My parent my teacher kibar

Resume Seminar Parenting HSMN Depok

“MY PARENT MY TEACHER”

Tema          : Menjadi Guru  Pertama &  Utama Bagi Anak (Bagaimana Menjadi Guru yang Menginspirasi)
Narasumber : Kiki Barkiah
Hari/ tgl        : Ahad, 6 Desember 2015
Waktu           : Pk. 10.00 – 13.00 WIB
Tempat         : Pusat Studi Jepang UI, Depok

Seminar diawali oleh sambutan dari keynote speaker yaitu Bapak KH. Dr. Idris Abdushomad, MA selaku Wakil Walikota Depok. Beliau menyampaikan bahwa dalam keluarga dibutuhkan komunikasi perencanaan di dalamnya, dan betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan. Beliau mendapati para pelaku tawuran adalah korban dari ketidakharmonisan orangtuanya di rumah sehingga menjadikan tawuran sebagai salah satu bentuk pelarian. Hal-hal negatif yang dialami di rumah pasti terekam oleh anak dan kemudian dilampiaskan di luar rumah dalam bentuk perilaku yang tidak diinginkan.

Oleh karena itu, peran orang tua amat penting dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Seorang ayah juga harus dekat dengan anaknya. Beliau juga terkadang pergi berdua bersama anak perempuannya untuk sekadar jalan-jalan.

💐 Sesi Pembuka Seminar (Teh Kiki dan Keluarga) 💐

Seminar diawali dengan hadirnya Kiki Barkiah bersama suami (Aditya Irawan) dan kelima anaknya.
Cara Bapak Aditya mendukung kegiatan Teh Kiki sehari-hari dalam pengasuhan anak, menurut penuturannya adalah dengan membantu sebisa mungkin. Paling banyak adalah ketika membutuhkan diskusi. “Jadi, selama umminya anak-anak tidak merasa berjuang sendiri, itu sudah cukup. Kuncinya: jadi teman diskusi sehingga selalu semangat.” Tuturnya.

Ketika Bapak Aditya ditanyakan tentang bagaimana menyikapi kondisi rumah yang berantakan ketika pulang kerja, Ali (anak Teh Kiki yang paling besar) langsung menjawab: “Bapak itu, kalau ibu menyusui, bapak yang cuci piring, main sama anak-anak. Kalau ummi seminar, Bapak ajak jalan-jalan”.

Subhanallah, sungguh kerjasama yang baik dalam pengasuhan anak.

Menurut Teh Kiki sendiri, dirinya tidak pernah menuntut karena ketika suaminya selalu menyertai perjuangannya sehingga ia tidak merasa sendiri, itu sudah cukup. “Sebetulnya yang mendukung itu adalah saya terhadap suami saya agar ia bisa menjalankan amanatnya. Seperti rumah rapi, dan lain-lain itu kan sebetulnya tanggung jawab suami. Jadi kalaupun suami mampu menyediakan ART pun tidak apa-apa.”

💐 Sesi Materi 💐

QUOTE

“Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah saw dalam pengasuhan anak, maka berilah ruang dalam hati kita untuk menerima bahwa kita bisa salah. 
Maka tidak perlu kita mengatakan “kami merasa gagal menjadi orangtua”, namun katakanlah “bersama Allah kami bisa lebih baik lagi” (Kiki Barkiah).

Sudah mulai bergeser di masyarakat bagaimana orangtua punya peran besar dalam pendidikan anak. Kita sebagai orangtua memiliki peran yang luar biasa.

Lalu apa saja yang seharusnya dan terabaikan?

🌷 Perintah Allah swt bahwa tanggung jawab mendidik anak adalah di pundak orangtua.
 
       Saat ini keluarga-keluarga muslim sudah mulai bergeser dalam fungsi peran ayah dan ibu. Ayah merasa cukup bertanggung jawab dengan mencari nafkah. Ibu merasa cukup bertanggung jawab dengan memenuhi kebutuhan fisik anak (menyiapkan bekal, mengantarkan sekolah, dll). Sementara pendidikan diserahkan kepada pihak lain.

Padahal…

1. Kita diperintahkan memelihara diri dan keluarga dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6)

Banyak yang lupa dan mengabaikan tanggung jawab besar ini. Butuh proses dan kesabaran untuk membimbing mereka agar tidak mendekati amalan-amalan yang mendekati api neraka.

2. Prioritas dakwah kita kepada kerabat-kerabat terdekat (QS. Asy-Syu’ara: 214).

Miris jika kita menganggap bahwa berdakwah adalah urusan Ustadz atau orang-orang yang kuliah di jurusan syariah. Padahal dakwah terberat yang jadi tanggung jawab kita adalah kepada keluarga inti, keluarga terdekat.

Juga menjadi catatan tersendiri ketika Ustadz atau Ustadzah terlalu sibuk dakwah di luar, sementara di rumah terabaikan.

Oleh karena hal ini jugalah HS memaksa kita untuk melakukan kewajiban ini.

3. Tanggung jawab pendidikan shalat ada di orangtua (QS. Thaaha: 132).

Pendidikan shalat itu adalah tanggung jawab orangtua, bukannya malah diserahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan seperti TPA, dll.
Bagaimana shalat yqng benar, kapan harus komitmen shalat 5 waktu dan tepat waktu, semua adalah tugas orangtua.  Perbaiki dulu shalat kita sendiri sehingga bisa menjadi teladan.

4. Perintah untuk mendorong keluarga untuk berdakwah dan bersabar dalam dakwah (QS. Luqman: 18).

Manusia punya tanggung jawab besar dalam beramar ma’ruf nahyi munkar. Kita punya tanggung jawab menjadikan keluarga kita, anak-anak kita yang beramar ma’ruf nahyi mungkar.

Ingat bahwa dakwah itu perjuangan. Sampai-sampai Allah swt mengingatkan kita untuk bersabar.

Kenikmatan hidayah memang tidak selalu melalui orangtua. Tapi apakah kita tidak ingin menjadi orangtua yang mendapatkan kemuliaan, yang menancapkan keimanan pada anak-anak kita sehingga menjadi keluarga dakwah?

5. Keluarga berpahala istimewa itu keluarga dakwah.

“Barangsiapa mengajak pada petunjuk (amal saleh), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali; dan barangsiapa mengajak pada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR. Muslim).

Jika ingin dapat kedudukan mulia di surga, maka jadikanlah keluarga kita keluarga dakwah dengan menjadikan anak-anak kita “da’i sebelum apapun”.
Ingatkan misi mereka hidup di dunia adalah semata-mata bertujuan untuk ibadah dan menjadi khalifah.

6. Tujuan utama mempelajari ilmu…

Sering terlupa dan bergeser mengenai pendidikan sedini mungkin. Anak disekolahkan sejak usia masih sangat kecil sehingga bonding anak justru lebih kuat terhadap orang lain daripada dengan orangtua sendiri.

Kita harus ingat untuk mempelajari ilmu dengan tujuan memperdalam agama (QS. At-Taubah: 122).
Tujuan lainnya adalah memberi peringatan agar dapat menjaga diri. Harus ada segolongan orang yang memperdalam ilmu, terutama agama sampai kita bisa memberi peringatan dan berbuah penjagaan terhadap diri kita. Pastikan ilmu yang didapatkan dan diberikan berbuah penjagaan terhadap diri kita dan anak-anak kita.

7. Islam memerintahkan adanya keseimbangan ilmu dunia dan akhirat.

Dalam buku 1001 Invention Moslem dijelaskan bahwa sesungguhnya peletak dasar ilmu-ilmu yang berkembang saat ini justru dari ulama-ulama muslim.

Ulama-ulama dan generasi-generasi terdahulu islam mempelajari ilmu yang wajib terlebih dahulu baru kemudian berbuah pilihan-pilihan keilmuan lain.

Ilmu wajib adalah yang harus dipelajari dalam kondisi apapun, mau jadi apapun. Merupakan ilmu dasar yang harus dibekali sebelum belajar ilmu-ilmu lain yang ada di lembaga.

“Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam al Quran memang tidak ditegaskan bagaimana membuat pesawat, tapi al Quran mengatakan bahwa jika manusia mampu menembus langit, maka tembuslah. (QS. Ar-Rahman: 33).

Ternyata pesawat itu sendiri justru terinspirasi pertama kali bukan dari Wright bersaudara tapi dari orang muslim.

Sekarang…

Mari kita lihat kembali dialog-dialog yang terjadi di rumah…

● Keluarga Akademis

   Dialog yang terjadi seputar pertanyaan tentang nilai ujian, PR, jumlah rapot, ranking, dsb.
   Jika dialog seputar hal tersebut hanya terjadi sewaktu-waktu tentu tidak apa-apa.  Namun, jika hanya itu saja komunikasi yang terjadi sehari-hari, tentu akan bermasalah.

● Keluarga Concern Pada Agama

   Dialog yang terjadi seputar pertanyaan tentang sudah solat/ belum, mengajak berangkat mengaji, menanyakan hafalan Quran, puasa, dll.    
   Tampak concern pada agama, namun hanya sebatas pada hal-hal yang terlihat dan bersifat kuantitatif.

● Keluarga Standard

   Hal yang dijadikan bahan komunikasi hanya berkisar makan, mandi, menyuruh untuk tidur, merapikan barang,  dll.
   Rumahnya tampak sepi, sibuk masing-masing dengan aktivitasnya. Anak-anak dibiarkan bermain games asalkan rumah rapi. Padahal banyak games yang bisa membahayakan jiwa, merusak otak, bahkan merusak akidah.

● Keluarga Bermasalah

   Hanya membangun komunikasi seputar teguran, larangan, ancaman, dan hukuman.
   Ketika anak berbuat baik tidak diperhatikan karena dianggap wajar. Baru ditegur ketika anak bermasalah. Bertemu dan berkomunikasi dengan sosok ayah sebagai satpam sehingga anak menjadi “nakal” agar diperhatikan orangtua.

Lalu…

Adakah dialog-dialog seperti ini dalam rumah kita?

● Dialog Lukman dengan Anaknya

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).

Dialog tersebut menggambarkan betapa Luqman sangat concern terhadap aqidah anak-anaknya. Apakah orangtua memikirkan bagaimana aqidah anaknya ketika meninggal dunia, dan bagaimana keistiqomahan anak-anaknya dalam keimanan?.
Bahkan banyak yang justru mengajarkan syirik, seperti percaya takhayul, melakukan sesuatu seperti yang dicontohkan nenek moyang, dll.

● Dialog Rasulullah dengan Abdullah bin Abbas

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas  berkata, ‘Saya pernah berada di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari, beliau bersabda, ‘Wahai anak, saya hendak mengajarimu beberapa kalimat; Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya bersamamu; jika engkau meminta, mintalah kepada Allah; jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’ (HR. Turmudzi)

Kalau saja kita sebagai orangtua saat ini menginstall hadits ini dalam pemikiran kita, maka inSyaAllah akan mengurangi kegalauan kita dan membuat kita selalu menyerahkan ikhtiar kita kepada Allah swt.
Sekuat apapun kita menjaga anak kita, tidak akan ada kebaikan kecuali dari Allah swt. Kalau Allah swt menakdirkan anak kita benar, maka ia akan benar meski itu didapat dari mentor atau gurunya. Tapi apakah kita tidak cemburu jika pahala itu diambil orang lain, bukan oleh kita sendiri sebagai orangtuanya?

Apa betul kita ingin anak sholeh?

Maka introspeksi bagaimana dialog yang terjadi di rumah.  Untuk satu tujuan yang sama ada banyak pola komunikasi yang bisa digunakan. Contohnya saat meminta anak membereskan mainan. Ada yang memerintah dan mengancam, ada yang mengajak membereskan bersama, dan ada juga yang lebih kreatif dengan membuatnya menarik seolah-olah membereskan mainan adalah bagian dari bermain.

Semua orangtua tentu punya tujuan yang baik, tapi kita punya sejuta cara.

Apa Betul Kita Ingin Seperti yang Tertera dalam Hadits Berikut?

● “Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631).

● “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di jannah, kemudian ia berkata: ‘Wahai Rabbku, dari mana ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dengan sebab istighfar (permintaan ampun) anakmu untukmu.'” (HR. Ahmad).

Benarkah kita menginginkan hal tersebut? Jika ternyata kita tidak meluangkan waktu khusus untuk diskusi dengan anak. Pulang ke rumah hanya menyisakan lelah. Terutama bagi para ayah.

Keluhan ibu mengenai masalah pendidikan anak hendaknya didiskusikan dengan sosok ayah sebagai Kepala Sekolah. Ibu sebagai manajer menyampaikan hal tersebut serta meminta persetujuan ayah untuk keperluan-keperluan pendidikan.

Banyak istri yang mengeluhkan suaminya yang ketika di rumah sibuk tertawa-tawa sendiri melihat ponselnya, melihat grup, berita bola, dll. Di satu sisi para ibu sibuk dengan grup wa parenting, di sisi lain para bapak dengan grup yang isinya hanya candaan-candaan.

Memang menjadi kurang pas ketika istri tidak memberikan hak suami terhadap hal yang mubah, seperti hiburan, selama tidak melanggar syariat.  Tinggal bagaimana mengaturnya. Istri coba untuk menahan diri, ketika suami pulang jangan langsung berkeluh kesah tentang anak dan hal lainnya. Di lain pihak suami juga coba memahami bahwa istri memang punya kebutuhan akan hal tersebut. Jangan sampai kebutuhannya tidak terpenuhi sehingga terlampiaskan ke anak.

★ Hal yang amat penting!
– Punya waktu untuk berkomunikasi
– Memilih pola yang baik dalam berkomunikasi

Ingat pula bahwa membentuk anak shaleh berkaitan erat dengan Proses Pendidikan…

🌷 Undang-undang no. 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menyimak undang-undang tersebut, konsep pendidikan di Indonesia sangatlah bagus. Namun, bagaimanakah implementasinya?

Ternyata belum terimplementasikan dengan baik sehingga tidak melahirkan generasi seperti para sahabat Rasulullah dan generasi emas umat islam terdahulu yang tahu siapa dirinya, mau apa/ apa tujuan hidupnya dan bagaimana mengembangkan potensinya.

Anak usia 18 tahun sekarang ini justru lebih tahu tentang bagaimana caranya selfie dan menunjukkan diri di sosial media.

Lalu muncul juga keluhan dari para ibu yang bersekolah tinggi namun kemudian menjadi Ibu Rumah Tangga. Ia merasa terkungkung dengan kehidupannya, namun juga tidak menggarap apa yang ada di hadapannya. Padahal yang di depan matanya adalah ladang surga, ladang pahala yang tidak mungkin diwakilkan.

Cita-cita saya (Teh Kiki) harus saya wujudkan dalam rumah saya. Saya tahu kapan harus mencapainya. Namun, ladang surga yang paling utama adalah rumah saya, anak-anak saya.

Kalau memang seorang ibu perlu kerja atau wajib kerja karena dibutuhkan masyarakat maka boleh saja mengabdikan diri di masyarakat tapi jangan sampai melalaikan kewajiban utama.
Jangan buang energi dengan membayangkan sesuatu yang jauh sedangkan yang di depan mata terbengkalai, sungguh sayang sekali.

● Implementasi konsep pendidikan di Indonesia menjadi berat ketika orangtua merasa bahwa pendidikan berarti menyekolahkan. Padahal dalam Undang-undang no. 20 ayat 11, 12, 13, 14 dijelaskan tentang pendidikan formal, nonformal, informal, dan pendidikan anak usia dini.

Sementara pendidikan formal di Indonesia tidak dirancang untuk mengemban semua tanggung jawab itu. Sangat tidak mungkin cita-cita pendidikan tercapai jika hanya diserahkan pada lembaga pendidikan.

● Metode pendidikan berbasis keluarga atau Home Education adalah metode yang telah dijalankan manusia selama berabad-abad.

Contohnya Anas bin Malik yang punya pendidikan pertama dan utama dari Rasulullah saw. di rumah beliau.

Metode Home Education kini menjadi unik dan istimewa karena faktor berikut:

1. Bergesernya pemahaman tanggung jawab pendidikan. 
Di rumah ibu hanya mengasuh, anak dimasukkan pesantren. Mayoritas anak masuk ke pesantren hafalan Quran karena dipaksa orangtuanya.

2. Adanya pengalihan tanggung jawab pendidikan.

3. Orangtua zaman sekarang berharap sekolah seperti pencetak anak pintar.  Orangtua membayar dan menuntut hasil. Padahal, amat berat tugas guru, bagaikan melukis di air jika pendidikan di rumah tidak diperhatikan.

4. Mahalnya waktu bersama anak-anak.
Padahal bercengkerama dengan keluarga dianjurkan dalam islam dan diniatkan ibadah.
Contohnya bapak wakil walikota yang meluangkan waktu untuk jalan bersama anak gadisnya. Itu akan menutup pintu kemungkinan seorang anak perempuan mencari figur lain, perhatian dari laki-laki lain.

5. Orangtua tidak berbekal ilmu yang cukup untuk melakukan pendidikan.
Orangtua juga wajib belajar, jangan sampai ada anak laki-laki yang tidak tahu bagaimana caranya mandi wajib karena tidak ada komunikasi dengan orangtua.  Oleh karena orangtua tidak merasa itu sebagai tanggung jawabnya.

6. Orangtua tidak menyadari bahwa ada ilmu dasar yang harus dimiliki manusia dalam mengarungi kehidupan.

7. Orangtua berpikir bahwa mendidik adalah menuangkan ilmu (bukan memberi inspirasi kepada anak untuk menjadi manusia pembelajar yang senantiasa mendasari aktivitasnya dengan ilmu).

🌷 Fungsi Pendidikan Keluarga

● Memberi warna pada masa kanak-kanak
● Menjamin kehidupan emosional anak
● Menanamkan dasar pendidikan moral
● Memberikan dasar pendidikan sosial
● Peletakkan dasar-dasar keagamaan.

🌷 Fungsi Sekolah yang juga terdapat pada HS:

● Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik.

● Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Ibu sebagai manajer pendidikan yang mengatur pendidikan anak.

● Ada efisiensi; ketika ibu mengajar anak satu persatu dibandingkan dengan guru yang mengajar puluhan murid.

●  Ada sosialisasi; memberikan skill dan fasilitas untuk habluminannas.
Hakikat dari sosialisasi adalah manusia tahu bagaimana habluminannas, akhlak dengan orang lain, orangtua, lawan jenis, dengan nonmuslim, dll.

Kurikulum HS Teh Kiki tidak mengikuti kurikulum di sekolah. Misalnya ada matematika, language art (vocab, spelling) sampai mahir membaca dan menulis. Intinya adalah anak mahir membaca intisari bacaan. Kemudian ada bedah buku dan presentasi. Untuk writing skill yaitu bagaimana anak mengungkapkan ide mereka melalui menulis. Saat fase anak banyak mendengar, sering diperdengarkan cerita.

🌷 Rumuskan kembali makna belajar…

1. Meningkatkan kapasitas intelektual anak.
Yaitu dengan semakin menyadari kebesaran Allah swt dan merasa kerdil di hadapan Allah swt. Bukan apa yang diberikan tapi efek apa yang ingin tertanam pada anak-anak sehingga mereka semakin tunduk Dan khusyu di hadapan Allah swt.

2. Memberikan ilmu yang membuat mereka peka terhadap masalah.

3. Tambahan info yang membuat mereka mempunyai moral yang luhur. Misalnya dengan menceritakan kisah Nabi.

4. Bagaimana ilmu itu mengubah kita jadi lebih baik dan meningkatkan derajat di hadapan Allah swt.

5. Tambahan pengetahuan yang meningkatkan kualitas kinerja dalam profesi yang diemban sehingga mendapatkan keberkahan.

6. Proses pembelajaran yang mampu memicu perubahan dalam diri kita sehingga bersemangat melakukan perubahan sosial.

7. Tambahan bekal kehidupan yang membuat kita dapat hidup lebih bermartabat dalam sebuah peradaban.

🌷 Pendidikan yang Wajib Bagi Anak-anak

● Didiklah anak mengenal Allah swt
Kita jadi tahu apa yang Allah inginkan terhadap kita di dunia ini. Tidak perlu galau jika kita tahu dan menyadari bahwa apa yang kita lakukan semua adalah ibadah di hadapan Allah swt. Jangan merasa hidup begini-begini saja. Hidup itu fleksibel tapi ujung-ujungnya harus mengantarkan diri kita dan keluarga kita ke surga.

● Didiklah anak mengenal RasulNya.
Luangkan waktu baca siroh pada anak supaya anak tahu bagaimana mengejawantahkan hidupnya di hadapan Allah swt.

● Didik anak untuk tahu tujuan hidupnya.
Mau jadi apapun itu adalah ibadah dan menyadari perannya sebagai khalifah.

● Didik anak mengetahui dirinya, potensi kemampuannya.
Bagaimana potensi itu bisa meningkatkan derajatnya di surga. Jangan paksakan apa yang kita mau pada diri anak. Siapa tahu anak kita lebih hebat dari itu.
Didiklah anak sampai menjadi manusia pembelajar.
Kalau sudah jadi manusia pembelajar, akan mudah baginya untuk inisiatif menambah ilmu demi mencapai tujuan hidupnya.

● Didiklah anak sampai mencintai kebaikan.
Sehingga apapun yang ditawarkan di dunia, ia akan memilih kebaikan. Selama anak masih suka ikut-ikutan, maka jagalah ia selalu.
Jaga fitrah kesucian anak sampai mereka bisa memilih yang benar, membedakan baik dan buruk.

● Didik sampai ia mandiri secara finansial.
Bimbing dan pantau terus anak sampai ia tahu mau ke mana hidupnya.
Target (Teh Kiki); ketika sudah mengenal syahwat, anak sudah mandiri secara finansial.
Persiapkanlah anak menjadi calon istri/suami dan calon ibu/ ayah.

● Doakan terus hingga maut memisahkan.

Ingat, yang wajib kita ajarkan pada anak jangan sampai pahalanya diambil orang lain.

🌷 Transferlah Ilmu Berdasarkan Tahapan Usia

● 1-11 Tahun Grammer States

○ Kemampuan bahasanya belum sampai pada analisis mendalam.
○ Pada masa ini perbanyak wawasan.
Merupakan periode emas untuk menghafal al Quran.
○ Bisa diajarkan matematika dasar, jangan dipaksa lebih jauh.

● 11-14 Tahun Logic State.

○ Memiliki kemampuan analisis dan sintesis.
○ Bisa menempatkan dan mengelompokkan ide-ide.
○ Analisis di otak kiri dan sintesis di otak kanan. Sehingga sudah bisa berpikir kompleks.

Pada prinsipnya semua anak ingin cari tahu dan eksplorasi tapi kadang orangtua suka meng’cut’nya. Padahal itu bisa mematahkan fitrah belajarnya.

● 14 Tahun ke Atas Rethoric Level

○ Fase dimana ilmu yang dimiliki, informasi yang diketahui dapat diaktualisasikan dan diproses menjadi kerja nyata.

Generasi muslim terdahulu sudah matang pada fase ini. Berbeda dengan generasi sekarang yang setiap hari sekolah, pulang dengar musik, banyak bergaul yang tidak perlu.

🌷 Bagaimana Kualifikasi Seorang Guru Pertama dan Utama?

1. Cinta anak didik
2. Ikhlas karena Allah swt
3. Sabar dan terus menguatkan kesabaran; jangan merasa anak milik kita.
4. Cinta ilmu dan cinta belajar
5. Selalu menciptakan perbaikan
6. Mau belajar dari kesalahan
7. Mau memperbaiki kesalahan
8. Bersedia memantau keberjalanan pendidikan yang didelegasikan pada pihak lain.

🌷 Bekal Apa yang Dibutuhkan Menjadi Guru Pertama dan Utama?

1. Memiliki pengetahuan dasar ketauhidan atau bersedia mempelajarinya bersama anak-anak.
2. Memiliki pengetahuan dasar sirah nabi, Rasulullah saw dan para sahabat atau bersedia mempelajarinya bersama anak-anak.
3. Dapat membaca al Quran dan memiliki kegemaran mentadabburi ayat atau bersedia mempelajarinya bersama anak-anak.
4. Memiliki pengetahuan dasar fiqih ibadah atau bersedia mempelajarinya bersama anak.
5. Mengetahui ilmu psikologi pengasuhan anak atau bersedia terus belajar tentang hal ini.
6. Memiliki tabungan yang cukup untuk investasi buku pengetahuan berkualitas atau meluangkan waktu untuk mengumpulkan ilmu dari internet.
7. Memiliki waktu yang cukup untuk belajar, mengajarkan, atau menemani belajar.
8. Tabungan yang cukup untuk menyediakan keterlibatan pihak lain dalam proses pendidikan anak.
9. Waktu yang cukup untuk melakukan pemantauan proses pendidikan yang melibatkan pihak lain.
10. Memiliki kemahiran dalam memanfaatkan sarana dan prasarana belajar yang tersedia di seluruh dunia.

🌷 Setelah berikhtiar dalam mendidik maka, ingatlah!

● “Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS. Asy-Syura: 48).

● ” Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272).

● “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashas: 56).

💐 Sesi Tanya Jawab 💐

(Termin 1)

1. Bagaimana jika kita sudah mendidik anak kita, kemudian ia menjadi bagian dari kelompok minoritas dalam suatu lingkungan (kerja misalnya), apakah tetap bertahan atau lebih baik hijrah?

Jawab:

Dikabarkan bahwa Islam akan menjadi asing. Seperti pada seminar ini yang bisa dikatakan minoritas karena tidak seperti ini yang dipelajari masyarakat umum. Sekarang ini bahkan dengan adanya opini atau media, yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah.
Jadi, jangan takut menjadi asing selama kita menjadi yang benar.
Seperti perjuangan Rasulullah, para sahabat dan tabiin yang memperjuangkan kebenaran di tengah kejahiliyahan.

Kuncinya adalah harus sabar.

◆ Ketika menanamkan kebenaran pada anak, kita juga harus menjelaskan kondisi real di luar sana. Sehingga ketika mereka melihat yang berbeda, mereka sudah tahu mana yang benar.

◆ Bonding antara orangtua dan anak saat kecil harus kuat.  Sehingga mereka akan percaya pada kita, percaya kalau kita akan menyampaikan kebenaran. Kita akan jadi tempat mereka bertanya. Anak juga jadi tahu bahwa orangtua belajar bersama-sama dengan anak.
Contohnya di keluarga Teh Kiki, ada peraturan “Jangan bicara 1 kata yang tidak tahu artinya”. Jadi, ketika mendengar kata-kata baru, akan akan bertanya dulu.

◆ Ingat bahwa kita bukan membuat steril anak kita tapi membangun imun mereka.

◆ Persiapkan pembahasan-pembahasan yang ingin diketahui anak, tapi ada hal-hal tertentu yang memang harus ditunda hingga saat yang tepat.

◆ Hijrah atau tidak? Pilihlah yang paling sedikit mudharatnya. Jangan lari dari masalah. Bisa saja kita ditunjuk Allah swt untuk jadi cahaya di lingkungan tersebut.

2. Mengenai kondisi anak-anak yang ramai ketika di depan audience tadi apakah sudah terprediksi atau tidak?  Bagaimana menyikapi perilaku anak-anak saat di depan umum? Apakah untuk menenangkan anak karena harus berpisah untuk beraktivitas bisa dengan membujuknya dengan hp?

Jawab:

Anak-anak sebetulnya sudah disiapkan sejak awal. Buat perjanjian bahwa mereka di depan hanya 15 menit. Tapi karena waktunya ternyata tidak sesuai jadi ya wajar setelah menunggu lebih dari 15 menit mereka sudah jumpalitan, tidak mau diam, dimaklumi karena masih anak-anak. Justru yang membuat masalah itu ketika kita berharap mereka duduk diam seperti orang dewasa.

Tadi sebelum anak-anak meninggalkan tempat seminar dipinjamkan hp untuk memperlihatkan video di youtube tentang kereta gantung yang akan mereka lihat langsung di TMII Jakarta (sebelumnya mereka belum pernah melihat).

◆ Anak-anak itu seperti layang-layang, masuklah ke dunianya lalu giring atau arahkan sedikit-sedikit.
Contohnya, anak boleh nonton (sesuatu yang bermanfaat) kalau sudah selesai beres-beres.

◆ Multimedia itu digunakan ketika anak-anak bosan dengan aktivitas biasa. Beri tontonan yang bisa menjadi pembelajaran, lalu bahas. Waktu dengan multimedia ini harus lebih sedikit waktunya dibandingkan dengan lama waktu membaca dan aktivitas-aktivitas eksplorasi. Membaca lebih utama dari menonton karena meningkatkan aktivitas otak denga memvisualisasikan apa yang dibaca. Jadi, harus cinta buku daripada cinta film.
Bangun kemandirian anak dengan cerita dari buku. Ibunya harus seperti film/tontonan saat menceritakan isi buku.

3. Orangtua sudah mempersiapan untuk HE sejak 6 bulan lalu, namun anak masih dengan pemikiran bahwa sekolah itu harus pakai seragam karena pengaruh lingkungan teman-temannya. Bagaimanakah bekal di rumah untuk mengenalkan HE pada anak?

Jawab:

Banyak ibu yang berhenti berkarir di luar rumah lalu melampiaskannya pada anak-anak.  Sebelum HE, HS, jadikan belajar bersama ibu itu sudah kebiasaan dari bayi. Nikmati setiap hari belajar bersama anak. Sehingga anak tidak kaget ketika orangtua mengajar pelajaran pada anak. Kalau anak sekolah, maka pulangnya HE. Misalnya anak disekolahkan di sekolah negeri, orangtua yang mengajarkan agamanya.
Kalau anak sudah cinta, maka belajar di rumah akan menjadi sesuatu yang amat disukainya.

(Termin 2)

4. Bagaimana pengalaman Teh Kiki dalam manajemen waktu untuk anak-anak yang beda usia?

Jawab:

HS itu memang “riweuh”.
Tapi kita harus punya cita-cita besar.

Yang diterapkan, pagi-pagi bisa ajak anak ke taman, mengajari anak dan memberinya worksheet.

◆ Ada padu padan kegiatan yang menyesuaikan dengan kondisi. Lihat waktunya, kapan saat anak aktif, kegiatan menyesuaikan.
Ketika menyusui, fokusnya untuk menyampaikan pesan (reading comprehension). Jadi, memang harus multitasking.

◆ Tempat belajar fleksibel, bisa di taman, ruang tamu, kamar.

◆ Rentang konsentrasi anak yang pendek disiasati misalnya dengan memberikan worksheet untuk dikerjakan lalu setelah selesai anak boleh bermain. Atau kerjakan selama beberapa menit, anak boleh main, lalu lanjut mengerjakan worksheet lagi.
Bayangkan kalau di sekolah, waktu 15 menit anak sudah selesai mengerjakan tugas tapi dia harus duduk diam menunggu guru untuk memeriksa 40 siswa lain. Anak yang bosan bisa saja berbuat usil pada teman lainnya.

◆ Mengajar anak bergantian satu persatu.
Siapkan mainan. Kalau belajar di luar, pastikan ada playground, sepeda, skuter, dll.
Kalau belajar di rumah, siapkan lego atau mainan lainnya.
Yang penting saat anak belajar ada yang nyangkut di otaknya.

◆ Ingat bahwa cara belajar anak berbeda-beda, kita bisa menyesuaikan.

◆ Kakak pertama sudah bisa bantu mengasuh adik-adiknya. Misalnya main di luar, saat itu saya bisa buka facebook, dll.

◆ Jika anak-anak masih bayi, cari kondisi tenang untuk belajar.

◆ Waktu 24 jam harus dalam kondisi belajar dan berdzikir.

5. Bagaimana menyikapi kecemburuan kakak terhadap adik yang jarak usianya berdekatan?

Jawab:

◆ Pahami bahwa setiap anak menuntut kita secara totalitas;  “Milikku adalah milikku”. Tapi anak harus belajar bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa dimiliki sepenuhnya.

◆ Apresiasi hal positif yang dilakukan anak.

◆ Kecemburuan adalah salah satu bukti bonding, maka syukurilah.

◆ Buat sesuatu yang spesial bersama anak. Sekali waktu lakukan sesuatu berdua saja bersama anak.
Peran bapak di sini penting, harus mau bergantian. Ketika anak yang satu butuh perhatian ibunya, bapaknya pegang anak lainnya.

◆ Hati-hati dengan anak pendiam yang terlihat biasa-biasa saja seperti tidak ada apa-apa. Harus punya waktu khusus untuk ditanyakan perasaannya. Tampaknya tidak apa-apa, padahal ia juga punya keinginan tertentu terhadap orangtuanya.

6. Jika anak usia 15 tahun belum mau hafalan Quran apakah harus dipaksa?

Jawab:

◆ Ikhtiar menanamkan manfaat sesuatu itu butuh proses. Seperti anak kecil, ada yang harus dengan reward & punishment. Butuh waktu bagi mereka untuk menjiwai ibadah secara ikhlas dan ihsan.

◆ Jika sejak kecil belum ditanamkan, maka terus saja berproses. Semua yang tertinggal/ terlewat harus dikejar. Saat mengejar ketertinggalan itu pastilah butuh energi yang lebih besar. Beda dengan yang sudah sejak kecil ditanamkan Sirah Rasulullah saw, kisah sahabat, misalnya. Sehingga timbul ghiroh dalam dirinya untuk memperjuangkan kebaikan.

◆ Jangan biarkan anak kita dilahap fikroh-fikroh lain dengan alasan menunggu anak sadar.

◆ Giring anak dengan cara di awal agak belok sedikit. Tidak terlalu dilarang, ikuti apa yang dimau sambil terus diarahkan. Terangkan keutamaan-keutamaan hafidz Quran. Doakan. Teruslah memberinya motivasi.

7. Bagaimana mengatasi keterbatasan yang dimiliki pasangan yang tidak bisa melihat namun memiliki anak yang normal (bisa melihat)?
Anak sedang aktif, banyak ingin tahu, suka dibacakan buku dan lebih sering neneknya yang membacakan. Terkadang ibunya membacakan buku setelah sebelumnya ibunya minta diceritakan dulu oleh neneknya agar bisa menyampaikan pada anak. Namun anak sudah berkonsep bahwa neneknya yang membacakan buku karena ibunya tidak bisa membaca. Sebagai ibu, timbul rasa sedih dan cemburu. Juga merasa bingung untuk berkegiatan bersama anak karena banyak yang ditanyakan dan harus menjelaskan secara visual.

Jawab:

Allah swt memerintahkan manusia untuk beribadah, tidak mungkin tanpa bekal potensi untuk melakukan ibadah tersebut. Tinggal bagaimana mempersembahkan seluruh yang kita punya untuk beribadah kepada Allah swt.
Optimalkan apa yang kita punya. Begitu juga dalam pengasuhan, tidak ada yang sempurna. Biarlah anak secara alami melihat permata yang ada pada diri kita. Ada banyak hal yang bisa kita berikan dengan mengoptimalkan yang kita miliki, nanti anak akan memahami bagaimana kita berusaha. Tidak apa-apa hari ini tidak bisa membacakan secara visual, tapi kita bisa membacakan nilai, hikmah, dan arti kehidupan pada anak-anak kita. Tidak apa-apa nenek bagian baca secara visual, kita punya nilai lebih di hadapan anak-anak. Anak akan punya ruang tersendiri untuk cinta terhadap neneknya dan cinta terhadap kita. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan diri agar mereka cinta terhadap kita. Hargai apa yang kita miliki sehingga anak juga akan menghargai kita. Tidak perlu jadi sempurna, tapi sempurnakan apa yang kita punya.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅🔆hsmn🔆🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥facebook.com/hsmuslimnusantara
👥FB: HSMuslimNusantara pusat
📷 instagram: @.
🐤 twitter: hs_muslim_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s