Surat Cinta Untuk Semua Yang Tersayang #bunda iis

SURAT CINTA UNTUK SEMUA YANG TERSAYANG

Ahad, 25 Maret 2012

Ayah, mamah, abi, om ade, om emil, paman nana,.. apa kabarnya semua?

Tarik nafas panjang… (ada yang hilang : bunda, apa kabarnya?)

Subhanallaah.. tahun 2012 ini keluarga kita mendapat ujian yang sangaaat berat yaa..

Buatku ini adalah kehilangan orang terdekat pertama kali, ternyata begini perihnya. Tepat 10 hari sepeninggal bunda iis tercinta dari tengah-tengah kita , dan aku yakin, masing-masing kita semua sedang berjuang menyembuhkan luka hatinya.. Bunda pergi membawa kepingan hati kita, menyisakan lubang dalam, menyesakkan dada, dan buncahan air mata serta jutaan kenangan yang sulit dilupa

Ayah, mamah, bagaimana kabarnya?

Kehilangan putri tersayang pasti sangat berat, bagai darah dan daging ikut dibawanya pergi. Ayah bilang setiap anak punya khasnya, bunda yang sangat mirip mamah, bunda yang sangat memperhatikan orang tua, bunda yang selalu mengabari duluan lewat telpon, menanyakan kabar ayah mamah, membelikan oleh-oleh sepulang kunjungan kerja, membelikan baju, sepatu, jam tangan,..bunda yang modis, yang cantik berpakaian apapun, yang tanpa mengeluh saat patah tulang kaki maupun saat batuk, sesak dan biru ujung jarinya, bengkak kakinya..

Om Ade, Paman Nana, bagaimana kabarnya?

Serasa tubuh kita tak berdiri utuh lagi ya, dibesarkan bersama, berempat, tumbuh berkembang, melalui banyak kenangan masa kecil, di TK, SD,SMP,SMU, kuliah, berlibur bersama, bermain, mudik ke Pekalongan, Pasuruan, hingga melepas bunda menikah, dan kita pun sibuk dengan aktivitas masing-masing, teringat hangatnya berkumpul, berempat kini tinggal bertiga, serasa pincang, tertatih-tatih..

Abi bagaimana kabarnya?

Hampir 10 tahun punya adik ipar perempuan yang sangat-sangat baik, menjaga dan menyayangi anak-anak kita bagai anak kandungnya sendiri, mengajak mereka bermain, membelikan yang disukai, ceria, tertawa, bersabar dengan sakitnya, menurut untuk diajak ke berbagai terapi.. Terasa sesak dada ini setiap kali anak-anak bertanya kemana bunda, mengapa meninggal, salman yang rindu dipanggil “aki” oleh bundanya, selalu teringat bunda tiap melihat karangan bunga, kangen saat mendoakan bundanya..

Om Emil bagaimana kabarnya?

Semoga Allah selalu memberikan kesabaran dan keikhlasan.. Pasti ada lebih banyak kenangan dan cerita bersama bunda, tawanya, baeudnya, senyumnya, ngambeknya…,

Hampir selalu bersama pasti membuat sangat hafal baunya.. terima kasih sudah mencintai bunda, menyayangi sepenuh hati, merawat dan mendampingi selama patah kakinya dulu, menjadi suami yang baik, yang membahagiakan, menjaga, menemani bunda bersabar dengan sakitnya, menemani makan, nonton dan jalan-jalan, menjadi teman berbagi cerita dan cita-cita..

Selalu ada yang teriris tiap kali ingat bunda, kadang hati seperti dicubit, aku bahkan masih sulit menahan air mata tiap kali kangen ataupun teringat, mohon maaf kalau aku tak setegar yang dikira. Tapi aku belajar bahwa kita harus bisa mengenali setiap emosi yang dirasa dan mengungkapkannya. Itulah mengapa aku ingin sekali menyapa, ingin tahu kabar masing-masing, orang-orang yang tersayang di sekitarku, yang masih ada, yang masih Allah berikan usia yang tentu saja ada maksud-Nya hingga mengapa bukan kita yang dipanggil duluan melainkan bunda

Tapi kita tidak boleh bertanya begitu ya Yah? Mah? Semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah, maka menjadi hak penuhNya jika ingin mengambil milikNya kapanpun juga, tanpa meminta izin dari kita yang dititipiNya. Masih teringat betapa kaget, sedih, kecewa, mengapa tidak ada tanda-tanda sebelumnya atau firasat bahwa bunda akan pergi secepat ini.Astaghfirullaah.. betapa hamba hanyalah makhluk yang tak tahu apa-apa. Padahal apa yang baik di mata kita belum tentu baik di mata Allah.

Aku butuh penguat untuk bisa menghadapi ini ke depannya, dan tentu saja keluarga adalah tempat bersandar setelah Allah Yang Maha Rahim.. Aku butuh diingatkan selalu untuk bersyukur atas hikmah besar dari kejadian ini. Betapa Maha Baiknya Allah merahasiakan kematian dari manusia. Hingga kita tetap bisa beramal maksimal sampai menjelang akhir hayat. Bayangkan jika kita semua tau kapan akan meninggal, maka bisa jadi seluruh keluarga akan menghentikan semua aktivitasnya setahun menjelang ajal untuk mendampingi, diam, tidak produktif, bersedih, meratapi, tak punya gairah hidup. Dan bagi calon mayit, bayangkan perasaan tegang dan mencekam menghadapi saat-saat akhir ajalnya..

Betapa Allah Maha Penyayang dengan membiarkan semua berjalan alami, untuk mengukur siapa yang taat pada-Nya dan siapa yang ingkar, pada kondisi paling jujur, meski Allah Maha Tahu apa yang ada di dalam hati setiap manusia. Dan kalau Allah mengambil kembali bunda saat sedang tidur nyenyak, jelas suatu kenikmatan besar lain yang Allah berikan pada keluarga kita, memudahkan untuk melepasnya dengan tenang, karena bunda meninggal dikelilingi orang-orang yang mencintainya, mendoakannya.. Meninggal dalam kondisi sehat, cantik, tidak menjadi beban dan tidak merepotkan orang lain, Subhanallah..

Betapa haru dan bangganya setiap mendengar kebaikan almarhumah dari para pentakziyah, bersyukur bahwa anak, adik, kakak, istri tercinta kita bermanfaat bagi orang lain, semoga itu semua menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir padanya sampai hari kebangkitan nanti. Inilah juga barangkali ibroh bahwa tatacara penyelenggaraan jenazah dalam Islam dilakukan secepat-cepatnya, tidak ditunda dalam memandikan mayat dengan lembut, mengkafani, mensholatkan dan segera menguburkannya. Agar kita para keluarganya segera bangkit, beraktivitas, beribadah, makin taat pada Allah guna mengumpulkan amalan bekal kelak, karena justru kita yang mestinya dikhawatirkan karena belum tahu akan menutup usia dengan cara bagaimana. Sedang bunda sudah tenang di alam kubur sana.., maka bukti cinta kita diwujudkan dengan berdoa, ziarah, beramal atas namanya, mengirimkan bacaan al quran agar diterangi kuburnya, diringankan hisabnya, diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya, hingga kelak bunda yang akan menyambut kita, menuntun kita memasuki surga jannatun-na’im bersama… Aamiin Ya Robb..

Ayah, Mamah, Abi, Om Ade, Om Emil, Paman Nana..

Tolong saling mengingatkan ya, menanyakan kabar masing-masing, saling menguatkan agar kita mampu melewati ujian ini, karena saat kita sekeluarga lulus, insya Allah ada kenikmatan yang akan segera menanti. Setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan. Hanya waktu yang akan membantu kita menyembuhkan luka, karena waktu adalah bagian dari obat

Karena pasti sepanjang kita terus menjalani hari demi hari, kita akan menemukan ruang-ruang kosong yang hampa, yang kehilangan sosok bunda dan kembali mencongkel luka hati.

Kita akan menemukan di rumah martanegara, rumah yang tadinya dalam rencana manusia akan menjadi tempat berkumpul semua anak dan cucu lengkap dengan bahagia.

Kita akan menemukan ruang kosong saat melihat ada satu keluarga lengkap sedang bercengkrama, atau makan dan foto bersama, berharap andai bunda masih ada

Kita akan mencari bunda kelak saat resepsi nikah aa, wisuda paman nana, perjalanan mudik, sholat idul fitri, idul adha, tahun baruan, 16 Oktober, 15 Maret, saat kumpul keluarga…

Kita akan sangat merindunya saat memasuki rumah kalibata, membereskan kamar dan barang-barangnya, melihat koleksi foto keluarga, bertemu teman-teman kuliah atau kerjanya, ziarah ke makamnya..

Tapi sesungguhnya, aku merasa bunda tetap dan masih ada, bersama diantara kita semua, hanya pergi ke luar daerah untuk waktu yang cukup lama, dan akan segera kembali.. Biarlah seperti itu rasanya, bersama banyak kenangan indah yang menyertainya..

Maka yang harus kita lakukan adalah berpegangan tangan kuat, saling mendukung, saling mengusap air mata, saling mengelus punggung, saling menguatkan sebagai satu keluarga… bahwa kita harus selalu bahu membahu melalui semua ini karena jalan terbentang di depan masih sangat panjang…

Meski lelah hati mendera, meski sepi kadang menyapa, meski rindu selalu tiba, yang saat itu datang, langsung menyedot energi kita, membuat kita kehilangan nyawa dan semangat untuk menuntaskan mimpi-mimpi di ujung sana. Padahal hakikatnya, suatu saat nanti satu persatu kita pun akan menyusul bunda..

Ayah, Mamah,.. Allah pilih bunda untuk diambil-Nya dulu supaya Ayah dan Mamah masih bisa mengajari kami, bagaimana tegar menghadapi ujian kehilangan, bagaimana penyelenggaraan jenazah, bagaimana keluarga bersatu saling menguatkan, bagaimana tauladan dan nasehat selalu ayah dan mamah berikan pada kami, supaya kami bisa mencontoh dari ayah mamah, agar kami bisa menjadi anak sholih dan sholihah yang merupakan investasi ayah mamah kelak di akhirat. Sesuatu yang semoga bisa membalas berjuta-juta kebaikan dan kemuliaan ayah mamah sebagai orang tua, meskipun sedikit saja.. sebagai wujud cinta, penghormatan dan ucapan terima kasih tak terhingga dari kami kepada orang tua

Padahal masih banyak yang ingin dilakukan bersama bunda, mengapa tidak setelah aa menikah, setelah kita umroh bersama, setelah rumah martanegara jadi, setelah bunda hamil dan punya anak, setelah karirnya makin meningkat.. Mengapa tidak dipaksa berobat ke dokter ahli lain ataupun keluar negeri… Mengapa malam itu kita tidak menemaninya… Mengapa.. Mengapa… Niscaya memang tidak akan selesai request kita pada Allah.

Astaghfirullaahal ‘adziim. Betapa egoisnya kita meminta sesuatu yang kita tidak tahu persis kebaikannya. Kita tidak tahu mungkin beratnya kondisi bunda jika melanjutkan hidupnya, kita semestinya bersyukur bunda sudah diberi Allah bonus usia hingga 27 tahun, dengan kondisi sangat baik, tidak dirawat di rumah sakit, bersih dari selang dan alat-alat, menjalani hidup dengan bahagia, merasakan selesai sekolah, kuliah, menikah, bekerja di tempat yang baik… Betapa Allah sudah memberi kita cukup waktu untuk bercengkrama, tak pantas menawar lagi..

Sesungguhnya sebagaimana kelahiran, tanggal kematian seseorang sudah Allah tetapkan sejak awal..

Maka semuanya..

Hal yang bisa kita lakukan sekarang untuk bunda tercinta adalah dengan banyak mendoakan dan menambah daftar list amal jariyahnya lewat menyalurkan hartanya tersisa, melanjutkan hidup dengan kepala tegak sekaligus makin merunduk pada Sang Khaliq, berupaya agar bisa husnul khotimah kelak seperti bunda, Aamiin..

Mari kita merancang persiapan pernikahan aa dengan semangat, menjadwalkan rencana umroh bersama keluarga yang sempat tertunda, membuat yayasan keluarga yang memberikan manfaat besar dan amal jariyah, mewujudkan mimpi-mimpi lainnya, melanjutkan kehidupan masing-masing dengan saling memperhatikan satu sama lain, berlomba-lomba dalam kebaikan, menabung amalan untuk dibawa kelak, hingaa saat waktunya tiba, kita akan sangat berbahagia karena akan menyusul keluarga tercinta, berkumpul bersama orang-orang sholih di surge, di tempat yang abadi..

Ya Robb, berikan kami kekuatan melalui semua ini, agar kami tidak jatuh berkepanjangan, melainkan bersemangat meneruskan amal-amal kebaikan yang sudah diperbuat bunda

Yang sehat ya Ayah, Mamah, Om Emil, Om Ade, Paman Nana, Abi..

Apa kabar semuanya?

Hanya waktu yang akan membantu kita menyembuhkan luka.., bersabar dan terbiasa dengan semua ini..

Saling menasehati, memberi motivasi dan menguatkan yaa.. agar hilang lemah ini, agar bangkit tubuh ini, agar semangat diri ini, karena masih banyak orang-orang lain tersayang di sekitar kita yang juga harus kita perhatikan..

Ayah Mamah, terima kasih telah membekali kami semua dengan ilmu agama, dengan ketaatan pada Allah sehingga aku yakin Insya Allah kondisi kita semua baik-baik saja menghadapi takdir dan ujian ini.

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang..

Ayah dan Mamah, selamat ya, sudah berhasil menghantarkan putri tercintanya menghadap Sang Khaliq dalam kondisi terbaik, kemudian mengajari kami dalam menghadapi semua ini, untuk bersabar dan ikhlas sebagai orang-orang yang ditinggalkan.. Teruslah bimbing dan didik kami ya Yah, Mah, agar kami bisa menghadap-Nya kelak dalam kondisi amal terbaik pula..

Ya Allah, beri kami sekeluarga kekuatan, keikhlasan dan kesabaran..

Karena hidup di dunia ini memang sebentar saja, yang abadi hanyalah alam akhirat kelak..

Allahummaghfirlahaa.. warhamha.. wa’afihi wa’fuanha

Wallahu a’lam bishowab

Iin Churin’in

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s