Fc juga

[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: JUKLAK AIR PUTIH SAHIBERS.

Setiap 25 kg BB,butuh air putih 1 liter.Makin gemuk makin banyak kebutuhan arput nya.

Cara minum:

1.Kasih jeda sesuai transit time yang dimakan.
– Buah sdh tercerna 15 menit sd 45 menit( pisang,mangga) ,jadi setelah makan buah bisa minum arput pada menit ke 15 sd 45 tsb.
– Jika minum banyak lebih amannya selisih 1 jam.
– Contoh tiap 1 jam buah,1 jam lagi arput.Begitu seterusnya.
– Transit time sayur nasi 2 jam.Jadi boleh minum banyak setelah kurleb 2 jam.
-Transit time prohew 4 jam.Jadi boleh minum banyak setelah kurleb 4 jam.
Telur ikan lbh cepat( tdk sampai 4 jam)

2.Tidak usah terlalu dipusingkan dengan hal mendetail.Minum dengan hati gembira.Sedikit2 tapi sering.

3.Sekali minum hanya 250 sd 300 ml atau kurleb 1 gelas.Lambung kita tidak cukup jika langsung minum banyak.

AIR

Seberapa pentingnya air dalam tubuh kita ?

Air sangat penting karena ¾ tubuh kita terdiri atas air. Apabila kekurangan air akan menjadi bencana dalam tubuh dan juga akan membuat pH tubuh mudah sekali bergerak ke sisi asam.

Jangan hanya mengandalkan rasa haus

Kenapa bukan pada waktu haus ?

Karena rasa haus adalah alarm tubuh akan kebutuhan air pada level terakhir. Minum sebelum haus menyerang. 8 gelas sehari(atau 6 gelas sehari untuk lansia) adalah kebutuhan standar, apabila beraktivitas berat ataupun sakit harus ditambah.

Waktu saya makan bagaimana cara konsumsinya ?

Beri jeda antara waktu sebelum dan sesudah makan untuk minum. Konsumsi air sekitar 500 ml, satu jam sebelum mengonsumsi makanan. Bisa juga 2-3 jam sesudah makan. Tetapi di tengah waktu makan sebaiknya jangan atau tidak lebih dari ½ gelas air.

Kenapa begitu ?

Karena memasukkan banyak air saat makan akan mengganggu kerja sistem cerna. Lambung akan menjadi penuh oleh air, kerja asam lambung untuk mematikan bakteri akan terganggu, demikian pula efektivitas enzym cerna.
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: FOKUS PADA HIDUP SEHAT
Paham FC juga membuat banyak beban tujuan yang biasanya menyertai sebuah diet menghilang. “Mau langsing”, “Mau berat ideal”, “Mau sembuh dari penyakit” adalah beberapa contoh tujuan yang sebenarnya lebih mirip beban tadi. Coba saja telaah diet-diet yang populer di lingkungan sekitar kita; diet kalori, diet jendela, diet protein hewani dan lain sebagainya, pasti orientasinya lebih ke tujuan yang jadi beban tadi. Akhirnya yang terbentuk adalah sebuah pola hidup yang sebenarnya sulit dinikmati, karena sekali saja tujuan/beban tadi luput, maka apa yang dilakukan menjadi sia-sia. 

Bagaimana dengan FC? Tujuannya sederhana, “membuat tubuh menjadi sehat dengan menjalani hidup yang juga sehat”. Prinsip ini yang diyakini oleh pelaku yang paham secara benar. Akibatnya, mereka tidak ngoyo dalam melihat tujuan, karena tahu “tubuh yang sehat akan mencarikan jalan keluar dari segala macam masalah”. Mau berat ideal, mau sembuh dari penyakit, mau hidup berkualitas semua akan tercapai kalau tubuhnya sehat. 

Serunya FC bila dilakukan benar, seperti memberikan peta yang jelas arahnya untuk mencapai hidup sehat. Serunya lagi bisa dijalani dengan santai tanpa obsesi berlebihan. Makan bisa kenyang, makan bisa enak, hidup normal tenang dan tidur pun bisa nyenyak. Pelaku FC tidak risau bila saat berekreasi berat badannya susut sekian kilo atau melambung sedikit diatas kebiasaan, karena saat kembali ke keseharian, fokus pada pola hidup sehat, perlahan-lahan berat tubuh akan kembali normal. Mereka gak panik melakukan upaya ‘cleansing’, ‘detoxing’ atau tindakan represif gila-gilaan untuk mengembalikan berat, yang ujung-ujungnya malah membuat mereka tergolek tidak berdaya di kamar rawat inap Rumah Sakit. Kondisi terakhir ini sering membuat banyak ahli kesehatan memberi cap miring pada FC. “Tuh, kan sok diet-diet, pas sakit larinya ke dokter juga, bikin repot aja”, kalimat yang sering dilontarkan pada ‘pengaku’ FC yang tergolek sakit. Disini siapa yang salah FC atau oknumnya? 

Jelas oknum!

PAHAM PADA KESALAHAN
Paham FC juga akan mengajarkan pelakunya untuk lebih bertanggung jawab pada hidup. Saat jatuh sakit semisal, pelaku FC terbiasa berintrospeksi. “Apa yang saya sudah makan?”, “Apa yang sudah saya minum?” paling tidak “Apa yang sudah saya lakukan?”. Biasanya pelaku FC yang jatuh sakit, mereka agak sedikit ‘nakal’ dan kebablasan dalam melanggar aturan. Tapi karena paham, mereka segera sadar salahnya dimana. Dan tentu saja hal pertama yang mereka lakukan adalah kembali kepada kebiasaan awal, disiplin dalam pola hidup (baca: makan) sehari-hari.

Pelaku FC yang paham, gak akan melemparkan kesalahan pada faktor lain di luar mereka. Seperti yang umum kita temui; “Soalnya saya lagi ada acara keluarga nih”, “Aduh, ini lagi event kantor, banyak makanan enak”, “Yah, lagi lebaran haji nih, banyak makanan yang munculnya cuma setahun sekali”. Mereka tahu persis, penyakit lahir dari kesalahan mereka dalam menyikapi situasi. Maka itu biasanya saat berhadapan dengan situasi spesial, mereka juga sudah menyiapkan langkah darurat spesial. Bepergian dengan sekotak sayuran segar semisal. Mau dibilang aneh kek, dibilang gak realistis kek, karena mereka paham FC, ya santai aja. Menikmati makanan ‘gak sehat tapi enak’ disambi makan sayur segar. 

Pelaku FC yang paham juga gak akan mudah melemparkan kesalahan seperti yang umum dilakukan banyak orang tanpa sadar; ‘menyalahkan Tuhan’. Sering kan kita dengar orang yang jatuh sakit, “Ini cobaan dari Allah SWT, supaya saya ingat nikmat sehat”, “Tuhan sedang bercanda dengan saya” dan sejenisnya. Familiar? Padahal dia tergolek sakit karena kebablasan mengkonsumsi gulai kambing, sambal goreng ati dan sate kambing saat sedang lebaran haji semisal. Pelaku FC yang paham memiliki sisi spiritual yang lebih baik, mereka jujur mau mengakui kesalahan dan tidak mudah menyalahkan Tuhan. 

BERIKAN TUBUH YANG TERBAIK
Pelaku FC yang paham juga tahu bahwa pola makan yang dilakukan mengacu pada hal terbaik yang bisa diberikan pada tubuh. Itulah cara perawatan dalam tingkatan tertinggi: “Berikan segala sesuatu sesuai kebutuhan”. Pelaku FC tidak melakukan diet kalori, karena tubuh sehat tidak mengacu pada timbangan tepat di angka ideal atau kecilnya lingkar pinggang juga otot perut bertonjolan. Pelaku FC juga tidak mendikte tubuh mengkonsumsi sesuatu berlebihan karena dianggap baik, semisal minum susu karena tinggi kalsium, padahal yang didikte belum tentu diterima tubuh dengan baik, karena tidak sesuai kebutuhan. 

Maka itu lucu bila ada pertanyaan, “saya sedang sakit jadi saya tidak melakukan FC dulu”. Ini tipikal orang yang melakukan FC tanpa pemahaman! Lucu, karena saat sehat, dia memberikan tubuhnya yang terbaik, lalu saat ia sakit kok malah yang terbaik itu ia tinggalkan?

Demikian uraian singkat, “kenapa paham saat melakukan FC?” itu penting!
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: 3. MENIKMATI
Paham FC akan membuat pelakunya nyaman dalam melakukan. Bukan sekedar ikut-ikutan, dibebani target ini-itu atau sekedar terobsesi. Pelaku FC yang “paham kenapa?” akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam hidupnya saat mereka menjalani. Mau itu berupa aturan, larangan, sesuatu yang dibolehkan bahkan saat sesekali mereka melanggar FC tersebut, semua bisa dinikmati. Apalagi bila dibandingkan dengan “meningkatnya kualitas hidup sebelum dan sesudah melakukan FC”. Tanpa pemahaman, sering pelaku FC lebih ada dalam kondisi ‘menderita’ atau ‘terpaksa” bahkan “tersiksa’ yang akhirnya menjadi bulan-bulanan atau ejekan dari lingkungan sekitar. 

Pelaku yang baik, paham benar bahwa 3 poin di atas adalah soko guru utama mereka dalam menjalani FC. Itu sebabnya mereka sanggup bertahan bertahun-tahun bahkan seumur hidup semenjak pertama mengenal dan memutuskan menjalani.
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: 🔆
👆🏻disiplin.. Paling tidak sampai tubuhnya benar2 sehat dengan kondisi homeostatis, sehat sejati.. Jangan pikirkan cheating dulu..
🔆
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: Pentingnya Paham “Kenapa Melakukan ‪#‎Foodcombining‬?” 

Dari awal saya melakukan edukasi secara masif tentang Foodcombining (FC) via sosial media atau media publik lainnya, dimana gak bisa bertatap muka langsung dengan penanya, penekanan yang saya berikan selalu di sisi pemahaman dan komitmen. Bukan melulu doktrin “harus begini-begitu” apalagi FC model klemar-klemer ala bunda peri dalam dongeng HC Andersen”ya sudah kalau gak mampu, lakukan aja dulu yang kamu mampu”. Kenapa? Banyak alasannya, ini yang paling utama:

1. MANDIRI
Melulu mengedepankan aturan ketimbang pemahaman akan menciptakan pola makan FC seperti anak SD yang diajari rumus untuk diaplikasikan tanpa pernah tahu kenapa? Akhirnya saat berhadapan dengan situasi khusus, ya rumus itu jadi gak berguna, karena pemahamannya gak sampai ke sisi penguasaan apalagi improvisasi. Lebih konyol sih dengan pendekatan ‘klemar-klemer’, permisif, serba membolehkan atau merangkul mereka yang ‘cengeng’. Yang ini sih, berhadapan dengan situasi ideal aja, mereka sebisa mungkin cari alasan apalagi ketemu situasi khusus. Kuncinya memang pelaku FC harus ditempatkan di posisi, “Mengerti (atau paling tidak berusaha untuk berproses agar mengerti pada akhirnya) ketimbang cuma ngekor” supaya mereka bisa mandiri.
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: 2. DISIPLIN
Suka gak suka namanya pola makan sehat itu basisnya adalah rutinitas. Apa cermin paling utama dari rutinitas? Disiplin, dalam bentuk pengulangan pada apa yang dilakukan setiap hari. Tentu saja yang diulang harus sesuatu yang sesuai dengan aturan. Nah gimana caranya mau disiplin? Kalau setiap hari ada saja aturan yang dilanggar? 
[3/12, 19:00] ‪+62 817-0428-091‬: 🔆👆🏻dan nikmati seluruh rangkaian FC, jangan dijadikan beban.. Ingat FC itu akan menjadi gaya hiduo kita seumur hidup, bukan terapi sesaat untuk penyembuhan dan diet melangsingkan.
🔆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s