plus minus full day school

​[9/14, 13:51] ‪+62 858-6204-5420‬: Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, pemerhati pendidikan anak dan keluarga, bermukim di Sidoarjo
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Edisi Pendidikan Anak
Kamis, 25 Agustus 2016
Plus Minus Fullday School (1)
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Teman, beberapa waktu yang lalu, mendikbud terpilih melontarkan wacana kebijakan sekolah fullday. Dan hebohlah se Indonesia Raya..
Berikut ini, petikan pembicaraan emak-emak tentang kehebohan itu….
“Saya ini wanita karir jeng… berangkat pagi pulang sore.. untung ada ada sekolah model fullday, jadi saya berangkat kerja anak-anak saya sekalian berangkat sekolah. Jadi saya nggak kepikiran selama kerja, karena anak saya aman di sekolah, gak khawatir kena pergaulan negatif, dia di sekolah dapat kegiatan positif”
“Eh, tapi jeng….bukannya anak-anak jadi capek.. sekolah seharian, kasihan kan… otaknya diajak kerja seharian”
“Hmmmm…. iya sih… pokoknya anak-anak sampe di rumah langsung dlosor.. tidur kadang masih pake seragam saking capeknya. Kasihan juga kadang”
➕Sekolah fullday adalah pilihan ‘aman’ bagi orangtua bekerja

➖Anak capek sekolah seharian.
“Eh iya jeng….katanya sekolah fullday mahal…berapa sih SPP nya?”
“Ya begitulah.. jutaan gitu per bulan. Mahal sih memang… eh tapi tahu nggak… karena mahal itu, jadi ada jaminan kualitasnya. Fasilitas bagus dan lengkap, pokoknya mbangun2 terus gitu… gurunya ehhmm top markotop. Karena sekolahnya mahal, gaji gurunyaa juga tinggi, makanya… banyak SDM bagus yang jadi guru di situ. Wali kelas anakku aja, lulusan S2 lho”
➖Sekolah fullday itu mahal, maka tidak semua keluarga akan mampu memilih sekolah fullday, karena beragan strata ekonomi di masyarakat.

➕Ada janji kualitas dari sekolah, baik itu menyangkut fasilitas maupun SDM guru
“Eh jeng… katanya banyak sekolah full day juga menjanjikan pendidikan akhlaq, sekolah anakmu juga?”
“Oh iya betul.. banyak program buat akhlaq anak kita… jadi nggak dapet akademis aja. Ada ngaji di sekolah, sholat sunnah, sholat jamaah, pelajaraan agamanya juga banyak, banyak kegiatan kayak life skill juga… jadi kayak hobinya anak-anak tersalurkan juga. Anakku yang laki ikut futsal, yang perempuan ikut fotografi”
“ehh tapi jeng… katanya anak-anak yang sekolah fullday pada borju.. karena anaknya orang kaya kumpul jadi satu… apa nggak pusing tuh, kalo anak kita kena gaya hidup mewah”
“Ehhhh… iya bener… aku ni pusing, anakku pokoknya gak mau barang murah.. aku sih punya prinsip yang penting fungsional. Tapi pengaruh teman memang hebat, soal barang, anakku sekarang selalu minta yang branded… alasannya biar awet, makan pun minta di resto. pusing aku..”
“Lha…katanya dapat pendidikan akhlaq di sekolah.. gimana itu. Lagipula kalo cuman kumpul anak yang kaya, apa ya anakmu jadi bisa tahu dunia yang sebenarnya.. sempit nanti mikirnya”
“Lha ya itu yang sedang kupikirkan…bingung juga kadang..”
➕Sekolah fullday menjanjikan pendidikan akhlaq, pencapaian prestasi akademis, sekaligus pengembangan bakat dan minat. 

➖Sekolah fullday yang mahal mendorong munculnya budaya borjuisme pada anak, anak hanya mendapat pergaulan homogen sesama orang kaya saja.
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Teman… khusus yang terakhir agak mengerikan. Sekolah fullday yang menjanjikan pendidikan akhlaq ternyata tidak mudah terwujud. Tapi memilih sekolah yang tidak fullday.. risikonya lebih besar, anak kita bisa kena pergaulan negatif… 
Masih layakkah fullday school jadi pilihan? Kita bahas di edisi berikutnya in syaa Allah..
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
For feedbacks please email to psychocoffeemorning@gmail.com

[9/14, 13:51] ‪+62 858-6204-5420‬: Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, pemerhati pendidikan anak dan keluarga, bermukim di Sidoarjo
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Edisi Pendidikan Anak
Selasa, 30 Agustus 2016
Plus Minus Fullday School (2)
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Anak pak Mubarok sekolah full day. Dia berteman dg anak-anak orang kaya, dan entah kapan mulainya.. dia mulai bergaya hidup mewah. Sepatu nya paling murah berharga setengah juta, “Biat awet ya… beli yg ini aja ya Pa.” “Iya pa.. ini mahal tapi awet”
Dan tiga bulan berikutnya, anak ini sudah minta ganti sepatu.. usut punya usut, istri pak mubarok juga doyan ganti asesoris..
Bukan hanya soal asesoris, makan minta diresto mahal, ulangtahun minta dirayakan di hotel, pergi ke rumah teman minta di antar sopir. Kalo ke sekolah minta diantar pake Alphard.. kalo nggak Alphard gak mau berangkat sekolah, sampai pak Mubarok harus mengalah berangkat pake Xenia. 
Anak pak Mukidi juga sekolah fullday. Tapi pak Mukidi tegas menerapkan hidup sederhana. Anak harus berangkat sekolah sendiri pake sepeda, “toh ngonthel cuma 15 menit, anggap aja olahraga”
Tas, sepatu, jam, semua benda anak pak Mukidi bukan merk mahal, “yang penting awet”. Tidak semua apa yg diminta anaknya dia turuti.. Tapi kalo soal sumbangan sosial, pak Mukidi adalah jagonya… sumbangan masjid, sumbangan sekolah, acara sosial macam-macam, Pak Mukidi sangat total jadi donatur.
Maka, anak pak Mukidi tetap bergaya sederhana. Dia santai aja makan di warteg, nggak malu jika diolokin teman karena sepatu bututnya. Juga tidak terusik dengan obrolan teman mereka tentang barang branded. Dia santai mendengarkan tapi tidak terpengaruh. 
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Jadi apakah sekolah fullday yg seringkali mahal dan berisi orang kaya itu akan membuat anak kita jadi borju? Ya bisa jadi… tapi jika pembiasaan hidup serhana di rumah kita kuat, maka tidak ada masalah. Jadi kembali kepada keluarga masing-masing. 
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Lanjut cerita… anak pak Mubarok jadi anak yang mudah terkena pengaruh teman.. awalnya hanya suja cangkruk di kafe mahal, minum kopi sambil bercanda.. .lama-lama suka pulang malam, alasannya perlu mengerjakan tugas kelompok. Setiap kali anak pulang telat, ortu langsung kontak walikelas anaknya, untuk konfirm apakah memang ada tugas. dan ternyata kadang ada kadang tidak, artinya beberapa kali pula anaknya berbohong.
Lama-lama anak ketahuan merokok, kalo dimarahi… malah marah balik dan langsung pergi ke luar rumah. 
Kalo sudah begitu, istrinya pak Mubarok akan memohon pada suaminya untuk merayu anaknya pulang… berkali-kali kejadian, dan akhirnya suatu hari tertangkap polisi ketika sedang minum miras dan pake sabu dengan temannya.
Anak pak Mukidi dengan kesederhanaannya, menggunakan waktu luang untuk ikut klub hafidz Quran dan juga untuk bisnis… jual ikan hias di hari sabtu minggu pagi-siang karena senin-jumat full untuk sekolah, dan sorenya datang ke klub hafidz Quran. aktivitas ini dilakukan atas dorongan dari ayahnya. Modal dan perlengkapan disupply pak Mukidi… tidak sampai 6 bulan… penghasilannya mencapai hampir 2 juta per bulan. tidak sampai 6 bulan juga dia sudah hafal hampir 2 juz.
☕▫☕▫☕▫☕☕
Jadi teman, apakah  sekolah full day memang memberi jaminan akhlaq? Tentu saja tidak.. pendidikan akhlaq yang utama tetap ada di rumah, pendidikan oleh orangtua masing-masing anak. 
Maka jika ada orangtua memilih fullday school dengan maksud memasrahkan pendidikan akhlaq anak kepada sekolah, maka inilah kesalahan besar, mengapa salah? *karena telah terjadi pengalihan tanggung jawab pendidikan anak*
Dalam sebuah siaran radio, ketika saya sampaikan bahwa memilih sekolah fullday bisa jadi adalah bentuk pengalihan tanggung jawab mendidik anak, seorang pendengar protes. Kalo memilih sekolah fullday aja dianggap mengalihkan tanggungjawab, apalagi mengirim anak ke pesantren. Pesantren atau jika pake istilah kerennya boarding school… Bukan hanya fullday tapi malah fulltime.
Bagaimana itu bu ani….hayoooo….
Oke… soal pengalihan tanggung jawab ini akan dibahas pada edisi selanjutnya.. in syaa Allah
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
For feedbacks please email to psychocoffeemorning@gmail.com

[9/14, 13:52] ‪+62 858-6204-5420‬: Psycho Coffee Morning
Oleh : Ani Ch, pemerhati pendidikan anak dan keluarga, bermukim di Sidoarjo
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Edisi Pendidikan Anak
Kamis, 1 September 2016
Plus Minus Fullday School (3)
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Bunda Gina adalah wanita karir, dia berkantor di bank swasta, pergi pagi pulang sore ato malam, suaminya tugas di luar kota dan hanya pulang dua bulan sekali. Maka urusan anak dan rumah tangga jadi urusan dia seorang. Suaminya jika ditelpon hanya jawab terserah kamu…
Bunda Gina memilih fullday school untuk kedua anaknya, kelas 1 dan kelas 5, dia pikir ini pilihan paling aman. untuk urusan kerumahtanggaan, dia punya satu asisten rumah tangga yang siap sedia di rumah 24 jam, asisten RT andalan, bisa masak, bisa bersih2, bisa anter jemput anak sekolah, kadang juga nemeni anak2 belajar ato bobok jika Bu Gina pulang malam.
Kalo ditelpon ustad ttg masalah anaknya…cuma dijawab… saya titip titip ya ustad, ayahnya ini di luar kota, anaknya saya diapain terserah deh… gimana baiknya.
Dan jadilah si anak… bermasalah di sekolah, karena di rumah kecanduan game, belajar di sekolah tak fokus, nilainya jelek, dan jadi anak pembangkang. 
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Bunda Vina adalah ibu rumah tangga.. dia dan suami bersepakat memilih fullday school karena setelah survey… hanya sekolah fullday yang menawarkan pendidikan akhlaq. 
Setiap pagi, suami bu Vina dapat jatah nganter anak sekolah, biar sempet ngobrol sepanjang jalan, dengerin cerita anak, juga menasihati anak. Bu Vina pagi beberes rumah, setelah itu jadwal dia mengaji, senin kelas hafalan, selasa kajian fiqih, rabu belajar tarjamah, kamis halaqoh. Free hanya hari jumat aja, digunakan mengaji mandiri dirumah. Sore adalah waktunya untuk menjemput anak, dan pulang sekolah anak harus segera mandi persiapan sholat dan mengaji bersama bunda, malam menemani anak. kadang belajar kadang ngobrol.
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Bunda Tina memilih pesantren untuk anak tunggalnya. Rumah tangganya hancur, suaminya selingkuh, mereka bercerai dan keluarga besarnya tidak memberi dukungan, semua orang bilang…gaya hidup mewahnya membuat suaminya meninggalkan dia, padahal dia berfoya-foya bersama sosialita karena kesepian. 
Bu Tina nggak pengen anaknya seperti ayahnya juva seperti dia, sholat 5 waktu aja belum beres, pikiran kacau… toh, kalo sama orangtua..anak tunggalnya selalu membangkang, mungkin karena terlalu dimanja waktu kecil.
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Bu Rina juga mengirim anak-anaknya ke pesantren. Karena budaya keluarga… bu rina dan suaminya juga alumni pesantren. 
Pesantren mereka nilai sebagai pilihan terbaik, karena pagi hari anak belajar di sekolah pada umumnya, sore dan malam hari diniyah.
Meski jauh disana, Bu Rina selalu merasa terikat dengan anaknya. Dia bangun dini hari… shalat malam sebagaimana anaknya di pesantren. Bada subuh, dia dan suaminya saling setor hafalan Quran… karena berharap anaknya disana juga bersemangat menghafal Quran. Bu Rina dan suaminya juga rajin mengikuti kajian di mesjid dekat rumah mereka. 
Dan anak-anak mereka di pesantren sangat semangat belajar ilmu agama…
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Teman….apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan? Memilih sekokah fullday atau pesantren dengan harapan anak akan jadi baik itu boleh… Tapi segala amalan kan bergantung niat… Jika niat orangtua memasrahkan pendidikan anak ke sekolah atau pesantren… maka ini sudah menjadi *proses pengalihan tanggung jawab*. *Dan itu jelas salah besar* …yang ditanya di akhirat tentang anak kan *orangtuanya*… *bukan sekolahnya.*
Jika niatan orangtua memilih fullday school atau pesantren sebagai usaha mencari *rekan mendidik anak*… lha ini baru sip. Sekolah adalah partner orangtua… bukan penanggung jawab  pendidikan anak kita. Maka ketika ada masalah pada anak, orangtua perlu koreksi dulu pendidikan di rumah, jangan buru-buru menyalahkan atau protes ke sekolah. 
Di sisi lain, banyak para ulama yang menyarankan RIYADHOH untuk mengawal proses pendidikan anak. Riyadhoh orangtua adalah sebuah rangkaian kegiatan untuk melatih diri  menjadi pribadi yang lebih baik (karena kekurang-ilmu an orangtua). Dalam hal ini kita kaitkan dengan perbaikan diri melalui perbaikan ibadah, sehingga semangat orangtua dalam memperbaiki diri inilah yang akan menjadi sambungan energi semangat bagi anak. Bukankah separuh lebih pendidikan anak itu bersumber dari keteledanan orang tua?
Bu Vina yang ikut kajian, bu Rina yang bangun malam… yang lalu menghafal Quran… adalalah riyadhoh… kalo pake bahasa jawa.. ada yang menyebutnya tirakat. Usaha semacam ini jelas tidak mencerminkan bentuk pengalihan tanggung jawab pendidikan. Orangtua tetap memegang amanah utama..
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
For feedbacks please email to psychocoffeemorning@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s