Never Ending Learning 3

http://majalahpercikaniman.blogspot.com/2011/03/kilas-2.html

 

Selasa, 01 Maret 2011

Kilas 2

BEGINI SEHARUSNYA PERAWATAN KECANTIKAN DILAKUKAN

Selain cantik, tujuan merawat diri bagi seorang muslimah adalah untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesegaran tubuhnya. Selain itu, kaum Hawa juga diimbau agar tidak terjebak pada sikap tabarruj, yakni sengaja memperlihatkan kecantikan (bahkan aurat) kepada yang bukan mahramnya. Demikian yang ditekankah Ust. Aam Amiruddin dalam acara bedah buku Fiqih Kecantikan dan Fiqih Wanita Empat Madzhab pada 12 Februari lalu. Menurutnya, kecantikan seorang wanita haruslah diawali dengan kecantikan hati, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Kecantikan hati inilah yang akan menggiring seorang wanita pada kecantikan luar, yakni merawat dan menjaga kebersihan diri dengan meniatkannya karena Allah Swt. bukan untuk dipamerkan apalagi menggoda yang bukan mahramnya.

Acara yang digelar dalam rangkaian Bandung Book Fair 2011 dan mengambil tempat di Landmark Convention Hall tersebut turut pula menghadirkan Hj. Iin Churin’in, S.S, Apt. (owner moz5 Salon Muslimah) dan Heera Vasandani (pengurus Bursa Sajadah Aarti Jaya) sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, Iin berbicara mengenai cara merawat kecantikan sedangkan Heera lebih menekankan seputar identitas muslimah. Maka tidak aneh apabila peserta bedah buku mendapat pengetahuan dan wawasan luas dari ketiga pembicara tersebut.

Menurut Iin, adalah penting bagi wanita untuk bisa menjaga kecantikan secara teratur di tempat yang terjaga, aman, nyaman, dan syari. “Alhamdulillah. Semangat berhijab di kalangan wanita Islam di zaman sekarang dirasa cukup besar. Untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka dalam hal perawatan badan dan kecantikan, tentunya harus ada fasilitas yang menunjang,” kata Iin. Menurut Iin, tempat yang sesuai bagi muslimah dalam merawat diri dan kecantikannya adalah salon yang bukan hanya komplet dengan berbagai layanan, tapi yang lebih penting adalah syari.

Diamini Heera, para wanita harus memahami hukum-hukum perawatan badan dan kecantikan agar tidak terjebak kepada hal yang tidak diperkenankan dalam Islam. Kaum muslimah, baik yang masih lajang maupun yang sudah menikah, harus cerdas menjaga penampilan agar tampil cantik secara prima. “Selama perawatan badan dan kecantikan tersebut tidak dilarang agama, kaum muslimah sudah sepatutnya melakukan perawatan tersebut. Apalagi di era sekarang, kaum muslimah harus menjukkan identitasnya, yakni cerdas dan bisa merawat penampilan. Jangan sampai wanita berhijab itu dikesankan terbelakang, tak pandai merawat badan, dan seterusnya,” ungkap Heera.

Menurut Ust. Aam, banyak hal yang luput dari perhatian kaum wanita dalam hal merawat kecantikan. Melalui buku ini, beliau mengulas hukum fikih rangkaian teknologi kecantikan serta metode yang biasa digunakan wanita untuk tampil cantik, mulai dari yang sederhana (seperti berhias dengan menggunakan make-up atau melakukan lulur dan spa) sampai yang masih menjadi perdebatan (seperti hukum meluruskan dan mewarnai rambut). Setiap hukum fikih metode kecantikan tersebut didasarkan pada Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. setelah sebelumnya diberi penjelasan; baik dari segi kecantikan, teknologi, maupun kesehatan.

Khusus untuk buku Fiqih Wanita Empat Madzab yang ditulis Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt, Ust. Aam menyarankan buku tersebut sebagai acuan bagi kaum muslimah. Kebutuhan akan buku fikih wanita menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Islam telah menetapkan tata cara bersuci khusus untuk wanita, batasan aurat bagi wanita, melaksanakan shalat serta shaum bagi wanita, berdandan, hak dan kewajiban wanita dalam berumah tangga, serta peranan wanita dalam ranah publik yang semuanya itu berbeda dengan aturan bagi kaum pria. Buku Fiqih Wanita Empat Madzab merangkum semua pembahasan tersebut.

Apakah kedua buku yang dibedah hanya perlu dibaca kaum wanita? Ternyata tidak. “Para ayah perlu memiliki wawasan dan pengetahuan luas seputar dunia muslimah, termasuk cara merawat badan dan kencantikkan sehingga kelak apabila anak (perempuan)nya bertanya mengenai hal tersebut, sang ayah bisa menjawabnya. Ini penting sebagai bagian dari pola pengasuhan dan pendidikan kepada anak,” terang Ust. Aam. [Ahmad]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s