Mengendalikan marah

Ternyata marah tidak ada dalam akhlaq muslim. Berbagai hadits membahasnya. Orang yang paling kuat diantaramu adalah yang paling bisa mengendalikan amarahnya. Hadits lainnya adalah saat seseorang marah, maka seketika itu pula ada 70 syetan yang memasuki tubuhnya. Mereka berdiam di tangan, maka tangan itu akan memukul, berdiam di mata maka akan melotot dan berwarna merah, berdiam di kaki akan menendang dan seterusnya. Maka marah itu tidak ada dalam kamus islam.
Ustadz berkisah, beliau pernah menyaksikan kejadian di jalan raya saat sebuah motor menyerempet sebuah mobil. Keduanya berhenti seketika. Pengendara motor membuka helmnya dan menghampiri pemilik mobil seraya memohon maaf atas kelalaiannya. Semua orang yang melihat menduga akan terjadi keributan setelahnya seperti yang lazim terjadi, tetapi ternyata pengendara mobil berkata dengan tenang: mungkin ini ujian dari Allah untuk kita berdua. Semoga lain waktu kita harus lebih berhati-hati. Woow, indahnya akhlaq tanpa amarah.
Kemudian bagaimanakah cara mengendalikan amarah? Sesungguhnya marah itu dari syetan yang terbuat dari api, dan dia dapat dikalahkan oleh air, maka saat marah, duduklah. Jika masih marah berwudlulah, sesungguhnya air dapat memadamkan api. Tips lain adalah membaca sholawat. Hal ini biasa dipraktekkan di negara-negara Arab. Saat ada yg berselisih, orang ketiga yang melihatnya akan berkata “shallu ala nabiyy” maka sholawat menurunkan denyut nadi dan melembutkan hati.
Jika ada pepatah bahwa orang yang suka marah maka akan cepat tua, bisa jadi itu adalah kebenaran karena marah membuat banyak otot berkerut, tekanan darah meningkat dan suara penuh tekanan.
Maka, bagi yang punya hobi marah, bisa diganti dengan tersenyum yang justru bernilai ibadah.
Bagi para ibu-ibu, godaan marah biasanya datang dari anak yang kesulitan mematuhi kata-kata orang tua. Saat suara melengking dan intonasi menjadi tinggi dan kasar, sesungguhnya saat itu syaraf otak anak yg terhubung tiba-tiba menjadi putus dan tidak dapat kembali lagi.
Ya Rabbana karuniakanlah kesabaran seluas samudera agar kami bisa menjaga diri dari amarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s