Mengajarkan anak sholat

🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴🌵🌴

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Bunda-bunda shalihah… Tema kita hari Senin, 31 Agustus 2015 adalah

🍁Mengajarkan anak sholat 🍁

sebelum kita berdiskusi, mari kita simak sedikit ulasan berikut….

🌾🍃🍄🌾🍃🍄🌾🍃🍄🌾🍃
Bunda Ayah…
Tentu kita pernah melihat anak-anak Balita yang mulai belajar sholat. Mereka punya gaya khas tersendiri ketika bunda dan ayah mengajak mereka sholat. Dan…hihihi…kadang bunda dan ayah berjuang keras untuk tetap khusu’ di dalam sholat menahan tawa geli karena polah mereka yang lucu. Cara sujud yang ajaib (terkadang sampai tiarap), senyum-senyum tengil memandangi wajah kita, berjuang keras untuk duduk tahyat dengan benar, hanya beberapa saat berjama’ah terus kabur entah kemana, belum lagi kalau dia berusaha mengikuti bacaan imam…dan banyak kelucuan lain yang bunda dan ayah alami bersama mereka.

Bunda Ayah…

Mengajarkan mereka ibadah memang merupakan kewajiban kita. Karena ibadah adalah salah satu tujuan utama dari penciptaan manusia,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“. (Adz Dzariat:56)

Ada banyak ibadah yang menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. Tetapi yang sangat dekat dengan keseharian kita adalah sholat. Inilah ibadah yang setiap hari kita lakukan dan ini pulalah ibadah yang pertama kali akan di hisab oleh Allah Subhanawata’ala. Karena itu, sholat  menjadi bagian ibadah pertama untuk di kenalkan kepada anak-anak kita.

🐞 Tak Perlu Marah

“Kamu gimana sih nak ? Sekarang sudah jam 2, kamu belum juga sholat Zhuhur? Besok-besok mama gak ngasih kamu main lagi “.
“Kamu itu sudah sekolah sekarang, kenapa sholatnya masih becanda aja !”.

Kalimat-kalimat di atas adalah contoh ungkapan kebanyakan orang tua yang merasa kesal pada saat berurusan dengan sholat anaknya. Kelucuan-kelucuan yang kita anggap normal itu seketika berubah menjadi sesuatu yang mengesalkan ketika dia mulai memasuki usia sekolah.  Kita mulai menggunakan bahasa-bahasa tegas dan keras menegur mereka pada saat mereka terlambat mengerjakan sholat, bercanda dalam sholat dan sebagainya.

Bunda Ayah…
Berapa usia anak kita sekarang? Apakah ia sudah baligh? Kalau ia belum baligh, maka tidak layak bagi kita untuk memarahi dan menghukum mereka. Bukankah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam menyampaikan kepada kita,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena catatan amal dari tiga orang : orang gila yang hilang akalnya sampai sadar kembali, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimpi (baligh).” (HR Abu Daud)

Terjawab sudah, tidak ada tuntutan apa pun secara syari’at terhadap anak-anak kita dalam hal ibadah selama mereka belum mencapai usia baligh. Yang ada adalah sebuah proses untuk melatih mereka. Dalam proses latihan, ketika mereka salah dalam berlatih, malas atau tidak mengerjakannya, maka kita masih memiliki waktu untuk mengajak ia melakukannya. Kalau hari ini gagal, esok kita coba lagi.

🐝 Bunda ayah, Lemah Lembutlah

Bukankah kelembutan merupakan bagian dari rasa kasih sayang Allah kepada kita? Dengan kelembutanlah maka anak-anak akan merasa nyaman bersama kita. Kalau mereka melakukan kesalahan yang tidak semestinya di lakukan, maka maafkanlah mereka فَاعْفُ عَنْهُمْم , lebih dari itu bahkan Allah memerintahkan untuk memohonkan ampunan untuk mereka,

وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

Lalu, berdialog dan berdiskusilah dengan mereka. Hingga lahir nantinya kesepakatan-kesepakatan yang akan memudahkan kita untuk untuk mengarahkan mereka. Lalu serahkan segala upaya kita kepada Allah Azza Wajalla.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran 3:159)

🐜 Saat Latihan di Mulai

إِذَا عَرَفَ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ، فَمُرُوْهُ بِالصَّلاَةِ

“Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)

Kita sudah mulai bisa mengenalkan kepada anak tentang sholat pada saat ia sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri. 
Adapun penekanan kepada anak untuk di perintahkan sholat secara khusus di sebutkan pada saat ia berusia 7 tahun.

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka pada usia 10 tahun, dan pisahkan juga mereka dari tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab mata yu`marul-ghulam bis-shalat no. 495. Hadits hasan shahih [al-Albani])

Pada usia ini anak secara nalar sudah dapat kita ajak untuk dialog tentang baik dan buruk, benar dan salah.Kemudian ketika anak masih membandel dan tetap sulit untuk melakukan sholat di usia 10 tahun, maka kita di izinkan untuk memukulnya. Tentunya dengan pukulan yang tidak menyakiti atau bahkan melukai. Ada waktu tiga tahun buat kita untuk secara serius mendidik anak kita membiasakan sholat.

☀ Bunda Ayah…Ini Tabungan Kita

Sebagai orang tua, kita memang memiliki kewajiban untuk melatih dan membiasakan anak melakukan ibadah dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya. Kalaupun sang anak belum di kenai kewajiban ibadah terhadap dirinya, tapi apa yang di lakukannya akan terhitung sebagai amal sholeh di hadapan Allah Subhanawata’ala. Begitu pula orang tuanya akan mendapatkan bagian dari amal sholeh itu.

رَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ  نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ .

“Seorang ibu mengangkat anaknya. Lalu ia berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, apakah ia sudah dikatakan berhaji?” Beliau bersabda, “Iya dan bagimu pahala.” (Shahih Muslim : 2378)

Ya…sekalipun mereka tidak di tuntut secara syari’at, tapi apabila mereka melakukannya maka tetap akan terhitung sebagai bagian dari amal sholeh dan kita pun mendapatkan pahala dari apa yang ia kerjakan. Inilah salah satu dari bagian tabungan amal kita.

🌻 Bunda Ayah, Kita adalah Contoh Efektif Bagi Anak

Cara paling mudah untuk bisa memahami sebuah proses pembelajaran adalah dengan memberikan contoh. Adanya contoh memudahkan anak untuk mengikuti. Akan semakin menarik buat anak ketika yang memberikan contoh adalah figur yang mereka kagumi dan sayangi. Biasanya anak akan menjadikan kedua orang tua mereka menjadi figur sentral kehidupannya. Tidak jarang kita akan melihat banyak kemiripan prilaku antara seorang anak dengan ayah atau ibunya. Apakah dalam cara berjalan, berbicara, marah dan seterusnya. Cara ini pulalah yang menjadi bagian dari sebuah proses pembelajaran sholat.

صَلوُّا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَليِّ

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhori).

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي الْيُمْنَى يَفْتِلُهَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ

“Ibnu ‘Abbas berkata: “Lalu aku bangun dan berbuat seperti yang beliau perbuat. Kemudian aku pergi dan tegak di sampingnya, lalu beliau menempatkan tangan kanannya di kepalaku dan mengambilnya, dan menarik telinga kananku, lalu shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Abbas terbangun di tengah malam dan melihat tindak-tanduk Rasulullah, lalu ia pun mengikutinya, meniru semua gerak yang di lakukan Rasulullah. Ibnu Abbas yang masih kecil salah dalam memposisikan dirinya. Ia berdiri di sebelah kiri Rasulullah. Kemudian Rasulullah memindahkannya ke posisi sebelah kanan. Ini adalah sebuah proses pembelajaran yang sangat efektif. Bukankah Rasulullah tidak mengajak Ibnu Abbas untuk sholat malam bersamanya? Tapi ia sendiri yang tergerak untuk mencontoh sosok Rasulullah.

Bunda Ayah…Akan lebih mudah buat bunda dan ayah untuk bersiap melakukan sholat lalu mengajak anak- anak untuk mengerjakannya bersama. Akan lebih mudah buat bunda dan ayah, sudah duduk membuka Quran dan mengajak anak-anak untuk mengaji bersama, dari pada bunda dan ayah, berteriak memerintahkan mereka untuk mengerjakannya, tetapi bunda dan ayah tidak terlihat berupaya mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Terlebih ayah, kita adalah figur dan idola dambaan bagi seorang anak. Ketika seorang ayah setiap gerak-geriknya menjadi tauladan, bisa di pastikan akan sedikit sekali energi yang terbuang untuk membentak atau memarahi anak dalam proses pendidikannya.

Ayah Punya Hadiah

أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُوْرَاءَ إِلَى قُرَى اْلأَنْصَارِ: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ. قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُوْمُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ اْلإِفْطَارِ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke perkampungan Anshar untuk menyampaikan: “Barangsiapa yg pagi hari itu dlm keadaan tidak berpuasa hendak menyempurnakan hari itu dengan berpuasa dan barangsiapa yang berpuasa hendak menyempurnakan puasanya.” maka kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami membuat mainan dari perca. Apabila anak-anak itu menangis karena lapar kami memberikan mainan itu. Demikian seterusnya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Al-Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Ayah punya hadiah untuk kamu! Pastilah si kecil langsung tertarik. Pilihlah mainan atau apapun yang di sukainya. Kalau ia suka dengan mainan mobil-mobilan, begitu kita perlihatkan maka matanya akan berbinar-binar penuh harap. “Untukku kah ?”….”Ya….untuk kamu tapi ada syaratnya. Ayah cuma pingin kamu nanti ikut sholat berjama’ah di masjid bersama ayah. Berdiri di sebelah ayah, ikuti semua gerakan sholat yang ayah lakukan sampai selesai. Kalau kamu bisa mengikuti semua gerakan ayah, maka hadiah ini menjadi milik kamu”.

🌲Semua Terasa Menyenangkan.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ اْلأُوْلَى ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا، قَالَ وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي قَالَ فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا أَوْ رِيحًا كَأَنَّمَا أَخْرَجَهَا مِنْ جُؤْنَةِ عَطَّارٍ

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu, dia berkata:
Saya pernah ikut shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat zhuhur. Setelah itu beliau keluar untuk menemui istrinya dan saya pun turut menyertainya. Kemudian beliau disambut oleh beberapa anak kecil dan beliau pun segera mengusap kedua pipi mereka secara bergantian. Jabir berkata; ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengusap pipi saya dan saya merasakan tangan beliau yang dingin dan harum seolah-olah baru keluar dari tempat minyak wangi.’

Terlihat kebahagian dalam diri Jabir bin Samurah ketika turut shalat bersama Rasulullah. Bahkan setelah selesai pun ia mengikuti Rasulullah, ternyata tidak cuma dirinya, masih banyak anak-anak lain yang menyambut beliau. Rasul yang mulia ini mengusap kedua pipi anak-anak kecil itu secara bergantian. Yang di rasakan mereka semua pastilah sama dengan apa yang di rasakan oleh Jabir bin Samurah. Tangan Rasul yang dingin dan harum. Kesan yang selalu mereka rasakan setiap kali sholat bersama Rasulullah. Adakah ayah memberikan kesan mendalam seperti ini setiap kali mengajak anaknya sholat. Dengan pakaian rapi dan aroma yang semerbak. Juga masjid atau mushola yang ruangannya tidak apek dan pengap di tambah aroma karpet yang harum. Semuanya terasa menyenangkan buat anak-anak. Atau mungkin masjid dan mushola hari ini berkesan kebalikannya ? Buat anak-anak ketika mereka hadir di masjid yang terlihat adalah wajah-wajah tidak ramah dan gampang sekali marah pada saat mereka membuat kegaduhan. Belum lagi aroma karpet yang tidak sedap karena lembab.

🌼 Menjadi Pelaku bukan Pelengkap

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

Dari anas ,“Aku shalat bersama seorang anak yatim dirumah kami dibelakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibuku Ummu Sulaim dibelakang kami”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Anak-anak menjadi pelaku utama di dalam ibadah, bukan hanya pelengkap dan tidak di anggap. Anas dan seorang anak yatim sholat di belakang Rasul, di sebutkan anak yatim berarti ia belum baligh. Anak yatim tersebut tetap berdiri di belakang Rasulullah bersebelahan dengan Anas bin Malik. Ketika seorang anak kecil masuk ke dalam shaff sholat, maka perlakuan yang dia dapat adalah layaknya seorang dewasa.

Dalam kesempatan lain kita juga dapat melihat bagaimana Rasulullah secara serius mengajarkan Abu Mahdzurah mengumandangkan azan.

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي سُنَّةَ الْأَذَانِ فَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِي وَقَالَ تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ تَرْفَعُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ تَخْفِضُ بِهَا صَوْتَكَ ثُمَّ تَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالشَّهَادَةِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Dari Abu Mahdzurah, Aku berkata: “Wahai Rasulullah. Ajarilah aku sunnah adzan.” Lalu Beliau memegang bagian depan kepalaku dan berkata: “Ucapkanlah dengan suara perlahan”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Kemudian keraskanlah suaramu dalam membaca syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ .

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ .حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ. حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Jika shalat Subuh, katakanlah :

” الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ ”

Lalu :

” اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه ”

(Shahih Muslim 2329-80)

Sekarang kalau kita ingin membayangkan masjid di masa Rasulullah adalah sebuah tempat terbuka yang bertiang batang kurma dan beratapkan pelepah kurma. Lantainya hanya terdiri dari pasir dan kerikil-kerikil. Setiap kali anak-anak masuk ke dalamnya maka mereka akan bertemu dengan Rasulullah yang mereka cintai. Yang sentuhan tangan dan aroma tubuhnya sangat berkesan bagi mereka. Di sana pun ada teman mereka Abu Mahdzurah dengan suara merdunya yang menjadi salah satu muadzin Rasulullah. Pastilah masjid dengan suasana seperti ini menjadi tempat paling favorit buat anak-anak kita.

🌾🍃🍄🌾🍃🍄🌾🍃🍄🌾🍃

Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat

HSMN.Timtemadiskusi@gmail.com

Sumber: 
http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/component/content/article/38-ayah-belajarlah-dari-nabi/76-indahnya-sholat-buat-anak
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅🔆hsmn🔆🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥facebook.com/hsmuslimnusantara
👥FB: HSMuslimNusantara Pusat
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡

Bagaimana pengalaman Bunda-bunda sholihat mengajarkan ttg kewajiban ibadah sholat pada  Buah Hati?

Yuk  kita diskusikan….

Mari menebar hikmah dan manfaat yang telah Alloh beri…

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s