Tukem anak 2-4 thn

Perkembangan Agama dan Moral Anak Usia 2-4 tahun

Oleh: Chairunnisa Rizkiah, S. Psi

Materi kali ini akan berhubungan erat dengan materi perkembangan kognitif dan psikososial anak usia 2-4 tahun. Jadi coba diingat-ingat, bagaimana kemampuan berpikir anak usia 2-4 tahun, abstrak atau konkret? Sejauh apa pemahaman bahasa anak usia 2-4 tahun? Seberapa jauh kemampuan mereka mengenali kondisi diri sendiri dan orang lain? Apa mereka sudah bisa mengimitasi perilaku orang lain? Apa mereka sudah bisa menilai “baik” dan “buruk”? Sambil baca materi ini, bisa direview lagi ya materi-materi sebelumnya🙂

Teori perkembangan moral yang paling dikenal adalah teori dari Kohlberg (1969), walaupun ada juga evaluasi terhadap teori ini. Menurut Kohlberg, kemampuan penalaran moral anak-anak yang masih kecil (< 10 tahun) sifatnya masih prekonvensional. Artinya, anak menganggap suatu perbuatan "baik" kalau dia mendapatkan reward dari perbuatan tersebut, dan sebaliknya menganggap suatu perbuatan "buruk" kalau dia dihukum karena perbuatan tersebut. Misalnya, merebut barang milik orang lain itu buruk, kan kalau anak melakukannya dia akan dimarahi. Kemampuan anak untuk memahami, atau mengasosiasikan reward dan punishment dengan ‘baik' dan ‘buruk' itulah kemampuan penalaran moral anak usia dini.

Nah, ternyata, "paham" standard moral di lingkungan belum tentu membuat anak "mempraktikkan" perbuatan yang sesuai dengan standard moral tersebut. Kalau ditanya, "Boleh ga pukul orang?" jawabannya "Ga boleeeeh", tapi sekian menit kemudian ada suara anak lain yang nangis kena pukul #pengalamannyata ^^" Ternyata juga, dalam mengajarkan kebiasaan baik kepada anak usia dini, yang paling penting adalah sinkronnya perkataan/instruksi/larangan dengan contoh yang diberikan. Misalkan, anak disuruh sholat sedangkan orangtuanya sendiri tidak mau sholat. Tidak sinkron kan? Walaupun orangtuanya menjelaskan bahwa sholat itu wajib, sholat itu artinya mendekatkan diri kepada Allah, tapi di pikiran anak ada yang tidak "klop": kalau begitu kenapa mama/papa tidak sholat juga? Sebaliknya, kalau anak biasa lihat orangtua berbagi makanan dengan tetangga, mengunjungi orang sakit, bilang "terima kasih, "maaf", dan "permisi", anak akan lebih mudah memahami konsep "peduli pada orang lain itu perbuatan yang baik". Saya sendiri juga saat akan mulai pakai jilbab, mendapat contoh paling sinkron dari ibu saya sendiri. Jadi orangtua memang perlu (terus belajar) menjadi role model yang baik untuk perkembangan moral dan agama anak ya…

Lalu bagaimana dengan perkembangan agama anak usia 2-4 tahun? Mungkin lebih pas kalau saya sebut perkembangan pemahaman dan praktik ajaran agama ya. Sebelumnya, apa itu agama? ?򒘉Ritual? Belajar bahasa Arab? Mengikuti kebiasaan nenek moyang? Tentu bukan, kan? Sejalan dengan penalaran moral yang membuat ana k jadi memahami bahwa ada "standard perilaku" dan ada tuntunan untuk melakukan perbuatan yang "baik", agama juga (sejauh yang saya pahami) pada hakikatnya adalah pedoman serta tuntutan untuk menjalani hidup dengan "baik". Baik di sini, tentunya baik sesuai kaidah agama. Jadi penanaman ajaran agama pada anak, tentunya dimulai dengan contoh dari orang dewasa di dekat anak, bagaimana sih hidup yang baik menurut ajaran agama. Saya akan bahas dengan contoh agama Islam ya, karena saya kurang ilmu di agama lain, hehe…

Untuk topik perkembangan pemahaman agama ini, saya banyak belajar dari tim guru agama di sekolah tempat saya mengajar dulu. Anak-anak usia 2 tahun, biasanya masih lebih banyak mengimitasi kebiasaan orang dewasa di sekitarnya. Misalnya, mengikuti gerakan sholat dan wudhu, pura-pura baca Qur'an, mengikuti gerakan berdoa (tangan ditengadahkan) sebelum melakukan kegiatan, dan mau dipakaikan jilbab. Rasa penasaran dan minat anak untuk meniru perilaku orangtua yang baik, tentunya bisa menjadi awal yang baik. Selanjutnya, saat melihat anak tertarik, orangtua bisa menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana, apa nama kegiatan yang dilakukan ("tadi bunda sedang sholat. Sholat itu ada gerakannya, kayak tadi.").
Di usia 3-4 tahun, kemampuan memahami bahasa dan berkomunikasi dua arah semakin berkembang. Di usia ini, anak sudah mulai bisa diajak berpikir tentang konsep paling mendasar dalam Islam, tauhid. Pertanyaan "siapa yang menciptakan kita?" sudah bisa mulai dibahas. Saya juga takjub waktu pertama kali membahas ini dengan murid-murid. Dari pertanyaan itu, anak bisa mulai paham bahwa ada benda-benda yang bisa dibuat oleh manusia/orang, misalnya mobil, rumah, dan mainan. Bisa diperlihatkan video proses pembuatan mobil, misalnya. Namun benda-benda (makhluk) seperti manusia, hewan, tumbuhan, bintang, bulan, gunung, dan lain sebagainya tidak bisa dibuat oleh manusia. "Siapa ya yang bisa bikin bulan? Orang bisa gak bikin bulan?" Dari pertanyaan-pertanyaan itu, anak mulai dikenalkan dengan Allah sebagai Pencipta alam semesta. Bahkan ada lagunya nih:
Allah Maha Pencipta, Pencipta alam semesta
Hutan gunung lautan, langit bulan dan bintang
Begitu juga dengan kita, adalah ciptaan Allah
Allah, Allah, laa ilaa ha illallah
(irama lagu "Naik Delman")

Dari pertanyaan tentang sifat Maha Pencipta-nya Allah, anak bisa mulai dikenalkan dengan sifat-sifat lain dari Allah. Misalnya, Ar Rahmaan (Maha Pemurah). "Kita diciptakan Allah, punya mata, telinga, mulut, hidung, tangan, punya apa lagi ya? Allah baik sekali ya. Kalau ada yang baik sama kita, apa yang harus kita lakukan? Bilang terima kasih ya….Kalau mau bilang terima kasih ke Allah, kita bilang Alhamdulillah." Lalu anak juga bisa diperkenalkan bagaimana cara bersyukur dengan perbuatan. "Kan sudah dikasih Allah tangan yang sehat, dipakai untuk apa? Untuk memukul, melempar mainan, atau untuk membantu bunda bereskan mainan?" Bisa juga dilengkapi dengan gambar-gambar atau foto anak dan dibuat menjadi poster atau buklet, agar anak lebih mudah mengingatnya. Kembali lagi ke perkembangan kognitif anak usia 2-4 tahun, mereka butuh banyak contoh konkret, terutama untuk menjelaskan konsep-konsep yang biasanya abstrak ini.

Topik ini juga bisa berlanjut ke pembahasan lain, seperti mengapa kita perlu sholat? Mengapa kita membaca Al Qur'an? Memang perlu untuk menyampaikan bahwa sholat memang wajib bagi seorang muslim, tapi jika dikaitkan dengan sifat Allah sebagai Zat yang Maha Pencipta, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang, anak akan mendapat pemahaman yang lebih kaya daripada sekedar "kewajiban". Begitu juga dengan membaca Al Qur'an, karena kita ingin tahu apa yang Allah perintahkan, karena membaca al Qur'an itu disukai Allah dan mendapat pahala. Jadi belajar huruf hijaiyyah pun tujuannya supaya nantinya bisa membaca Al Qur'an. Ternyata, asma-ul husna (nama-nama yang baik) yang dimiliki Allah bisa diajarkan dengan contoh konkret. Lebih baik bila pembahasannya dihubungkan dengan kehidupan anak sendiri, seperti yang saya contohkan tadi. Bercerita tentang kisah hidup para rasul dan sahabat-sahabat Rasulullah juga bisa menjadi sarana yang baik untuk memberi gambaran tentang contoh sosok yang "baik" menurut ajaran Islam.

Tentang metode belajar huruf hijaiyyahnya seperti apa, bagaimana supaya anak mau mengikuti ritual-ritual agama seperti sholat dan berdoa, saya pikir lebih baik kita bahas dalam diskusi saja. Kemarin juga sudah banyak yang sharing tentang tips dan triknya. Dalam materi ini, saya lebih ingin menekankan bahwa dalam mengajak anak usia dini untuk memahami ajaran agama mereka, bisa dikatakan esensinya adalah tentang pertanyaan "mengapa" dan "untuk apa". Anak usia 4 tahun bisa meniru gerakan sholat dengan sempurna karena perkembangan fisik dan motoriknya sudah memadai, namun peran orangtua yang tidak kalah penting adalah untuk menanamkan pemahaman kepada anak, untuk apa dia perlu sholat.
Demikian penyampaian materi dari saya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan diskusi yang seru juga.

Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Blog: http://www.rumahmainanak.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s