Memaksimalkan kecerdasan anak

BAGAIMANA ORANGTUA DAPAT MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF (KECERDASAN) ANAK?
Oleh: Ratih Sondari, M.Psi., Psikolog
Sumber: Handbook of Parenting Volume 5

Berdasarkan bukti empiris dari berbagai disiplin ilmu, terdapat 10 cara yang bisa dilakukan ortu untuk memaksimalkan kecerdasan anak-anaknya, yaitu:
1⃣Kenali apa yang bisa dan tidak bisa diubah dalam diri anak kita.
What NOT TO DO: melihat anak-anak kita seolah-olah terdiri dari tanah liat yang bisa kita bentuk menjadi apa pun yang kita inginkan.
What TO DO: perhatikan dengan hati-hati ketika anak kita berusaha untuk memperoleh keterampilan baru dan bertemu pengalaman baru. Perhatikan tanda-tanda minat dan/atau bakat pada bidang tertentu, dan kemudian doronglah anak kita untuk memperoleh keterampilan di bidang tersebut dan mengeksplorasi bidang tersebut. Pastikan anak-anak kita dikenalkan kepada berbagai bidang keterampilan yang luas, sehingga kita dapat mengidentifikasikan rentang penuh dalam minat dan bakat natural anak-anak kita.
✨sebagian besar penelitian menyatakan bahwa kapasitas berpikir yg diukur oleh tes IQ setengahnya atau bahkan lebih dari setengahnya sudah dibawa anak sejak lahir atau dengan kata lain dipengaruhi genetik. Sejalan dengan bertambahnya usia, kapasitas berpikir tersebut bisa bertambah. Jika kita analogikan kapasitas berpikir itu seperti wadah air, maka setiap anak memiliki kapasitas yg berbeda-beda, bisa sebesar gelas, ember, atau bahkan kolam renang. Ukuran wadah itu tidak bisa diubah oleh orangtua krn telah dibawa anak sejak lahir. Yang bisa diubah orangtua adalah seberapa banyak air yg akan diisi ke dalam wadah itu. Jika kapasitasnya 1 gelas, tapi orangtua mengisi air 1 ember, maka sisa airnya akan tumpah sia-sia. Jika kapasitasnya 1 ember, tapi orangtua hanya mengisi 1 gelas, maka banyak potensi yang tidak dimanfaatkan.

2⃣ Beri tantangan yang bermakna pada anak kita, jangan membuat mereka bosan dan jangan memberatkan mereka.
What NOT TO DO: (1) tetap membiarkan anak-anak kita mempelajari hal yang baru dan sulit, bahkan ketika mereka terlihat tidak memahaminya. Kita berasumsi bahwa anak-anak kita akan dapat menguasai pelajaran baru tersebut jika mereka tekun dan rajin berlatih. (2) berhati-hati untuk tidak memberi tantangan berlebihan pada anak-tetap di dalam batas pemahaman mereka sehingga mereka tidak merasa frustasi.
What TO DO: seimbangkan dengan memberi tantangan bermakna dengan memberi tugas yang di luar jangkauan mereka, yang kadang mereka dapat berhasil dan gagal melakukannya.
✨Dampingi & bantu anak ketika mereka mengerjakan tugas yang di luar jangkauan kemampuan mereka. Bantuan diberikan hanya untuk melengkapi dan berdasarkan kemampuan anak yg telah ada, bukan untuk mengajari secara langsung. Jangan terlalu banyak memberi bantuan pada anak, tetapi juga jangan memberatkan anak sampai ia mengalami frustasi berulang kali. Ortu sebaiknya tidak terlalu banyak memberi arahan kepada anak, tetapi memberi kesempatan pada anak untuk menyelesaikannya dulu sendiri, memberi pujian thd usaha mereka, dan merespon/membantu ketika anak terlihat kesulitan. Contohnya, ketika anak sedang menyusun lego, biarkan anak mencari dulu sendiri potongan-potongan lego yg dibutuhkan sesuai dengan buku panduan, jika dalam rentang waktu yang kita rasa cukup lama anak terlihat kesulitan mencari potongan yg dibutuhkan di antara sekian banyak potongan lego lainnya, apresiasi usahanya untuk tetap mencari, kemudian kita bisa membantu mengambil beberapa potong kemudian meminta anak memilih mana yg dibutuhkan yang sama dengan gambar. Jika anak mengambil bentuk yg kurang tepat dengan contoh dalam panduan, kita bisa bertanya “apakah yang ini sama dengan yang di gambar” untuk mendorong anak berpikir ulang.

3⃣ Ajari anak bahwa hambatan utama dari apa yang BISA mereka lakukan adalah ketika mereka mengatakan kepada diri sendiri AKU TIDAK BISA.
What NOT TO DO: mengatakan kepada anak kita bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal tertentu, atau tidak memiliki motivasi untuk menyelesaikan sesuatu yang telah mereka mulai.
What TO DO: katakan kepada anak bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan dalam hidup. Yang perlu dilakukan adalah menentukan seberapa keras usaha dan kemauan mereka untuk mengatasi tantangan ini.

4⃣ Ingatlah bahwa lebih penting bagi anak untuk belajar pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan dan bagaimana menanyakannya, daripada belajar jawaban dari suatu pertanyaan.
What NOT TO DO: mendorong anak untuk melihat kita atau guru mereka sebagai orang yang sebaiknya memberikan pertanyaan, dan anak sebagai orang yang harus menjawabnya. Melanggengkan kepercayaan bahwa peran ortu dan guru adalah mengajarkan anak-anak tentang “fakta-fakta”.
What TO DO: menyadari-dan pastikan anak juga menyadari-bahwa yang paling penting bukanlah “fakta-fakta” yang anak ketahui, tetapi kemampuan anak untuk menggunakan fakta-fakta tersebut. Bantulah anak belajar tidak hanya untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga bagaimana untuk menanyakannya, dan bagaimana untuk mengformulasikan pertanyaan yang tepat. ➡ mendorong anak berpikir ala ilmuwan. Mulai dengan mengajukan pertanyaan, mencari semua alternatif jawaban yang memungkinkan (hipotesis), menguji kebenaran alternatif jawaban yang telah diajukan sebelumnya, mengevaluasi kembali jawaban yang telah ditemukan, membuat kesimpulan. Untuk berpikir ala ilmuwan ini butuh arahan & bantuan orangtua.

5⃣ Bantu anak menemukan apa yang sangat menggairahkan (excites) mereka. Ingatlah bahwa apa yang menggairahkan bagi anak belum tentu menggairahkan bagi kita atau yang kita harapkan akan menggairahkan bagi anak.
What NOT TO DO: belajar bersama anak untuk menemukan hal-hal yang kita selalu harapkan anak akan suka melakukannya.
What TO DO: belajar bersama anak untuk menemukan hal-hal yang anak sangat sukai melakukannya.

6⃣ Doronglah anak untuk mengambil risiko intelektual yang masuk akal.
What NOT TO DO: selalu mendorong anak untuk bermain aman-dalam kursus, dalam aktivitas, dengan guru, dengan tantangan intelektual.
What TO DO: ajari anak untuk sesekali mengambil risiko intelektual, dengan mengembangkan rasa untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengambil risiko dan kapan tidak.
✨para penemu adalah orang-orang yang berani mengambil risiko intelektual (risk taker). Kadang mereka dicemooh dan ditertawakan dalam proses menemukan sesuatu yang kelak bermanfaat bagi sesama manusia.

7⃣ Ajari anak untuk mengambil tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, baik untuk keberhasilan dan kegagalan yang mereka alami.
What NOT TO DO: selalu mencari-atau membiarkan anak untuk mencari-sesuatu di luar diri yang bertanggung jawab terhadap kegagalan anak kita (guru, murid lain, penyakit, dan sebagainya). Selalu mendorong anak-anak karena mereka tidak dapat melakukannya untuk diri mereka sendiri.
What TO DO: ajari anak untuk bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. bantu anak untuk mengembangkan motivasi internal mereka sendiri, sehingga kita tidak perlu mendorong mereka: memungkinkan mereka untuk melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.

8⃣ Ajari anak bagaimana menunda pemuasan, agar dapat menunggu hadiah/imbalan (rewards).
What NOT TO DO: selalu memberi imbalan kepada anak dengan segera. Membiarkan anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan segera. Menekankan “di sini dan sekarang” (here and now) dengan mengorbankan tujuan jangka panjang.
What TO DO: mengajari anak untuk menunggu untuk mendapatkan hadiah. mengajari mereka bahwa imbalan yang lebih baik adalah yang datang di masa depan. Tunjukkan contoh kehidupan kita sendiri kepada anak dan bagaimana contoh tersebut dapat terjadi juga kepada mereka. Tekankan tujuan jangka panjang, tidak hanya tentang di sini dan sekarang.
✨ semua usaha dan proses belajar anak adalah untuk memperoleh ilmu. Dalam jangka panjang, imbalan thd ilmu tersebut bisa berupa pencapaian cita-cita anak. Kita bisa memberi contoh bahwa kondisi/kemampuan/profesi yg kita miliki saat ini adalah imbalan dari proses belajar, usaha, & do’a kita sejak kecil. Pembiasaan penundaan pemuasan sangat penting karena imbalan dari Allah pun seringkali tidak dapat dirasakan segera, bahkan surga-imbalan yang sangat diimpikan oleh setiap muslim-adalah imbalan jangka panjang.

9⃣ Ajari anak untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain.
What NOT TO DO: mengajari anak untuk membangun cara pandang, tetapi tidak mencoba untuk memahami cara pandang orang lain.
What TO DO: mengajari anak pentingnya memahami, menghargai, dan merespon cara pandang orang lain.

🔟 Ingatlah bahwa yang penting bukanlah jumlah uang yang kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan anak, tetapi kualitas interaksi dengan anak-anak kita dan pengalaman yang dialami anak-anak kita.
What NOT TO DO: mengkhawatirkan sumber-sumber ekonomi yang kita sediakan untuk anak dan mengeluarkan uang sebanyak yang bisa kita keluarkan untuk mainan, sekolah unggulan, tutor, pelajaran khusus, wisata, olahraga, pakaian, komputer, dan sebagainya. Menghabiskan semua waktu kita untuk mendapatkan uang untuk digunakan untuk anak.
What TO DO: fokus pada kualitas interaksi kita dengan anak, tentang bagaimana kita menghabiskan waktu bersama anak, dan pada jenis pengalaman yang dimiliki anak ketika bersama kita dan jauh dari kita. Ingatlah bahwa kepemilikan materi tidak sendirinya membuat anak menjadi cerdas. Tapi bagaimana kita mendampingi anak lebih penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s