Bersinarlah Dengan Akhlaq dan Ilmumu, Anakku..

Dalam sesi konseling dengan praktisi pendidikan di G, evaluasi portofolio Bujang dan Bocah…

Bujang hampir masuk usia SD di tahun ini dan masih ada beberapa kompetensi terkait kemandirian yang belum tuntas. Ternyata semuanya bermula dari ‘kehati-hatian’ miliknya..

Kalau disisir sejak awal, betapa semua aktivitas ‘jorok-jorokan’ selalu dia hindari. Bermain pasir, menempel prakarya menggunakan lem di tangan, finger painting.. semuanya tidak clean. Maka sensor taktil di tangan pernah sangat harus distimulasi masa balitanya, karena Bujang menolak melakukan hal ‘kotor’ itu.

Usia 6 tahun ini, alhamdulillah seiring dengan pembiasaan dan media di sekolah, maka bermain pasir, mengelem, sudah bisa teratasi. Kemandirian makan sendiri yang membutuhkan kekuatan menyendok -dan merupakan modal pra tulis, masih perlu banyak motivasi. Umminya harus mengawal hal ini. Belum bisa naik sepeda roda dua juga karena faktor kehati-hatiannya. Masih kesulitan meminjamkan mainan/barang pribadi miliknya juga karena dia khawatir barangnya akan dirusak temannya. Bujang menganalisis kemungkinan yang akan terjadi dengan sangat hati-hati.

Bunda menggambarkan di masa depan nanti, kita harus sangat mendukung jika Bujang berada di suatu gedung tinggi yang putih dan bersih. Entah menjadi analis, atau sebagai pelaku riset. Soal menjadi kurang laki-laki jangan sampai dipermasalahkan, karena untuk urusan beberapa aktivitas fisik seperti berlari, melompat tinggi, koprol, baling-baling dsb, Bujang sangat antusias dan bisa menjadi yang terdepan diantara teman-temannya. Dia hanya perlu pembiasaan. Agak sulit memulai sesuatu hal yang baru, persis seperti urusan mencoba jenis makanan baru dan hampir membuat ummi frustasi😀

Maka, tugas seorang ibu untuk mengcover perasaannya, dijaga dengan hati-hati dari labelisasi sekelilingnya : “Laki-laki kok cengeng”, “Anak laki kok gak bisa main sepeda”, “Anak laki harus pede, gagah, dsb” Ini pada titik ekstrim akan bisa menyentuh ketidaknyamanan seseorang dan membuatnya tidak mau menjadi lelaki. @_@

Cari saja zona-zona nyaman si Bujang, karena dia akan berteriak lantang pada suatu scene yang dia kuasai : “Aku udah bisa ini.. ” “Aku punya ini…” Temukan sebanyak mungkin hal ini hingga dia merasa sangat nyaman pada dirinya. Emosinya harus sangat dijaga dan dicover oleh lingkungannya, dan tidak ada tempat sebaik keluarga.

Bersyukur atas potensinya ini yang tidak terlalu bermasyarakat ataupun menjadi si Bolang, karena tentu dia akan menjadi penjaga keluarga, merawat ibunya di hari tua nanti. Aaamiin..

Jangan bandingkan dengan si Gadis yang bisa dikatakan sangat bertolak belakang : dengan super pedenya, dengan komentar-komentar tajamnya yang sangat spontan keluar dari mulutnya. Dengan kecuekan di level tertinggi hingga jika dibantai hatinya, masih diperlukan beberapa pengulangan baru akhirnya terjatuh. Yang sangat bisa memanipulasi orang hingga mau mengerjakan yang dimintanya. Masih terbayang jelas si Bujang berpeluh banjir turun naik tangga rumah, dan begitu ummi bertanya, dengan lantang serta bangganya Bujang berkata : “Aku sedang jadi pengawal mi, Sang Ratu Gadis minta diambilkan minum lagi”  *_*

Maka bayangan tentang Gadis adalah: seorang eksekutor cepat, leader, sangat cocok dan bisa berada di masyarakat.

Lalu bagaimana dengan Bocah? Linguistiknya yang sangat kuatlah yang membuatnya bersinar disekitarnya. Dia bisa bertanya berulang tentang suatu hal, kenapa begini, kenapa begitu, bisa mengarang lagu dengan mengganti syair, karena yang penting baginya bukan irama musik, tapi konten isi lagunya yang terdiri dari kata-kata. Betapa semua aktivitas harus ada cerita di baliknya sehingga baru dia mau ikut aktif bergabung. Untuk motorik masih perlu dimotivasi juga..

Duh Rabbi.. mereka tiga anak berasal dari rahim yang sama, tetapi memiliki karakter khas yang berbeda.

Dan aku pastilah ibu yang terbaik bagi mereka sebagaimana Kau titipkan mereka padaku.. Maka bantulah hamba terus belajar menjadi orang tua terbaik itu, yang menghormati perasaan anak, yang bisa mendampingi mereka tulus tanpa ada prasyarat, yang bisa membimbing mereka untuk semakin mengenal dan mencintai-Mu, yang bisa membuat mereka bersinar dengan akhlaq dan ilmunya..

Maka Allah, tolong jangan wafatkan diriku sebelum anak perempuanku menemukan imamnya, dan anak lelakiku menjadi imam bagi keluarganya, dan mereka memberikan cucu untuk juga bisa aku ajak mengenalMu.. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s