tahap perkembangan psiko anak childhood optimizer

​MENGAPA SIH ORANGTUA SIBUK BEKERJA, (TETAP) HARUS BERKOMITMEN MAIN DENGAN ANAK?

Oleh: Adlil Umarat (Pak Ading) –Childhood Optimizer Trainer–
Dulu ketika masih bekerja kantoran di Kebon Jeruk Jakarta Barat, saya benar-benar merasakan betul bagaimana sulitnya punya waktu bermain dengan anak saya, Afiqah Humayra Umarat. Waktu saya, lebih banyak habis di jalanan ibukota yang kejamnya luar biasa. Berangkat bisa 2-3 jam karena rumah saya di Cibubur. Pulang juga demikian. Kalau hujan bagaimana? Ya sudahlah. Hanya bisa pasrah. Pasti terjebak macet-cet-cet. Mau itu naik kendaraan sendiri, atau naik kendaraan umum, sama saja. Terima nasib. 
Apa akibatnya terlalu lama di jalanan? Tentu saja, jatah waktu bermain dengan anak, menjadi lebih sedikit. Kita pulang kerja, anak sudah tidur. Kita berangkat kerja, anak masih tidur juga. 
Pertanyaannya, mengapa sih kita harus berkomitmen main bersama anak? Nah, tulisan kali ini akan mencoba menjelaskan faktor ‘WHY’ alias mengapa orangtua harus berkomitmen meluangkan waktu untuk bermain dengan anaknya. Khususnya ini berlaku buat orangtua yang punya kesibukan teramat sangat di kantor.
Menurut Erik Erikson—seorang psikolog Amerika kelahiran Jerman yang beraliran developmental psychologist—ada 8 tahapan perkembangan psikososial manusia yang harus diperhatikan betul. Namun saya akan bahas hanya 4 tahapan saja, sesuai concern saya pada anak usia dini. 
Fase pertama, 0-18 bulan (bayi) adalah fase genting membangun trust (percaya) vs mistrust (tidak percaya). Prestasi sosial pertama bayi adalah adanya kelegaan melepaskan ibunya dari pandangannya tanpa ada kemarahan, keraguan, ketakutan karena ia yakin ibunya akan kembali.
Resolusi yang diharapkan adalah anak membangun kepercayaan bahwa lingkungan bisa diandalkan dalam hal memenuhi kebutuhan mendasarnya. Orangtua bisa memberikan dorongan dan harapan kepada anak.
Jika gagal menangani konflik di fase ini, akibatnya anak tidak percaya dan takut terhadap orang dan objek di lingkungan. Ia juga tidak cepat beradaptasi karena rasa percayanya pada keputusan-keputusan diri sendiri dan orang lain rendah. Ia bisa berada pada posisi menarik diri atau depresi di masa dewasanya.
Pada fase ini, anak butuh kenyamanan maksimal dengan minimal ketidakpastian untuk percaya pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Relasi utama yang sangat ia butuhkan adalah sosok yang melahirkannya, yaitu IBU.
Fase kedua, 18 bulan-3 tahun (toddler) adalah fase penting membangun autonomy (kemandirian) vs shame & doubt (malu & ragu). Anak mencoba menggunakan secara mandiri dalam eksplorasi dan mencoba batasannya. Kata favoritnya adalah “tidak” dimana itu merupakan deklarasi kemandiriannya dan  tawaran untuk meningkatkan otonominya.
Resolusi yang diharapkan adalah anak belajar apa yang ia bisa kontrol dan membangun keinginan yang bebas dan melebihi batasan. Orangtua bisa melatih kontrol diri dan keinginan kuat anak.
Over-protektif atau tidak konsisten dalam disiplin akan membuat toddler dengan keraguan pada diri sendiri dan terhambat kemandiriannya.
Pada fase ini, anak butuh belajar untuk menguasai lingkungan fisik ketika mengelola penghargaan terhadap diri sendiri. Siapa yang paling ia butuhkan? Relasi utamanya adalah sosok AYAH.
Fase ketiga, 3 – 5 tahun (pre-schooler) adalah fase penting membangun initiative (inisiatif) vs guilt ( rasa bersalah). Kata favoritnya adalah “kenapa?”. Dimana di sana ada rasa penasaran dan keterbukaan untuk belajar. Anak memulai inisiatif, tidak meniru dalam kegiatannya. Ia membangun kata hatinya & identitas seksualnya.
Resolusi yang diharapkan adalah anak berinisiatif dalam aksi, eksplorasi, dan berimaginasi, dimana perasaan mempengaruhi aksi. Hal yang ia butuhkan dari orangtua adalah arahan & punya tujuan.
Apa dampaknya jika gagal di fase ini? Anak merasa tidak berharga dan dipenuhi ketakutan bahwa hampir semua inisiatif dirinya sendiri berjalan salah. Ini terjadi jika orangtua sering tidak memberi kesempatan dan kepercayaan kepada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Pada fase ini, anak butuh belajar bahwa ia bisa menginisiasi rencana dan melihat hal-hal berlalu. Bisa membuat keputusan dan memimpin orang lain. Relasi utama anak adalah KELUARGA INTI.
Fase keempat, 5-13 tahun (grade-schooler) adalah fase penting membangun industry (daya juang) vs inferiority (inferioritas). Anak mencoba membangun konsep dirinya, dengan menemukan skillnya. Belajar tentang skil dalam berbudaya.
Resolusi yang diharapkan adalah anak belajar melakukan banyak hal secara baik atau benar dalam perbandingannya dengan standar orang lain. Ia merasa kompeten. Hal yang dibutuhkan dari orangtuanya adalah membangun/ memperkenalkan metode & kompetensi.
Apa dampaknya jika gagal di fase ini? Anak akan patah hati dalam mengambil inisiatif dan untuk menjadi produktif. Anak meragukan kemampuan dirinya sendiri. Ia merasa inferior (kerdil) dari orang lain.
Pada fase ini, kebutuhan anak adalah perlu membangun rasa bangga dalam menyelesaikan misi (prestasi). Relasi utamanya adalah TETANGGA dan SEKOLAH.
Nah, Aybun (Ayah-Bunda), begitulah kira-kira tahap perkembangan psikososial anak manusia menurut Erik Erikson—profesor di Yale & Harvard University– ditilik dari aspek konteks krisis, resolusi, dampak, kebutuhan, dan relasi utamanya. 
Untuk itu, sebagai orangtua, menjadi penting bagi kita untuk bisa mengoptimalkan masa kecil anak kita dengan menjalin interaksi (komunikasi) yang intens dan bermakna dengan anak. Supaya apa? Agar kita tahu ada di tahapan mana anak kita berada. 
Apakah ia sudah terbangun trust-nya, atau justru mistrust? Apakah ia sudah terbangun kemandiriannya atau justru masih malu & ragu? Apakah ia sudah terbangun inisiatifnya atau justru ia merasa bersalah terus? Apakah ia sudah terbangun daya juangnya atau justru merasa lemah? Di sinilah fase MAHAPENTING pembangunan jati diri seorang anak manusia, yang menentukan kelak ia sukses atau gagal dalam kehidupannya yang semakin kompleks tantangannya. Jika kita melewatkan kesempatan emas ini, kita sebagai orangtua akan menanggung akibatnya sepanjang hidup.
Dan cara interaksi terbaik dengan dengan anak Aybun (Ayah-Bunda) adalah dengan mengajaknya bermain penuh makna bersama-sama. Di situ kita bisa menilai tahap perkembangan anak kita secara natural, tanpa tekanan. So, mari sempatkan bermain dengan anak, meski sesibuk apapun kerja kita. 
“Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!”
JOIN FB grup: Optimasi Masa Kecil Anak  http://bit.ly/29uiEJs

Like Fan Page: Adlil Umarat Childhood Optimizer  http://bit.ly/29XHgyN 

Web: http://www.childhoodoptimizer.com

E-mail: childhoodoptimizer@gmail.com

Twitter: @pukul5pagi

LinkedIn: Adlil Umarat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s