Hutang kepada anak2 kita

👬👭Hutang Kepada Anak-Anak Kita ::🎀
—————————————-
Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak.
Tidak jarang, kita memarahi
mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka
padahal mereka belum benar-benar paham
kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.

Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka…
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita.
Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi
sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan. Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan
kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang
anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama
waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan
bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita
bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan
sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah
yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola
emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi
manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa
depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap
memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata
mereka dengan kasih sayang dan penyesalan,
katakan kepada mereka, “Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan.
Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan.
Maafkan karena hanya
pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.”
(Sumber: Fahd Pahdepie, http://kisah-renungan.blogspot.com/ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s