Never Ending Learning

http://www.asahasuh.com/orang-tua/184-iin-churinin-owner-moz5-salon-muslimah-setelah-menikah-kita-harus-lebih-berkembang-daripada-saat-lajang.html

 

Iin Churin’in, Owner Moz5Salon Bandung : ‘Setelah Menikah, Kita Harus Lebih Berkembang daripada Saat Lajang’

ditulis oleh Mita Rachmat, pada 16 November 2011 |

Ibu muda ini punya usaha di bidang kecantikan dan pendidikan. Tak tanggung-tanggung, salon muslimah yang ia besut kini telah membuka beberapa cabang. Belakangan ia menekuni bisnis berlatabelakang pendidikan dan pengasuhan. Mengapa ia memilih untuk berwirausaha? Bagaimana pula ia mengelola keluarganya? Dan apa tips yang ia berikan bagi para ibu yang ingin berwirausaha? Inilah wawancara asahasuh.com dengan owner Moz5 salon Muslimah dan Galenia Mom and Child Centre, Iin Churin’in

 

Biodata :

Nama : Hj. Iin Churin’in, S.Si, Apt

TTL : Bandung, 1 Juli 1980

Suami: H. Hafidz Ary Nurhadi, MT

Aktivitas: Ibu Rumah Tangga, Wirausaha

Anak2:Nama, umur :   Amatul’aliyya Azka Rahmani (Azka, 8 thn)

Ahmad Umar As-Sabiq (Umar, 6 thn)

Ahmad Salman Al-Makkiy (Salman, 3thn)

Domisili: Jl. Jatimulya No.8, Turangga Bandung

 

A : Ibu Lulus dari ITB, peluang untuk jadi ibu bekerja sangat besar, tapi mengapa memilih menjadi IRT dan berwirausaha?

Saat menikah (22 des 2002) saya dan suami sama-sama sepakat bahwa pendidikan terbaik anak hanya bisa didapat dari kedua orang tua terutama ibu. Maka kemudian, kemungkinan bekerja di luar rumah ‘nine to five’ bagi seorang ibu menjadi tidak sesuai dengan cita-cita keluarga kami, Apalagi latar belakang kami berdua memang sama-sama menikmati ibu yang full time ada di rumah.. Maka dg sadar dan senang hati saya memilih kelak tidak akan bekerja dan dengan bangga menjadi ibu rumah tangga.

Alhamdulillah saya diberi amanah kehamilan hanya dua bulan setelah menikah  sambil menjalani kuliah, sehingga selepas lulus kuliah, saya langsung menikmati masa mengasuh anak dan tidak sempat ‘jobseeking’. Maka we’re still on the track :D

 

Saat Azka berusia 14bulan saya hamil Umar. Ternyata Azka relatif mandiri sehingga kesibukan sayapun mulai terasa membosankan. Saya terjebak rutinitas aktivitas kerumahtanggaan yang sama setiap harinya.

Hal ini saya komunikasikan dengan suami (prinsip saling terbuka, komunikasi nomor satu)

Salah satu prinsip lain keluarga kami adalah bahwa pasca menikah, kami harus terus berkembang dibanding lajang dahulu. Masing-masing harus terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pribadi.

Karena suami memang telah berwirausaha terlebih dahulu, beliau lebih mendukung saya berbisnis saja untuk membuat aktivitas lebih berwarna. Waktu yang diperlukan juga fleksibel sehingga kita bisa menjalankan amanah tanpa terikat waktu kerja, serta bisa tetap memberi perhatian pada anak-anak. Itulah beberapa alasan kuat pada waktu itu.

Naah..perjalanan berlanjut ke bagian memilih jenis usaha apa yang akan saya jalankan..

 

 

A : Mengapa memilih usaha di bidang  kecantikan dan kesehatan? Mengapa pula pendidikan dan pengasuhan?

Tahun 2005 saya memilih untuk membuka usaha di bidang pendidikan. Alasannya sederhana saja: “ini akan bermanfaat juga untuk anak-anak saya”.

Kami tinggal di perumahan daerah Bandung Timur yang banyak dihuni keluarga muda dengan anak-anak usia Sekolah Dasar. Karena latar belakang  pendidikan saya di  ITB yang kemudian diketahui oleh para tetangga, membuat ibu-ibu suka meminta anaknya untuk diajari pelajaran tertentu (beban almamater, hehe).

Dari mereka pulalah tercetus usulan untuk membuka tempat kursus lainnya. Lokasi tempat tinggal kami memang relatif di pinggir kota jadi untuk pergi ke lokasi berbagai les agak jauh dan cukup merepotkan.

Dengan semangat ingin mengakomodir keinginan ibu-ibu, yang berarti pula pasarnya sudah terbuka, jadilah saya mencari tempat kursus yang memungkinkan saya membuka cabang atau mengambil franchise

Kenapa mengambil franchise?

Bagi pemula, ini akan sangat membantu karena sistemnya sudah ada. Saat itu saya bertemu dg yayasan ASMA (Adil Sempoa Mandiri) utk mengambil hak membuka Unit Kursus Mental Aritmetika Sempoa. Saat itu kebetulan juga ASMA baru membuka produk baru untuk kursus Bahasa Inggris. Maka saya pun mengajukan diri untuk menjadi menjadi pengelola unit kedua lembaga tersebut. Mengingat matematika dan bahasa inggris adalah dua mata pelajaran yang diburu tempat kursusnya karena banyak anak yang bermasalah dengan pelajaran ini di sekolahnya.

Alhamdulillah, akhirnya masing-masing dua kelas sempoa dan dua kelas bahasa Inggris berhasil dibuka dan berjalan dengan baik. Peminatnyapun makin bertambah tiap tahunnya.

Hikmah terbesar untuk saya dari usaha perdana itu adalah bisa bersilaturahim dengan tetangga satu komplek, karena nyaris setiap anak dari ujung blok depan sampai belakang  kursus di rumah. Azka senang karena banyak kakak yang main ke rumah sehingga masalah sosialisasi terpecahkan tanpa saya khawatir akan kebiasaan buruk yang bisa diambil dari sekitar.

_____

Tahun 2008 suami menawarkan apakah saya ingin belajar bisnis yang lain lagi? Tantangan itu saya sambut dengan membuka salon muslimah. Ini juga merupakan mimpi tersendiri karena semasa kuliah dulu saya sering menjumpai teman-teman berjilbab kesulitan mencari salon untuk creambath (sementara saya sendiri memang jarang nyalon, hee). Apalagi hari ini kita melihat semakin banyak minat masyarakat untuk kembali kepada syariat islam (maraknya bank syariah, asuransi) termasuk semakin banyak  muslimah yang sadar untuk berhijab. Namun sayang, semangat berjilbab ini tidak diiringi dengan  fasilitas yang mendukung.

Di sisi lain, bisnis kecantikan-kesehatan menjadi trend yang sangat menarik karena adanya perubahan lifestyle disertai meningkatnya pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh sehingga salon muslimah menjadi dinantikan keberadaannya.

Lewat salon muslimah inipun syiar dakwah bisa dijalankan, bahwa aurat wanita tidak bisa dilihat oleh lelaki non muhrim. Beberapa jenis perawatan seperti cukur bulu mata maupun sambung rambut (hair extension) adalah dilarang dalam Islam sehingga Moz5 salonmuslimah tidak menyediakan perawatan ini dan disampaikan kepada konsumen sebagai wujud dawah kami

_____

Tahun 2010 saya bersama rekan sevisi membuka preschool “Sahabat Bunda” di bekas rumah saya daerah Bandung timur seiring kepindahan kami ke daerah bandung tengah. Semangat memperbaiki generasi yang dimulai sejak usia golden age (balita,pra sekolah) menjadi mimpi berikutnya saya di dunia bisnis pendidikan

Tahun 2011 bersama beberapa rekan lain membuka Galenia Mom n Child Center (GMCC) yang berusaha mensinergikan antara edukasi dan kesehatan dengan layanan preschool dan daycare, klinik dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis anak dan kandungan, layanan babyspa, baby photo studio dan baby gallery

Saya berkeyakinan bahwa usaha/bisnis itu juga berfungsi sebagai sarana syiar islam/dawah. Maka kemudian bisnis haruslah dijalani dengan professional. Semakin banyaknya pengusaha muslim yang amanah tentu saja akan sangat membantu bangkitnya perekonomian Indonesia

 

A: Apa nilai-nilai yang ingin dibangun dalam keluarga ibu & suami?

Bagi saya dan suami keterbukaan dan lancarnya komunikasi menjadi hal utama membangun keluarga

Selain itu, keluarga harus dapat memberi manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, sehingga kontribusi kita dalam beramal dan berdawah juga harus menjadi prioritas

Dalam mendidik anak kami berharap bahwa setiap anak dapat bersinar karena akhlaq dan ilmunya. Maka membangun karakter islami, menstimulus sesuai kecerdasan masing-masing agar dapat optimal menyerap ilmu serta menjadikan belajar sebagai hasrat mereka menjadi PR kami berdua.

Insya Allah “Sahabat Bunda” dan “Galenia” daycare&preschool  berdiri untuk  juga dapat dapat menyebarluaskan mimpi ini , membangun generasi yang kuat sehingga menciptakan lingkungan yang baik untuk anak-anak kita

 

A : Bagaimana kesibukan sehari-hari bunda Iin?

Sama seperti bunda-bunda lainnya. Aktivitas rumah, membantu mempersiapkan anak-anak sekolah, mengantar jemput mereka ke sekolah. Di sela-sela waktu ini saya gunakan untuk mengontrol salon atau sekolah atau mengisi acara atau mengikuti seminar. Selepas anak-anak pulang sekolah,kami sudah berkumpul lagi di rumah

A: Masa-masa awal mendirikan usaha tentu jadi masa kritis, bagaimana ibu dan suami mengelola anak-anak saat itu?

Harus saling support antara suami istri, saat saya perlu waktu lebih mengerjakan bisnis, maka suami yang mengambil alih tugas antar jemput bahkan pengasuhan. Selain itu anak-anak juga diberikan pengertian mengenai aktivitas orang tua.

Catatan penting bahwa prioritas utama kami adalah keluarga. Bisnis dipilih agar kami bisa sangat fleksibel mengatur aktivitas sehingga tetap bisa mengutamakan keluarga

 

A : Suami ibu juga berwirausaha dan cukup sering bepergian, bagaimana dgn family time bersama keluarga?

Suami menjalankan bisnis jauh sebelum saya diajak terjun ke dunia bisnis juga dan padatnya aktivitas baik di dalam maupun di luar kota harus diketahui seluruh penghuni rumah. Maka saat ada waktu di rumah, anak-anak memanfaatkannya dengan bermain sepuas-puasnya bersama ayah mereka. Selama diluar kota, komunikasi lewat telpon juga tetap dilakukan untuk mnjaga ikatan. Alhamdulillah anak2 bisa dibilang sangat dekat dengan abinya  :)

 

A : Ibu sepertinya sangat kompak dengan suami, bagaimana ibu dan suami membangun kekompakan?

Kompak? Itu terbentuk dg proses dan waktu. Butuh transfer ide dan wacana yg intens. Jadi kuncinya ya ngobrol terus dg pasangan kita.

Saya pada awalnya termasuk yang resisten menjalani bisnis, banyak khawatir, ragu dan takut *karena nggak punya latar belakang bisnis sama sekali* jadi kalau suami sedang mewacanakan rencana bisnis, saya yang bagian mengkritisi kemungkinan gagalnya,hehe. Tapi suami membiarkan saya berproses, tanpa lelah membicarakan bisnis, meskipun ternyata rugi besar sekalipun ataupun ditipu orang. Ternyata itu yang mendewasakan cara pandang saya terhadap bisnis hingga akhirnya berani mencoba, berani belajar, berani eksekusi dan akhirnya ketagihan..

ohya, salah satu latar belakang penting lain kenapa kami memilih bisnis adalah analisis sosiolog David Mc Clelland yang menyatakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) setidaknya 2% dari jumlah penduduk. Kondisi sekarang di Indonesia, jml pengusaha baru 0,18% dari jumlah penduduk (kurleb 240 juta jiwa). Coba bandingkan dengan China+jepang 10% atau AS 11,5%.

Pengusaha menjadi penting karena merupakan pihak yang secara ekonomis menanggung elemen masyarakat lain yang bukan pengusaha. Saat ini jumlah perempuan potensial berdasar usia jumlahnya 49%, sedangkan jml pengusaha wanitanya hanya 1%. Berarti masih sangat dibutuhkan jumlah yang banyak untuk membuat Negara ini maju dan mandiri. Dengan menjadi pengusaha, kita membantu diri kita sendiri untuk tidak menjadi beban bagi orang lain yang tentu saja juga membantu perekonomian Negara.

 

A : Bagaimana perkembangan usaha-usaha ibu saat ini?

  1. Kursus Sempoa dan B. Inggris diserahterimakan pada tetangga untuk dikelola seiring dengan kepindahan saya 2010. Banyak siswa yang masih kursus dan saya berprinsip jangan sampai mereka jadi berhenti belajar karena saya pindah rumah. Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang
  2. Rumah digunakan untuk membuka Tk,Pg dan baby school “Sahabat Bunda” tahun 2010 bersama rekan kepercayaan
  3. Moz5 salon muslimah Bandung membuka cabang kedua di MTC dan cabang ke3 di Turangga tahun 2010
  4. Tahun 2011 bersama teman2 membuka Galenia Mom n Child Center

 

A : Apa pesan ibu untuk para ibu lain yang memulai usaha?

Wirausaha adalah proses belajar tiada henti. Dari tiap jenis usaha kita akan belajar hal baru, dan bagi saya hal inilah yang sangat menggairahkan.

1.Saat berencana terjun dalam suatu jenis bisnis, jangan lupa untuk meminta petunjuk pada-Nya dengan istikharoh agar kita selalu dibimbingNYa.

2.Setelah bisnis mulai dijalankan, harus dikelola secara profesional.

3.Harus berani mengambil resiko sebagai proses belajar.

4.Banyak sharing dengan teman-teman lain sesama pengusaha untuk saling mendukung

5.Lakukan analisa pasar dan analisa produk kita sebagai ikhtiar maksimal menciptakan pelanggan dan menjaganya

 

2 Comments

    1. Sami2 t isti, semoga bermanfaat..
      Saya belajar bahwa sharing itu menguatkan, smg dengan semakin banyak yg berbagi tentang pelajaran positif hidupnya membuat ummat ini makin kuat yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s