Hati2 mendidik anak

* Kenapa Anakku Tidak Shalih atau Shalihah ? *

Keshalihan itu bisa diturunkan…

Karena keshalihan bapak-ibu atau kakek-nenek, maka Allah akan menjaga anak keturunan mereka dan menjadikan anak dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang shalih…

Dalam munajat mereka terselip untaian doa :

وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Kita sungguh berangan-angan bisa memiliki anak yang shalih dan cerdas seperti Imam al-Bukhari dan juga para ulama yang lainnya…

Ternyata, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayah beliau yang bernama Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim…

Ahmad bin Hafsh berkata :

دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi’iyyah al-Kubra II/213).

Setelah sang ayah meninggal dunia maka Imam al-Bukhari dipelihara dan dirawat oleh sang ibu. Akan tetapi pada hakekatnya Allah-lah yang telah memelihara Imam al-Bukhari dan memberikan keshalihan kepadanya karena keshalihan ayahnya…

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)

Al-Haafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وقد قيل إنه كان الاب السابع وقيل العاشر. وعلى كل تقدير فيه دلالة على أن الرجل الصالح يحفظ في ذريته

“Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ketujuh, dan dikatakan kakek yang kesepuluh. Dan apapun pendapatnya (kakek ke 7 atau ke 10) maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ketujuh karena keshalihan seseorang…

Sa’iid bin Jubair rahimahullah berkata :

إِنِّي لَأَزِيْدُ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِ ابْنِي هَذَا

“Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini”

Berkata Hisyam : “Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya” (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa’ IV/279)

Sekarang coba renungkan tentang diri kita, baik sebagai ayah atau pun ibu…apakah sudah termasuk orang-orang shalih…? Banyak beribadah…? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat ?

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel…, masih lalai dengan shalat…, tidak mau diajak shalat ke masjid…, sulit untuk menghafal al-Qur’an.., tidak mau ke taklim…, tidak mau menutupi aurat…dll.

Allah Ta’ala berfirman :

لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ

“Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan (pula) seorang ayah menderita karena anaknya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Bisa jadi sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya seseorang benar-benar terhalang dari rezeki (mendapatkan anak yang shalih) dengan sebab dosa yang dilakukannya” (HR. Ibnu Majah no. 90 dan 4022, Ahmad V/277, ath-Thabrani dalam ad-Du’aa no.31 dan al-Hakim I/493, hadits dari Tsauban, lihat Shahih Sunan Ibnu Majah no.73)

Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya. Lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih ?

Seorang salaf berkata :

إِنِّي لَأَجِدُ أَثَرَ الْمَعْصِيَةِ فِي أَهْلِي وَدَابَّتِي

“Sungguh aku mendapati dampak buruk (jika aku)  bermaksiat pada keluargaku dan tungganganku”

Ketika Imam asy-Syafi’i dimintai nasihat oleh Khalifah Harun ar-Rasyid agar anak-anaknya bisa menjadi orang yang shalih, maka ia berkata :

“Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menjadikan anak-anak Amirul Mukminin orang-orang yang shalih adalah PERBAIKI DIRIMU terlebih dahulu”

Akan tetapi bisa saja Allah Ta’ala menguji seorang yang shalih dengan anak-anak yang durhaka, sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuh ‘alaihis salaam dll…

Makanya Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ . إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Ath-Thaghaabun [64]: 14-15)

Akan tetapi pada asalnya bahwa jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta’ala akan menjaga anak-anaknya…

Wahai saudaraku…

Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah ?

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya ?

Dan jika engkau menginginkannya…

Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua ?

Allah Ta’ala berfirman :

فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۗ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

🔊 Ust. Najmi Umar Bakkar

Hati hati kita mendidik anak kita👇🏻

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s