu septi dan Bu elly yang selalu mengingatkan saat kita ingin fokus mengurus anak maka selesaikanlah dengan diri sendiri terlebih dulu.
Kini aku tau…
Biarkanlah anakmu menangis karena itu obat untuk luka jiwa nya yg terluka.. 

Biarkanlah amarah nya kesal nya mengalirrr… Jangan ditahan, apalagi di bendung oleh bentakan atau pukulan kita karena tidak tahan mendengarkan tangisan nya atau karena perasaan takut mengganggu orang lain…

Biarkanlah… 
Lebih baik keesokan hari nya kita meminta maaf atas ketidak nyamanan nya jiga td malam tidur nya terganggu..

 

Mungkin dia melewati saat2 dimana perasaan nya tidak di terima, mungkin dia melewati saat2 di olok2 oleh teman nya.. Atau yang lain nya..
Nikmatilah jeritan dan tangisan nya, saat anak nangis fokus memahami pada apa yg dirasakan nya. Bukan bagaimana menghentikan tangisan nya. Karena ternyata jika semua amarah nya sudah hilang, dia akan berhenti dan kembali tenang.
Ada yang  bilang kalau anak nangis kemauan nya harus diikutin, kalau tidak jadi bisa sakit-sakitanan. 
Sebenarnya  anak sakit bukan karena apa yg diinginkan nya tidak dipenuhu, terlebih jika tangisan nya hanya strategi untuk mendapatkan yang diinginkan nya.
Tapi karena bentakan kita, amarah kita kepada nya yg membuat jiwa nya terluka sehingga fisik nya jadi sakit..
Kini saat dia nangis, fokusku tidak lagi bagaimana cara menghentikan tangisan nya, tapi pada apa yang dirasakan nya..
Terimakasih kakang anak pertama bunda.. Membesarkan mu mengajarkan bunda banyak hal… 

Membesarkanmu mengajarkan bunda bagaimana seharus nya bersikap kepada adik2 mu kelak…

Membesarkanmu mendorong bunda untuk terus belajar menjadi ibu profesional…
Teringat perkataan abah ihsan bahwa
Sebenarnya… 

Anak bisa patuh tanpa DITERIAKI

Senang berbuat baik tanpa DIMINTA

Anak akan belajar tanpa DIPAKSA

Anak dapat mandiri tanpa DIGURUI

Anak punya ketahanan diri tanpa DIISOLASI
Kalau boleh saya tambahkan, tangga awal untuk bisa mencapai itu semua adalah bahwa anak ingin DIFAHAMI…
Ini pengalamanku dan baru sampai disini ilmu yg kutau saat ini, seiring berjalan nya waktu saat aku terus belajar untuk menjadi manusia yg lebih baik mungkin akan ada perubahan dalam pemahamanku.
I share because I care.. Mungkin ada ibu yang diluar sana pernah merasakan apa yang saya rasakan.

Semoga bermanfaat.

/Bunda RRR/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s