Gaya belajar anak

​Mengenali Gaya Belajar Anak
Apakah belajar itu? Bagaimana kita belajar? Bagaimana suasana belajar yang optimal? Dengan siapa kita belajar? Di mana tempat terbaik untuk belajar? Darimana sumber belajarnya? Apa yang dipelajari? Apa manfaat belajar? …
Setiap kita berbicara mengenai belajar akan muncul banyak pertanyaan. Hal tersebut wajar mengingat belajar pada dasarnya adalah kebutuhan setiap orang. Hasil belajar yang terbaik tentunya menjadi harapan setiap orang, baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya. 
Belajar merupakan suatu proses yang kompleks, banyak faktor yang terkait dengan aktivitas ini. Salah satu yang menentukan kemudahan prosesnya adalah mengenali bagaimana kita belajar, dikenal sebagai GAYA BELAJAR.
Gaya belajar adalah cara seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi (DePorter, 1992). Berdasarkan definisi tersebut, DePorter membagi dua tinjauannya menjadi, pertama, bagaimana seseorang menyerap informasi dengan mudah dipengaruhi oleh MODALITASnya; kedua, bagaimana mengatur dan mengolah informasi yang berkaitan dengan DOMINASI OTAKnya.
Teori gaya belajar yang paling sederhana dan paling populer adalah V-A-K, yaitu gaya belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Berdasarkan tinjauan DePorter klasifikasi ini disebut sebagai MODALITAS BELAJAR.

Seseorang dikatakan mempunyai gaya belajar visual jika dia belajar terbaik dengan melihat (seeing), mengakses citra visual; gaya belajar auditorial jika belajar terbaiknya dengan cara mendengar (hearing), mengakses segala jenis bunyi dan kata, dan gaya belajar kinestetik jika belajar terbaiknya dengan cara melakukan (doing), mengakses segala jenis gerak dan emosi.
Teori lain yang cukup dikenal adalah klasifikasi gaya belajar diturunkan dari Teori Multiple Intellegences Gardner. Gaya belajar dalam hal ini dibedakan menjadi 7 jenis, yaitu:

– Visual (Spasial), memilih menggunakan gambar-gambar, skema, grafik, dan pemahaman spasial

– Aural (Auditoral-Musikal), memilih menggunakan suara dan musik

– Verbal (Linguistik), memilih menggunakan kata-kata baik dalam bentuk lisan maupun tulisan

– Kinestetik (Fisik), memilih menggunakan gerak tubuh, tangan, dan indera peraba

– Logika (Matematika), memilih menggunakan logika, pemikiran, dan sistem

– Sosial (Interpersonal), memilih belajar secara berkelompok atau dengan orang lain

– Soliter (Intrapersonal), memilih belajar/bekerja sendiri 

Gaya belajar berdasarkan dominasi otak mengikuti model yang awalnya dikembangkan oleh Anthony Gregorc profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut, dibedakan menjadi:

– persepsi konkret dan abstrak

– kemampuan pengaturan secara sekuensial (linear) dan acak (nonlinear)
Sehingga didapatkan empat kelompok perilaku (gaya berpikir) yaitu Sekuensial Konkret (SK), Sekuensial Abstrak (SA), Acak Konkret (AK), dan Acak Abstrak (AA).

Pemikir sekuensial konkret berpegang pada realitas dan memproses informasi secara teratur, linear dan sekuensial. Realitas bagi mereka adalah apa yang dapat mereka ketahui melalui indera fisik mereka. Mereka mengingat fakta-fakta, informasi, rumus-rumus, dan aturan-aturan khusus dengan mudah. Mereka juga menyukai pengarahan dan prosedur khusus.
Pemikir acak konkret berpegang pada realitas namun mempunyai sikap eksperimental (melakukan pendekatan coba-salah) yang diiringi dengan perilaku yang kurang terstruktur. Cenderung tidak memedulikan waktu dan lebih berorientasi pada proses drpd hasil.
Pemikir acak abstrak menyerap ide-ide, informasi, dan kesan dan mengaturnya dengan refleksi serta berkiprah di dalam lingkungan yang tidak teratur yang berorientasi pada orang.

Mereka perlu melihat gambaran besar, bukan tahapannya, sehingga akan sangat membantu jika mereka mengetahui bagaimana hubungan segala sesuatunya secara keseluruhan sebelum masuk ke detail.
Pemikir sekuensial abstrak suka berpikir dalam konsep dan menganalisis informasi, sangat menghargai orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang teratur rapi. Proses berpikir mereka logis, rasional, dan intelektual. Aktivitas favoritnya adalah membaca, lebih suka bekerja sendiri daripada berkelompok. Mereka ingin mengetahui sebab-sebab di balik akibat dan memahami teori serta konsep.
Apakah satu modalitas atau gaya berpikir lebih baik dari modalitas atau gaya berpikir yang lain?

Satu modalitas tidak lebih baik daripada modalitas lainnya, hanya memerlukan cara yang berbeda. Demikian pula dengan gaya berpikir.
Tidak setiap orang harus masuk ke dalam salah satu klafikasi identifikasi V-A-K, namun kebanyakan kita cenderung pada yang satu daripada yang lainnya.
Bagaimana mengenali gaya belajar anak?

Cara mengenali gaya belajar yang paling efektif adalah dengan mengamati dan membuat pencatatan. Paling tidak begitulah yang saya lakukan pada ketiga anak saya. Mengenali gaya belajar membantu kita untuk memberikan metode yang paling cocok kepada anak untuk melalui proses belajarnya.

Lalu apa yang kita amati? Beberapa contoh di bawah ini dapat kita lakukan sebagai langkah mengenali modalitas belajar anak:

– Sikap anak ketika dibacakan, apakah anak mendengarkan dan menikmati, lebih asyik dengan gambar-gambar yang ada dalam buku sehingga cenderung tidak sabar dalam mendengarkan atau malah sibuk bergerak ke sana ke mari.

– Respon anak saat melihat gambar-gambar/tanda-tanda, apakah mereka tertarik atau acuh tak acuh.

– Reaksi ketika diperdengarkan lagu/musik atau terhadap suara-suara, apakah mereka tertarik, merasa terganggu atau tidak.

– Aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak dan kemampuan untuk duduk tenang untuk selang waktu tertentu.
Pengalaman belajar bersama ketiga anak saya, sebelum usia mereka mencapai 7 tahun, modalitas yang dominan cenderung pada auditorial dan kinestetik sehingga saya banyak membacakan pada mereka, memperdengarkan murottal, menggubah/menyanyikan lagu dan beraktivitas di luar dengan permainan-permainan fisik.

Seiring dengan bertambahnya umur dan berkembangnya kemampuan membaca, modalitas dominan yang kemudian muncul adalah visual, meskipun demikian kedua modalitas lainnya masih mewarnai gaya belajar mereka. Berdasarkan keadaan tersebut, saya selalu memasukkan ketiga modalitas dalam setiap kegiatan belajar mereka. Apalagi ketika pada beberapa subjek pembelajaran, modalitas dominan yang muncul berbeda-beda. Sebagai contoh,

– saat belajar matematika dan fisika kecenderungan gaya belajarnya adalah kinestetik, mereka harus melakukan/memeragakan sesuatu untuk mendukung pemahamannya,

– ketika mempelajari/menemukan suatu topik baru, mereka membutuhkan lawan bicara yang bersedia mendengarkan “siaran ulang” hasil bacaan mereka

– jika menemukan bacaan menarik, mereka betah menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk menuntaskan bacaan tersebut

– kesukaan ketiganya pun serupa, mereka sangat senang menggambarkan ide-idenya atau topik yang sedang dipelajari.

– sangat senang menggubah lagu dan melakukan pertunjukan dengan tema tertentu

Fasilitas belajar yang meliputi berbagai gaya belajar pada dasarnya akan membantu anak-anak mencapai hasil optimalnya karena dengan demikian kegiatan belajar dapat mencakup keterlibatan baik pasif maupun aktif dari pesertanya. Hal tersebut digambarkan dalam Cone of Learning dari Edgar Dale sebagai berikut:

– keterlibatan pasif meliputi kegiatan membaca, mendengarkan, dan melihat serta mendengar-melihat, hanya akan memberikan pemahaman sampai dengan 50%.

– keterlibatan aktif meliputi kegiatan menyampaikan dan melakukan dapat memberikan sampai dengan 90% pemahaman.
Salam,

Dita Wulandari
Bahan Bacaan:

DePorter, Bobbi, Quantum Learning, Kaifa, 1999

DePorter, Bobbi, Quantum Teaching: mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas, Kaifa, 2002

Learning Styles, http://teach.com/what/teachers-teach/learning-styles

Learning Styles, https://unh-ed604.wikispaces.com/Learning+Styles

Influential Learning Theories: Multiple Intelligences and Learning Styles, http://www.connectionsacademy.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s