Homeschooling bag 5-selesai

[4/2, 05:57] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 5 🌸🌸

Memutuskan homeschooling atau regular school sama-sama membutuhkan pertimbangan yang matang.
Homeschooling membutuhkan komitmen dan involvement 100% dari kedua orangtua di dalam pendidikan anak. Salah satu orangtua harus dapat lebih banyak menemani, mengawasi, dan mengatur kegiatan belajar si anak, selain untuk tempat berdiskusi dan bertanya anak.

Homeschooling menerapkan sistem belajar mandiri. Dimana anak harus “iqra”. Belajar membaca secara kontekstual bukan secara tekstual dan simbolik saja.

Homeschooling mungkin masih dianggap sesuatu yang berat karena pola kemasyarakatan kita yang kadung begitu nyaman dengan formalitas. Ada kalanya sesuatu ditempuh dengan perjuangan ekstra hanya untuk suatu strata yang umum di masyarakat. Itulah yang mungkin membuat ide homeschooling masih sulit diterima di masyarakat.
Citra “ketidakformalan” homeschooling masih dianggap tembok pemisah yang membuat masyarakat enggan menengok lebih jauh ke dalam tentang apa dan bagaimana homeschooling itu.

Legalitas homeschooling di Indonesia

Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Sebagaimana diatur dalam Undang – Undang Dasar Tahun 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) yang berbunyi:

Ayat (1): Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Ayat (2): Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Anda yang memilih homeschooling tidak perlu khawatir mengenai legalitas homeschooling di Indonesia. Karena sesuai dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003. Disebutkan bahwa ada tiga jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), nonformal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan).

Selengkapnya mengenai pendidikan informal, terdapat dalam pasal 27 Undang–Undang No. 20 tahun 2003 sebagai berikut:

(1)   Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

(2)   Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

(3)   Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Berdasarkan Undang–Undang ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan homeschooling legal di Indonesia. Selain itu, siswa homeschooling memiliki kesempatan untuk mengikuti ujian dan memperoleh ijazah kesetaraan yang dikeluarkan oleh Depdiknas, yaitu:

paket A setara SD   paket B setara SMP   paket C setara SMU

Siswa homeschooling juga memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Kalau sekolah ke luar negeri gak bisa, dong? Ish, bisya, insyaAllah..

Peraturan Homeschooling

Peraturan homescholling di Indonesia terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah” (homeschooling). Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan: yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain. Sementara bisa dalam bentuk tunggal, majemuk, dan komunitas dimana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana kondusif. Ini bertujuan agar setiap potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Kemudian pada pasal 7 Ayat (1) disebutkan: kurikulum yang diterapkan dalam sekolah rumah mengacu pada Kurikulum Nasional. Berikutnya, Ayat (3): kurikulum yang dimaksud sebagaimana Ayat (1) yang digunakan dapat berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan, dengan memperhatikan secara lebih meluas atau mendalam bergantung pada minat potensi dan kebutuhan peserta didik.
[4/2, 05:57] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 6 🌸🌸

Mulai berkenalan dengan homeschooling…

1. Homeschooling membuat kita seperti memperoleh kesempatan kedua menemukan kejeniusan pribadi kita saat mendampingi ananda. Karena ketika mengoptimalkan waktu dengan ananda, kita mengoptimalkan kejeniusan mereka.

2. Anda siap menjadi homeschooler jika: suka membacakan buku untuk mereka, suka menghabiskan waktu bersama mereka, menjelajah bersama mereka dan yang terpenting, Anda mencintai anak-anak dengan segenap potensi dan siap membantu mengembangkannya. ^^

3. Anak-anak Anda suka sekali belajar!
Sesungguhnya minat belajar itu alami. Seperti selama ini mereka selalu penasaran dengan hal baru lalu bersemangat mencobanya. Belajar tengkurap, belajar bicara, hingga belajar berjalan.
Ketika itu Anda mendampingi mereka dan berbahagia dengan pencapaiannya!
Anda bisa merasakannya lagi saat melihat eksperimen mereka berhasil. ^^

4. Keluarga homeschooling belajar bersama karena memahami konsep bahwa belajar itu proses seumur hidup.

5. Homeschooler memiliki pengalaman sosialisasi yang sehat karena bisa bergaul dengan multiple age dalam rentang waktu yang luas. Dan yang paling penting, mereka bisa sangat terbuka dengan orangtuanya.

6. Homeschooling bukan tentang 6 atau 8 jam belajar dalam sehari seperti halnya di sekolah formal, tapi mendesain rencana pendidikan yang cocok bagi anak tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga.

7. Bersama komunitas homeschooling, Anda bisa jadi fasilitator kegiatan untuk anak-anak Anda.

8. Terkadang merasa anak tidak belajar lalu menemukan kembali semangat bersama homeschooler yang lainnya.

9. Anda mungkin bisa menunda memberi anak-anak pelajaran aljabar hingga mereka membutuhkan itu.

10. Beri kepercayaan kepada ananda karena sebelum usia sekolah mereka sudah mempelajari banyaaaak hal tanpa sekolah. ^^

💕💕
[4/2, 05:57] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 7 🌸🌸

Jika Anda tertantang untuk menjadi homeschooler, sebaiknya Anda bergabung dalam satu komunitas yang bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Tak jarang kelelahan dan rasa bosan mungkin menyapa jiwa Anda karena harus terus memantau aktivitas anak-anak. Bisa jadi karena asyik, Andalah yang enggan melewatkan momentum tanpa menyelipkan pelajaran untuk mereka.

Di sini yang dibutuhkan bukan Anda yang superman di semua bidang, tapi Anda yang punya kemauan belajar tinggi!

Seorang homeschooler berarti juga good learner, terbuka terhadap informasi dan mau beradaptasi.

Mungkin bercerita atau mendengar cerita homeschooler lain bisa menjadi obat untuk kegundahan Anda🙂

Mengapa tidak “cuti” sejenak, sehari tanpa anak-anak yang bertanya ini itu? Karena mungkin bisa membuat Anda merasa kehilangan. Jadi, nikmati dan hayati momen indah ini. ^^

Apa yang harus ada pada diri seorang homeschooler:

1. Sabar
2. Fleksibel
3. Mau bernegosiasi
4. Terbuka
5. Mau belajar dan berusaha memenuhi 10 aspek dari karakter muslim sejati, yaitu:
a. Selamat akidahnya
b. Benar ibadahnya
c. Kokoh, kuat, dan luhur akhlaknya
d. Kuat jasmaninya
e. Berwawasan luas, memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah
f. Tahan banting,  pantang berputus asa
g. Baik dan disiplin dalam mengelola waktu
h. Teratur dalam setiap urusan
i. Mandiri secara finansial
j. Bermanfaat untuk sesama
[4/2, 05:58] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 8 🌸🌸

Ketika Memilih Homeschooling

Tulisan ini akan dibuka dengan suatu pesan dari Rasulullah saw.
“Ibnu Umar r.a. berkata: ‘Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungjawaban) dari hal-hal yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Tanggung jawab pendidikan anak, baik mental, intelektual, spiritual, dan finansial, berada di tangan orangtua. Tak peduli orang tua siap atau tidak.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya orangtua memahami kondisi psikologis, kecenderungan potensi, dan bakat anak lalu memetakan kelemahan dan kelebihannya untuk kemudian membuat rencana untuk memaksimalkan atau menguranginya karena pendidikan adalah tentang usaha terus-menerus menumbuhkan minat dan menyiasati kekurangan yang ada pada anak-anak.

Ketika memilih homeschooling, tidak berarti kita harus super segalanya.
Kita hanya dituntut untuk berkemauan kuat dalam belajar, mau berusaha memahami dan menguasai informasi sesuai dengan perkembangan zaman, dan tak lupa sebagai kompas yang memberi arah dari Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pijakan kehidupan anak.

Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa peran orangtua homeschooler yaitu sebagai:
1. fasilitator,
2. organisator, dan
3. manajer.

Bila kita petakan, sifat yang harus dimiliki sebagai orangtua adalah:
1. sabar,
2. mau bernegosiasi,
3. tanggap,
4. fleksibel,
5. suka perubahan,
6. memahami kebutuhan dan keinginan anak,
7. mengetahui kemampuan dan ketertarikan anak,
8. memahami kondisi fisik, psikologis, dan mood anak, dan
9. kreatif.

Langkah pintar berikutnya adalah sebagai berikut.
1. Berburu informasi seputar homeschooling.
2. Aktif dalam komunitas homeschooling.
3. Belajar dari para homeschooler yang sudah berpengalaman
4. Menentukan best starting point.
5. Mengambil keputusan.

a. Ambil waktu 6 bulan sebagai periode eksplorasi.
b. Memilih kurikulum.
c. Menentukan gaya belajar.
d. Menentukan model dan metode.
e. Melakukan evaluasi secara konstan.

📌 Persiapkan ananda
Proses belajar di rumah sepenuhnya dilakukan untuk kebaikan, kenyamanan, dan pemenuhan kebutuhan anak.
Anak harus mendapatkan kondisi dimana mereka mencintai proses belajar dengan cara yang paling menyenangkan. Anak selalu dirangsang untuk mengeksplorasi apapun yang ada di sekitar mereka baik internal maupun eksternal diri mereka, sehingga jika rangsangan ini berhasil, anak akan mendapatkan poin utama dari pendidikan, yaitu menjalani proses belajar karena motivasi dari dalam diri mereka sendiri.
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 9 🌸🌸

Mitos Seputar Homeschooling

1. Anak homeschooler tak bisa bersosialisasi
Kenyataannya, anak di sekolah formal juga tidak selalu mendapatkan teman karib satu sekolah. Apalagi jika yang dimaksud sosialisasi sempit semacam bullying, budaya tidak jujur, tawuran, atau hal negatif lainnya.
Dengan homeschooling diharapkan anak mendapatkan tempat bersosialisasi yang positif dan bisa bergaul dengan orang yang dapat memberikan teladan bagi tumbuh kembang sisi psikologisnya.

2. Orangtua tidak PD menjadi guru
Seringkali kalimat ini tercetus akibat pola penilaian yang terlanjur mengakar di masyarakat kita. Ada anggapan bahwa guru adalah orang yang serba tahu, berdiri dan berbicara sepenuh waktu untuk berbagi ilmu dan didengar siswa, juga tak pernah berbuat salah. Padahal di dalam homeschooling, siapapun bisa menjadi guru.
Mereka yang bisa menghantarkan ilmu dan membantu memecahkan suatu misteri ilmu, layak menyandang status guru.
Tukang cincau yang mahir mendeskripsikan cara pembuatan cincau dari daun hingga menjadi sajian sedap, layak menjadi guru.
Penjual batu yang bisa menjelaskan cara memilih batu yang baik, juga layak disebut guru.
Karena fungsi guru sejatinya adalah menanamkan konsep belajar yang mandiri, mental pantang menyerah  dan sikap yang menjunjung tinggi profesionalisme.

3. Harus ada alokasi waktu khusus seperti di sekolah
Bayangan kaku ini tentu saja membuat galau.
Bagaimana dengan pekerjaan rumah?
Refreshing?
Hobby?
Bukan itu… Homeschooling seharusnya dibuat lebih fleksibel dengan aktivitas kita karena sistem belajarnya yang mandiri.
Orangtua disini hanya memfasilitasi, bukan mengambil alih alur pembelajaran. Tumbuhkan motivasi dalam diri mereka.
Biarkan mereka berinovasi, mengambil inisiatif, lalu dorong menjadi ahli.

4. Jam belajar HS kurang memadai
Durasi belajar bukanlah ukuran kesuksesan sebuah proses pembelajaran. Dengan memilih topik bahasan, tentu efektivitas belajar menjadi lebih optimal.

5. Homeschooler tidak disiplin
Dalam masyarakat sering kita temukan kasus dimana anak hingga orang dewasa mengabaikan suatu peraturan padahal peraturan itu telah dibuat dengan kuat.
Sementara bagi kita, seorang muslim, hakikat disiplin sejatinya adalah komitmen kuat yang lahir dari kecintaan. Itulah sebabnya yang pertama harus kita tanamkan adalah adab.
Ketika mereka komitmen terhadap adab, komitmen terhadap hak Allah, tak ayal disiplin pada peraturan buatan manusia pun adalah suatu keniscayaan.
Sebuah good value yang sangat menggiurkan, bukan?

6. Homeschooler tidak berijazah
Biidznillah, saat ini Sabumi dan HSMN sedang berproses untuk dapat menerbitkan ijazah bagi para homeschooler. ^^
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Kendala 🌸🌸

Bersama kesulitan ada kemudahan🙂
Kendala itu bergantung pada sudut pandang kita. Jika kita berenergi positif, yang tampak adalah tantangan dan kita akan menemukan solusinya.
Jika kita berkecil hati, sederet “ujian” hanya akan menambah daftar panjang kelelahan. ✊🏻

1. Bagaimana dengan sosialisasi?
2. Bagaimana membuat program HS?
3. Adakah kurikulum yang siap digunakan oleh homeschooler pemula?

✨✨✨✨✨✨✨

Kabar gembira untuk homeschooler pembelajar hebat.🙂

Insya Allah Sabumi bersama HSMN sedang berproses untuk dapat menyediakan “School of Box”, seperangkat alat pembelajaran yang berisi:

1. Manual teaching bagi orangtua
2. Lesson plan untuk satu tahun
3. Buku bacaan untuk referensi
4. Workbook (buku latihan)
5. CD/DVD/video
6. Crafting supplies
7. Portofolio binder
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: 🌸🌸 Bagian 10 🌸🌸

Alangkah bijaknya jika kita memperhatikan hal berikut ini sebelum menyusun atau memilih sebuah kurikulum.

1. Orientasi akademik
Apakah kita akan memfokuskan belajar di dalam negeri atau go international
2. Nilai keluarga
Banyak kurikulum HS yang didesain untuk dapat menanamkan konsep tertentu. Itulah mengapa kita harus selektif ketika memilih komunitas homeschooling maupun mengadopsi nilainya
3. Gaya belajar
Gaya belajar dalam homeschooling lebih fleksibel dibandingkan sekolah formal. Tidak perlu berkutat di depan buku selama 8 jam sehari, jalan-jalan ke pasar pun bisa menjadi salah satu cara belajar
4. Kemampuan finansial
Bagaimana isi kurikulum yang akan diterapkan sebenarnya bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial yang kita miliki. Jadi, tidak perlu memaksakan diri harus begini begitu, manfaatkan saja yang ada
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: 📝 Untuk Dipahami:

1. Homeschooling bukanlah memindahkan sekolah ke rumah.
2. Pintar bukan hanya dinilai dari kemampuan menghafal dan kepandaian dalam berhitung.
3. Orangtua yang mampu menjadikan anak sebagai happy independent learner, akan menjunjung tinggi tanggung jawab, inovasi, hasil karya, percaya diri, pantang menyerah, dan mampu menerima kegagalan, bukan sekadar selembar ijazah yang seringkali memangkas cara berpikir dan mengerdilkan segala potensi.
4. Homeschooling dipilih karena orangtua paham, pendidikan berkualitas tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak uang yang harus dikeluarkan.
5. Terobsesi menjadikan anak hebat di segala bidang hanya akan menyisakan frustasi dan tidak menikmati proses bersama yang bersejarah.
6. Bijaksana dalam memberikan pelajaran. Hargai setiap potensi anak karena yang wajib dipelajari adalah agama.
7. Bukan harus menjadi serba tahu, tapi orangtua harus tahu dimana bisa mendapatkan informasi.
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: Ada yang sejatinya harus kita renungkan sebagai orangtua, sebuah hadits dari kekasih tercinta..
Sepeninggal kita nanti, selain shadaqah jariyah dan ilmu yang bermanfaat, tak ada lagi yang dapat kita harapkan selain anak-anak saleh yang mendoakan.
“Artinya, fokus kita harus menjadikan mereka saleh dulu lalu muncul tindakan untuk mendoakan kita. Maka, atas doa anak-anak kita, yang harus kita risaukan adalah iman mereka. Kesalehan mereka. Bukan yang lainnya”
Ust. Fauzil Adhim dalam Segenggam iman Anak Kita.
[4/2, 05:59] ‪+62 896-1948-4484‬: Referensi:
Al-Quran
Tarbiyatul Aulad, Abdullah Nashih Ulwan
Maj’muatur Rasail, Hasan Al Banna
Sirah Nabawy, Abdul Hasan Ali al-Hasani An-Nadwi
Segenggam Iman Anak Kita, M. Fauzil Adhim
Panduan Homeschooling, Maulia D. Kembara, M.Pd
Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah
Untukmu Kader Dakwah, Rahmat Abdullah
Dengan Pujian bukan Kemarahan, Nesia Andriana Arif
Totto Chan, Tetsuko Kuroyanagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s